KAPOL.ID –
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) De La Tina menerapkan penggunaan segel pada wadah makanan atau ompreng. Untuk memastikan keamanan makanan sampai ke penerima.
“Kita sudah mulai menggunakan segel pada ompreng MBG. Kita juga menekankan kepada pihak di lapangan, apabila segelnya tidak ada atau lepas, jangan dikonsumsi,” kata Asisten Lapangan (Aslap) SPPG De La Tina, Heri Heryanto, Senin (28/9/2026).
Pihaknya juga menyiapkan dua armada kendaraan untuk ke sejumlah sekolah di wilayah pelayanan. Satu armada menggunakan mobil Gran Max untuk melayani wilayah Kutawaringin dan Padarincang.
Sedangkan armada lainnya menggunakan mobil APV untuk wilayah Desa Bantarwangi dan Desa Sukamulya.
Proses distribusi dilakukan lebih awal agar makanan dapat diterima penerima manfaat sebelum melewati batas waktu layak konsumsi.
“Kita mengacu pada label batas layak konsumsi. Untuk porsi kecil maksimal pukul 10.00, sedangkan porsi besar pukul 11.00.”
“Jadi secara teknis pendistribusian kita lebih cepat dari waktu batas layak konsumsi. Ada 10 ompreng cadangan juga untuk antisipasi tumpah atau bocor,” jelasnya.
Dapur MBG tersebut berlokasi di Desa Padaringan, Dusun Rataharja, RT 14/RW 04, Kecamatan Purwadadi Kabupaten Ciamis.
Ditunjang sejumlah sertifikasi dan fasilitas pendukung diantaranya, sertifikat halal, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta sertifikasi penjamah makanan.
Selain itu, dapur dilengkapi sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biofilter Anaerobik BIOFAL yang telah bersertifikat ISO.
Terima masukan
Pihaknya membuka ruang bagi penerima manfaat, guru, maupun orang tua untuk menyampaikan masukan terkait pelaksanaan distribusi MBG.
Menurutnya, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah perbedaan selera makanan pada masing-masing penerima manfaat.
“Kita selalu merespons usulan dari penerima manfaat apabila memang bagus untuk menunjang perbaikan di dapur. Seperti rasa, porsi, maupun kondisi makanan,” katanya.
Heri mengatakan dirinya turut memantau proses distribusi melalui sistem tersebut dan melakukan pemantauan langsung di lapangan.
“Untuk pelaporan kita sudah menggunakan aplikasi, sistem online. Secara fisik juga ada pelaporan kepada PIC melalui surat jalan. Termasuk surat penerimaan dan pengembalian ompreng,” ujarnya.
Kurir memiliki aplikasi pelaporan yang mencatat jumlah ompreng yang dikirim dan jumlah wadah yang kembali dari sekolah.
Sistem tersebut digunakan untuk membantu memastikan jumlah wadah yang kembali sesuai dengan jumlah yang telah didistribusikan.
“Kualitas makanan, ketepatan waktu distribusi, kondisi armada, serta keluhan dari penerima manfaat disampaikan ke Kepala SPPG dan Pengawas Gizi,” ujarnya. ***











