OPINIPENDIDIKAN

Tasik Kota (Satelit) Pendidikan

×

Tasik Kota (Satelit) Pendidikan

Sebarkan artikel ini

Oleh Nizar Machyuzaar

(Mata Pelajar Indonesia, Co-Working Civil Education Empowering)

 

Kota
Terma kota selalu mengelak didefinisikan secara ajeg. Sebagai kata, kamus membatasi kota dalam pengertian geopolitik dengan motif sektor ekonomi pemantiknya.

Turunannya, dinamika kehidupan masyarakat kota dalam beragama, berpolitik, bersosial, dan berbudaya bergeser ke ranah modern yang didorong daya rasionalisasi masyarakatnya.

Dalam masyarakat perkotaan, paralogis seperti takhayul dan sebagainya lebih dipandang sebagai kearifan lokal imanen, terpisah dari pemenuhan atas hajat hidup sandang, pangan, dan papan. Yang terakhir ini lebih dikenal dengan intensi material dalam orientasi kebudayaan dan cenderung sekuler.

Terma Kota berbanding lurus dengan kata pembangunan –yang sering direduksi hanya dengan acuan material saja. Sebuah kota sahih terlihat secara kasat mata dari gedung-gedung megah nan tinggi.

Selain itu, secara demografis, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat: (a) jumlah penduduk bertambah pesat; (b) keahlian dan lapangan kerja bervariasi, terutama di sektor jasa; dan (c) sirkulasi barang/jasa yang menandai perputaran transaksi finansial tinggi.

Namun, takjarang kota gagal dalam mendefinisikan dirinya sendiri. Kota menjadi hanya kerumunan bangunan dan orang dengan keramaian pasar. Kota takmampu mengidentifikasi segala kekayaan sumber daya manusia dan alamnya menjadi sebuah identitas –pelabelan atau penamaan. Kita sering mendengar kata kota dengan label metropolitan, industri, budaya, agraris, pendidikan, dsb.

Tuah Sejarah
Tasikmalaya dikenal sebagai Kota Seribu Bukit. Ungkapan ini dimaksud tidak hanya menggambarkan betapa banyaknya bukit, tetapi juga betapa memesonanya keelokan dan kesuburan alam Priangan Timur.

Lain halnya jika bepergian ke luar kota, orang akan menyebut, “Ow, Anda dari Tasik, Kota Kredit ya!” Ungkapan ini muncul karena orang Tasikmalaya menyebar ke seantero Nusantara untuk mencari peruntungan ekonomi dengan usaha kredit barang sehari-hari.

Tasikmalaya dikenal juga sebagai Kota Santri  karena ribuan pesantren sejak zaman baheula sampai pun sekarang berkontribusi membangun peradaban Tasikmalaya.

Apakah mungkin keberadaan pesantren dan kiai beranalog dengan rumah peribadatan (pura) dan orang alim bestari (resi) di zaman baheulanya baheula? Meski bukan sumber sejarah primer, informasi dalam naskah Siksa Kandang Karesian bisa menjadi informasi awal untuk meneliti muasal tatar Priangan Timur sebagai pusat penyebaran agama sejak baheulanya baheula.

Bagi kita, yang sekarang hidup di bagian daun, ingatan sejarah menjadi sumber kesadaran untuk menyusuri ranting, dahan, dan batang pohon sejarah sampai ke aka-akarnya.

Betapa pun takkasat matanya sebuah informasi sejarah, prinsip kausalitas (meski spekulatif) akan memberi makna pada orientasi hidup selanjutnya. Boleh jadi, uangkapan Sukapura Ngadaun Ngora adalah prinsip atau pandangan hidup yang dinamis manusia tatar Priangan Timur karena tuah sejarahnya.

Sebuah Ilustrasi 
Salah satu monumen paling mengesankan atas kedinamisan masyarakat Tasikmalaya adalah Gedung Bank Indonesia. Gedung bertingkat dan megah ini berdiri di salah satu jalan utama kota.

Di sinilah  simbol keberhasilan pembangunan, yakni perputaran transaksi finansial di Tasikmalaya dan sekitarnya. Monumen ini bisa menjadi satu alasan mengapa Kota Administratif Tasikmalaya di tahun 2001 memisahkan diri dari induk semangnya, yaitu Kabupaten Tasikmalaya.

Satu gedung lain yang mesti disebut yang menegaskan masyarakat perkotaan Tasikmalaya adalah kompleks Gedung Universitas Siliwangi. Apalagi, status penegerian lembaga pendidikan ini telah menambah privilege kota karena memiliki pusat kajian keilmuan.

Sayangnya, keberadaan universitas negeri ini tidak dibarengi dengan pendirian lembaga kepustakaan yang komprehensif, yang mencirikan Kota Santri dengan khazanah pemikiran pesantren dan kitab kuning.

Mungkin, deretannya menjadi panjang jika ditambah dengan gedung-gedung lainnya, seperti Bandara Wiriadinata, hotel, mall, objek wisata dan kuliner, sekolah boarding atau pesantren modern, perkantoran, dll. Semua menandai tempat kerumunan dan keramaian.

Apalagi, jika kita berjalan-jalan mengelilingi kota pada malam minggu. Jalan protokol kota dipenuhi sepeda motor sebagai bentuk istirah dari kesibukan dan kejenuhan rutinitas masyarakat kota.

Kotak Pandora
Ilustrasi di atas adalah buah dari rencana strategis pembangunan Pemerintah Kota Tasikmalaya selama ini. Ada beberapa produk hukum yang menyertainya, seperti Perda Nomor 7 tahun 2014 tentang Tata Nilai.

Perda ini menegaskan sebuah usaha revitalisasi Tasikmalaya sebagai Kota Santri dengan nilai-nilai religi keislamannya.

Penulis beranggapan bahwa sebuah konsekuensi logis Tasikmalaya yang memang geulis dari baheula semakin mempercantik diri dalam pembangunan agar setara dengan kota-kota lain.

Sebuah transformasi sosial budaya dari Kota Santri ke Kota Pendidikan (jika sepakat dengan label ini) mulai disadari masyarakatnya. Tentu, hal ini membutuhkan daya dukung pemegang kebijakan, yaitu pemerintah.

Sebabnya, ibu kota provinsi selalu menjadi pusat pendidikan. Di sekitar ibu kota provinsi akan tumbuh kota alternatif pendidikan seperti Surabaya dengan Malang dan Jember, Semarang dengan Solo dan Purwokerto, atau Jakarta dengan Debotabek.

Tasikmalaya (dan juga Cirebon) memiliki peluang menjadi daerah alternatif untuk orang menempuh pendidikan. Setidaknya, ada tiga lembaga perguruan tinggi berstatus negeri.

Ada banyak beroperasi sekolah tinggi swasta. Belum lagi ada banyak pesantren dengan pengelolaan tradisional dan modern. Kota Tasikmalaya menjadi  Kota Satelit Pendidikan dengan Bandung sebagai pusatnya.

Tentunya, sebuah perangkat hukum formal semacam rencana strategis (atau apa pun namanya) di bidang pendidikan mesti mulai digulirkan pemangku kebijakan. Sebabnya, Tasikmalaya bisa bersanding dengan Bandung, Yogyakarta, Malang, Solo, atau Jember sebagai Kota Pendidikan.

Ilustrasi ini bukan kotak pandora, tetapi harapan yang diam-diam sedang berjalan dengan sendirinya.

Mangkubumi, 11 September 2020.