KAPOL.ID – Upaya menciptakan ruang kerja yang setara dan inklusif terus digulirkan di Kota Bandung. Kali ini, UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel berkolaborasi dengan CV Anyatha Indonesia dan Kopi Eyang menggelar pelatihan “Akademi Barista” bagi penyandang disabilitas rungu atau Teman Tuli.
Kegiatan yang berlangsung selama enam hari tersebut melibatkan enam orang alumni warga binaan sosial. Fokus utamanya bukan sekadar meracik kopi, melainkan juga mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui Aplikasi Vocoda AI sebagai jembatan komunikasi.
Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel, Andina Rahayu, S.H., M.H., menegaskan bahwa sinergi ini merupakan langkah konkret dalam meningkatkan kemandirian warga binaan.
“Melalui sinergi ini, kami berharap Teman Tuli tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memiliki akses yang lebih luas untuk berinteraksi dan berpartisipasi secara setara di dunia kerja,” ujar Andina, Rabu (22/4/2026).
Dalam pelatihan ini, Aplikasi Vocoda AI berperan krusial dalam meminimalisir hambatan komunikasi antara Teman Tuli dan masyarakat umum (teman dengar). Teknologi yang dapat diakses melalui laman https://angelica.ml.ambassadors.systems/ ini memungkinkan proses pembelajaran berjalan lebih efektif.
Pihak CV Anyatha Indonesia selaku pengembang menyebutkan, aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan. Target ke depannya, Vocoda AI dapat digunakan secara luas oleh masyarakat sebagai solusi inovatif dalam menjembatani komunikasi inklusif.
Tak berhenti di pelatihan teori dan teknis, para peserta akan langsung terjun ke dunia kerja melalui program magang di Kopi Eyang. Skema magang dilakukan secara bertahap, yakni dua orang per periode, guna memastikan pendampingan yang maksimal.
Dukungan dari Kopi Eyang memberikan kesempatan bagi para peserta untuk merasakan atmosfer kerja nyata. Hal ini diharapkan mampu membangun mentalitas dan kesiapan kerja yang matang sebelum mereka benar-benar terjun secara profesional di industri kreatif dan kuliner.
”Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Dengan sentuhan teknologi dan keberpihakan dari berbagai pihak, lingkungan kerja yang inklusif di Jawa Barat perlahan mulai terwujud.” pungkas Andina (Am)






