KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Siapa sangka, anak yang tumbuh di kawasan pelosok pesisir selatan Kabupaten Garut mampu menembus ketatnya seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kabupaten Garut pada Peringatan HUT ke-81 RI tahun 2026.
Adalah Muhamad Raihan Alpa Salam, pemuda asal Pantai Rancabuaya, Garut Selatan, yang sukses membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berprestasi. Putra dari pasangan Warman dan Lilis Sulistiawati ini resmi mengamankan satu posisi di barisan kehormatan Paskibraka Kabupaten Garut.
Keberhasilan Raihan yang kini menimba ilmu sebagai santri murid di MA Unggulan Al Mashduqi International Islamic Boarding School (IIBS) Garut menjadi bukti sahih akan ketahanan fisik, kesehatan yang prima, serta kedisiplinan tinggi yang dimilikinya.
Raihan resmi dikukuhkan oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, bersama anggota Paskibraka lainnya di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Sabtu (15/8/2026) sore.
Santri Berwawasan Global, Berjiwa Nasionalis
Perjalanan Raihan menembus skuad Paskibraka tak lepas dari gemblengan karakter di Al Mashduqi, tempat ia menempuh pendidikan sejak jenjang SMP. Saat ini, Raihan tercatat berada di Cluster Al-Azhar–Timur Tengah, sebuah program peminatan yang dipersiapkan khusus bagi santri yang memproyeksikan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, maupun perguruan tinggi ternama lain di Timur Tengah. Bahkan sejak SMP, ia telah mengantongi Syahadah/Ijazah Al-Azhar Cairo
Uniknya, tradisi santri Al Mashduqi yang menembus Paskibraka Kabupaten Garut ini bukanlah yang pertama. Raihan mengikuti jejak Ardia Zidan, kakak kelasnya di cluster yang sama, yang telah lebih dulu bertugas sebagai Paskibraka Garut pada tahun 2025 lalu
Prosesi pengukuhan Raihan turut dihadiri langsung oleh pihak keluarga, Kepala Pengasuhan Al Mashduqi, wali kelas, guru, serta Ardia Zidan yang hadir memberikan dukungan moral secara langsung.
Kisah Raihan dan Ardia menegaskan bahwa memiliki wawasan global tak lantas melunturkan rasa cinta tanah air. Dari pesisir Rancabuaya dan tempaan Al Mashduqi, Raihan membuktikan bahwa santri siap melangkah menatap dunia tanpa pernah kehilangan akar keindonesiaannya. (***)












