KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Ada pesan sarat makna yang disuarakan Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, di balik kemeriahan ajang West Java Paragliding Championship (WJPC) 2026.
Di mata kepala daerah yang akrab dengan masyarakat ini, olahraga paralayang bukan sekadar aksi menaklukkan ketinggian udara, melainkan sebuah ruang refleksi untuk menempa keberanian, kepercayaan diri, hingga ketajaman membaca dinamika keadaan.
Penegasan tersebut disampaikan Bupati Dony saat membuka secara resmi gelaran WJPC 2026 di Pendopo Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Minggu (13/9/2026).
Ajang bergengsi yang dihelat pada 12 hingga 20 September 2026 ini menyedot perhatian dunia internasional. Tercatat sebanyak 88 pilot paralayang tangguh dari 13 negara ambil bagian, meramaikan langit Sumedang yang terdiri dari 55 pilot mancanegara dan 33 pilot terbaik tanah air.
Di hadapan para peserta dari berbagai belahan dunia serta jajaran aparatur pemerintah, Bupati Dony mengajak seluruh warga Sumedang, khususnya para Aparatur Sipil Negara (ASN), untuk memetik sari pati filosofis dari olahraga dirgantara yang sangat bergantung pada kepekaan membaca arah angin tersebut.
“Dalam paralayang, orang memiliki keberanian untuk menantang angin. Memiliki kepercayaan diri untuk terbang tinggi dan kemampuan membaca arah angin,” ujar Dony
Ia menguraikan, filosofi tersebut memiliki garis linear yang sangat kuat dengan realitas kehidupan sehari-hari maupun tata kelola pemerintahan. Setiap insan, kata dia, pasti berhadapan dengan turbulensi tantangan dan gelombang perubahan zaman. Karena itu, mutlak dibutuhkan keberanian mengambil langkah strategis, diiringi kecermatan tinggi dalam menentukan haluan.
“Bagi kita sebagai ASN, sebagai warga Sumedang, bagaimana mengambil hikmah dari paralayang ini. Kita berani menghadapi tantangan, berani melompat maju ke depan dan bisa lebih bijak membaca arah zaman,” tuturnya.
Menurut Dony, kompetensi seorang pilot paralayang sejati tidak sekadar diukur dari nyali saat lepas landas. Lebih dari itu, mereka dituntut memahami karakter angin, menghitung presisi waktu, menjaga stabilitas keseimbangan, hingga mengeksekusi keputusan secara cepat dan tepat di udara.
Nilai-nilai kedisiplinan inilah yang dinilai sangat selaras dengan ikhtiar pemerintah bersama elemen masyarakat dalam mengarungi gelombang perubahan zaman.
Pelajaran pertama yang bisa ditarik adalah mentalitas berani menghadapi tantangan
Sebagaimana seorang pilot yang takkan pernah mengangkasa tanpa keberanian, sebuah kemajuan daerah pun mustahil terwujud tanpa keberanian melangkah menembus batas kebiasaan lama.
Kedua, menumbuhkan kepercayaan diri untuk terbang lebih tinggi. Setiap individu maupun entitas daerah wajib memelihara optimisme kolektif guna mendongkrak kapasitas dan menggapai target-target pembangunan yang lebih ambisius.
Ketiga, ketajaman membaca arah zaman. Seorang pilot profesional mustahil memaksakan kehendak melawan amukan angin; ia harus mampu membaca situasi objektif dan mengkalibrasi strategi agar tetap selamat dan terbang stabil.
“Berani menantang, menghadapi tantangan. Berani untuk melompat maju ke depan dan kita bisa lebih bijak membaca arah zaman,” cetus Dony.
Tidak berhenti pada dimensi filosofis pribadi, Bupati Dony melihat WJPC 2026 menyimpan esensi diplomasi kultural yang kuat. Kehadiran puluhan penerbang lintas negara yang melebur di bumi Sumedang membuktikan bahwa batas-batas teritorial seketika runtuh di bawah kolong langit yang sama.
Olahraga terbukti ampuh merajut tali persahabatan dan kolaborasi global tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, maupun latar belakang budaya.
“Hari ini di langit Sumedang berkumpul 13 negara. Ternyata olahraga bisa menyatukan bangsa-bangsa tanpa batas. Saksinya adalah di langit Sumedang,” ungkapnya
Langit Sumedang kini bertransformasi menjadi ruang perjumpaan kultural. Para pilot yang datang dari penjuru bumi membawa satu nafas dan tujuan yang selaras: terbang, berkompetisi, meresapi keindahan alam, sekaligus merajut simpul persaudaraan abadi.
Oleh karena itu, WJPC dipandangnya melampaui batas kompetisi kecepatan atau rekor ketinggian semata. Event ini membawa misi besar bagaimana ragam perbedaan dapat dipertemukan secara harmonis dalam sebuah wadah positif.
Menutup rangkaian sambutannya, Bupati Dony menaruh harapan besar agar spirit pantang menyerah yang dipamerkan para peserta international ini mampu menular dan menginspirasi warga Sumedang untuk terus bergerak progresif.
Kombinasi antara keberanian menghadapi ujian, ketepatan membaca perubahan, serta gairah untuk terus mengangkasa merupakan fondasi esensial dalam mengakselerasi pembangunan daerah.
Terlebih, momentum WJPC 2026 menjadi instrumen promosi strategis untuk menduniakan pariwisata Sumedang. Eksotisme kawasan Batu Dua, kemegahan bendungan Jatigede, serta sebaran destinasi wisata potensial lainnya menjadi modal kultural dan geografis untuk melambungkan nama Sumedang di kancah internasional.
“Jangan hanya datang sekali. Datang lagi ke Sumedang dan bawa teman-teman, keluarga serta komunitas kalian untuk terbang bersama di Sumedang,” pungkas Dony (ZS)






