BIROKRASI

‘Ujungjaya’ dan Absennya Dedi Mulyadi: Ketika Ketakutan Politik Mengalahkan Harapan Petani

×

‘Ujungjaya’ dan Absennya Dedi Mulyadi: Ketika Ketakutan Politik Mengalahkan Harapan Petani

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE – Riuh rendah mesin perontok padi dan hamparan emas gabah di Desa Palasari, Kecamatan Ujungjaya, Sumedang, Jum’at (17/7) seketika diselimuti atmosfer magis yang pekat.

Agenda Panen Raya Padi yang semula dirancang sebagai panggung besar penyambung rasa antara rakyat dan figur pemimpin yang mereka damba, Dedi Mulyadi (KDM) berubah menjadi monumen kesunyian yang sarat tanya.

KDM tidak muncul. Ia memilih mengirimkan pasangannya, Erwan Setiawan, untuk melangkah di atas tanah sawah itu.

Bagi masyarakat agraris Ujungjaya, absennya sang tokoh bukanlah perkara disposisi birokrasi yang buntu atau benturan jadwal protokoler yang padat.

Di bawah tanah lempung yang mereka pijak, ketidakhadiran ini justru menjadi konfirmasi nyata atas eksistensi kekuatan gaib yang telah lama bersemayam dalam nalar kolektif Sumedang: Kutukan Ujungjaya. Sebuah kekuatan tak kasat mata yang terbukti jauh lebih ditakuti ketimbang hilangnya simpati ribuan pemilih.

Secara etimologi, “Ujungjaya” adalah kombinasi kata yang mengerikan bagi para pemburu kekuasaan. Ujung (batas akhir) dan Jaya (kejayaan) bersekutu membentuk ramalan metafisika yang dingin: tanah ini adalah titik nadir di mana masa keemasan seorang penguasa akan menemui “ajalnya”. Mitos lokal telah menggariskan hukum besi: siapa pun pemimpin tingkat provinsi maupun kepala negara yang berani menantang tanah ini dengan menginjakkan kakinya, karier politiknya akan segera runtuh.

Sejarah mencatat, satu-satunya pemimpin nasional yang berani menerobos tabu kosmik ini adalah Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, saat menghadiri pesta panen raya di wilayah tersebut.

Alih-alih mematahkan kutukan, sejarah justru mencatat anomali yang tragis: pasca-kunjungan tersebut, Megawati takluk dalam kontestasi Pilpres secara berturut-turut. Bagi masyarakat yang memelihara mistisisme politik, kekalahan Megawati adalah stempel sahih yang tak terbantahkan.

Ketakutan akan jerat metafisik ini bahkan merayap ke dalam kebijakan infrastruktur modern negara.

Publik tentu ingat ketika Gerbang Tol Ujungjaya secara mendadak diubah namanya menjadi Gerbang Tol Cisumdawu Jaya menjelang peresmian oleh Presiden Joko Widodo. Sebuah manuver bahasa yang dibaca banyak pihak sebagai “diplomasi spiritual” tingkat tinggi sebuah kepatuhan terselubung demi menghindari kutukan nama Ujungjaya.

“Kekuasaan yang Berlutut pada Takhayul”

Bagi para petani di Palasari, Ujungjaya Sumedang, panen raya adalah hari raya kehidupan. Kehadiran para pemimpin awalnya diharapkan menjadi validasi atas peluh dan keringat mereka yang selama ini menyangga ketahanan pangan daerah.

Namun, harapan itu patah di tengah sawah. Kekecewaan mendalam pun tak mampu disembunyikan dari raut wajah warga yang merasa pemimpin mereka lebih memilih berlindung di balik “benteng takhayul” ketimbang menemui rakyatnya.

“Kami menunggu dengan tangan terbuka, tapi sepertinya takhta lebih berharga daripada menemui kami di tanah ini,” bisik salah seorang petani di sela-sela gemuruh mesin perontok padi.

Secara sosiologis, fenomena ini memperlihatkan kontras yang tajam sekaligus ironis dalam lanskap politik modern Indonesia. Di satu sisi, para politisi kerap tampil sangat rasional berkampanye berbasis data ilmiah, algoritma kecerdasan buatan, dan survei elektabilitas digital.

Namun di sisi lain, ketika dihadapkan pada ketakutan primordial terhadap mitos lokal, rasionalitas itu runtuh seketika. Mitos rupanya masih memiliki daya tawar yang jauh lebih kuat dalam menentukan arah langkah kaki mereka.

Pada akhirnya, Panen Raya Palasari tahun ini mengirimkan pesan sunyi namun tajam dari pelosok Sumedang: bahwa di mata sebagian penguasa, kutukan tanah Ujungjaya ternyata jauh lebih nyata dan menakutkan ketimbang harapan hangat dari rakyat yang menanti mereka di bawah terik matahari. (Guh)***