KAPOL.ID-
Wajah sumringah tampak memancar dari siswa-siswi SMAN 1 Karangnunggal (SMANKA) Kabupaten Tasikmalaya.
Selama pandemi Covid-19, sekitar 1,5 tahun siswa SMANKA tidak pernah belajar tatap muka pakai seragam sekolah.
Kini mereka bisa belajar tatap muka, kendati dengan aturan prokes yang ketat.
Dinabi Akbar, siswa 12 IPA 2 mengaku, sangat bersyukur bisa belajar tatap muka.
Dia berharap pembelajaran tatap muka (PTM), bisa terus berlangsung normal seperti sebelum terjadinya pandemi.
“Bagaimanapun belajar tatap muka di sekolah lebih baik dari belajar di rumah,” ucap Dinabi yang akrab disapa Abi.
Belajar daring di rumah kata Abi, cukup menjenuhkan. Sulit berkomunikasi dengan guru atau dengan teman lainnya.
Dan yang cukup memberatkan tidak semua orang tua siswa mampu membeli kuota. Apalagi yang sulit menerima sinyal dan tidak punya handphone.
Dia berharap sejatinya memilih belajar di sekolah lebih diutamakan daripada di rumah.
Ditempat yang sama, Noviana Anggraeni memilih lebih suka belajar di sekolah.
“Belajar di rumah kesulitan jika ada pelajaran yang memerlukan penjelasan dari guru langsung,” jelas Novita.
Kepala SMANKA Aji Permana menjelas uji coba PTM sudah berlangsung sekitar tiga minggu dengan menerapkan prokes yang ketat.
“Tidak seluruh siswa bisa belajar tatap muka, sesuai dengan arahan dari Dinas Pendidikan Prov. Jabar juga arahan dari Dinas Pendidikan Kab Tasikmalaya.”
“Hanya sekitar 50 % siswa yang hadir secara bergilir,” jelas Aji.
Ditambahkan Aji, dari sekitar jumlah siswa SMAN 1 Karangnunggal 1400 siswa terdiri dari kelas 10, 11 dan 12.
Hanya 400 siswa yang PTM, dengan secara bergilir, diatur sesuai dengan kelasnya.
“Setiap siswa hanya duduk dalam satu kursi dan satu meja dengan jarak satu meter.”
“Lalu pakai masker dan disediakan pula untuk cuci tangan, dan yang paling penting terus dipantau agar tidak terjadi kerumunan,” pungkasnya.***












