KAPOL.ID — Wakil Bupati (Wabup) Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi terus mengawal status siaga kekeringan. Seperti pada Jumat (17/7/2027), ia memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Mitigasi Dampak Kekeringan.
Dalam rapat tersebut hadir antara lain Asisten Daerah Bidang Pemerintahan, Rubi Azhara; Kepala Pelaksana BPBD, Roni; perwakilan SKPD, para camat hingga pihak-pihak terkait lainnya. Dengan demikian sinergitas lintas sektoral semakin memudahkan penanganan bahaya kekeringan.
Kekeringan ini memang menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Apalagi ada prediksi bahwa akan terjadi penurunan curah hujan dari Agustus hingga akhir September 2026.
“Kami menggelar Rakor dengan lintas untuk memastikan kebutuhan mendasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah ancaman krisis air bersih,” terang Asep Sopari.
Bagi Asep Sopari, kekeringan merupakan fenomena yang terprediksi sejak awal. Sebab di Indonesia sudah seperti siklus tetap. Sekalipun demikian, pada waktunya tetap saja menimbulkan kekhawatiran munculnya gejolak sosial dan ekonomi.
Atas dasar itu, politikus Partai Gerindra ini terus mengingatkan semua pihak, terutama BPBD, untuk terus waspada penuh. Ia menekankan agar langkah taktis diutamakan untuk sektor pertanian guna menjaga stabilitas ketahanan pangan.
“Sektor pertanian harus jadi salah satu yang utama. Aktifkan pompa-pompa air di wilayah rawan. Jika mendesak, pompa air ini juga untuk menanggulangi kebutuhan rumah tangga: mandi, cuci dan kakus atau MCK,” lanjut Asep Sopari.
Menangani kekeringan juga merupakan bentuk kewaspadaan jelang pergantian musim di kemudian hari. Tanah gersang yang retak akibat kekeringan berpotensi menjadi bom waktu yang dapat meledak saat musim hujan.
Maksudnya, bencana kekeringan bisa berubah menjadi bencana longsor, terutama pada lereng-lereng. Karena itu butuh refleksi mendalam kenapa fenomena tersebut nyaris selalu berulang.
“Sepertinya kita perlu merenungi bersama. Di satu sisi kita biasa mengalami hujan cukup panjang, tetapi kemudian kekeringan melanda bahkan saat kemarau baru sebulan. Ini jelas ada yang keliru dan harus kita perbaiki,” tambah Asep Sopari.
Kuncinya ada pada konservasi alam. Air hujan harus tersimpan dalam tanah. Sehingga menjadi cadangan saat kemarau tiba.







