OPINI

Asap Memutus Rantai Pasok Pertanian | Studi Kasus Dampak Karhutla 2026 di Kalimantan Barat

×

Asap Memutus Rantai Pasok Pertanian | Studi Kasus Dampak Karhutla 2026 di Kalimantan Barat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Muhammad Arief Budiman, SE., ME., dan Dr. Ir. Eti Suminartika, M.Si. PhD.

Dosen Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran
Jl. Ir. Soekarno KM 21, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45363

Residence: Komp. Bandung Timur Regency XI/2, Kel. Pakemitan, Kec. Cinambo, Kota Bandung, jawa Barat 40296
Kontak: +62.81320.999.599

Latar Belakang

Akar Masalahnya:

Faktor Praktik Pembukaan Lahan dan Manusia:

Konflik Tenurial (Sengketa Lahan): Pembakaran hutan terkadang sengaja dilakukan untuk mengklaim atau menandai batas kepemilikan wilayah tanah yang sedang disengketakan.

Pembukaan Lahan dengan Membakar: Metode slash-and-burn (tebang-bakar) masih sering digunakan oleh oknum perusahaan maupun sebagian masyarakat karena merupakan cara tercepat, termurah, dan paling hemat biaya untuk membersihkan lahan perkebunan.

2. Degradasi dan Pengeringan Lahan Gambut
Gambut Kering yang Mudah Terbakar: Gambut yang kehilangan air akan mengering, menjadi sangat rapuh, dan berubah seperti batu bara yang sangat mudah terbakar. Api di lahan gambut bisa menjalar di bawah permukaan tanah (ground fire) dan sangat sulit dipadamkan.

Pembuatan Kanal (Kanalisasi): Banyak lahan gambut di Kalimantan yang dikeringkan dengan cara dibuatkan parit atau kanal besar untuk keperluan perkebunan kelapa sawit atau HTI (Hutan Tanaman Industri).

3. Penegakan Hukum yang Belum Optimal
Keterbatasan Pengawasan: Wilayah hutan dan konsesi di Kalimantan sangat luas, sementara jumlah personel pengawas di lapangan sangat terbatas.

Lemahnya Sanksi bagi Korporasi: Meskipun regulasi sudah ada, penegakan hukum dan pemberian sanksi tegas (baik pidana maupun perdata) terhadap dalang utama atau korporasi besar yang lahannya terbakar dinilai masih belum konsisten.

4. Faktor Iklim dan Fenomena Alam

Fenomena El Niño: Siklus iklim global ini memicu kemarau panjang dan cuaca ekstrem kering di wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan. Kondisi ini membuat vegetasi menjadi sangat kering dan sangat sensitif terhadap percikan api sekecil apa pun.

Dalam hal ini kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan tidak hanya soal menyusutnya luas hutan/deforestasi, tetapi juga ancaman langsung bagi komoditas pertanian.

Kalimantan Barat sebagai salah satu paru-paru dunia, menjadi provinsi dengan karhutla terluas di Indonesia, yaitu sekitar 38 ribu hektar per Agustus 2026. Titik panas terbanyak ada di ketapang, Kubu Raya, Mempawah, dan Sanggau. Kabut asap menyelimuti 14 kabupaten/kota, dan sekolah di pontianak beberapa kali beralih ke belajar secara daring. Kerusakan ini berlangsung di provinsi yang kehilangan sekitar 61% tutupan hutannya dalam 20 tahun terakhir akibat alih fungsi lahan, penebangan, dan ekspansi sawit.

Dampak dari Hulu ke Hilir
Di hulu, api dan asap mengancam kebun buah dan lahan petani di sekitar titik api.

Satwa seperti orangutan bahkan keluar dari habitat dan masuk ke kebun warga, yang menandakan rusaknya ekosistem pendukung pertanian.

Di tengah, kualitas udara yang buruk dapat mengurangi aktivitas panen, pengangkutan hasil kebun, dan operasional pengolahan. Di hilir, gangguan pasokan dan logistik berpotensi menekan perdagangan komoditas dan pendapatan pelaku usaha.

Secara ekonomi, dari sumber yang saya dapat, sumber tersebut menyebutkan bahwa mereka memproyeksikan dampak karhutla di Kalimantan Barat sekitar Rp 5,7 triliun, terbesar secara nasional, mencakup kontraksi perdagangan dan pertanian. Angka ini proyeksi risiko, bukan kerugian  yang sudah terkonfirmasi.

Dampak asap kebakaran hutan tentu dapat mengganggu rantai pasok pertanian melalui beberapa jalur.

Namun, perlu dibedakan bahwa asap tidak otomatis memutus distribusi dari Kalimantan ke Jawa Barat. Dampak langsung terhadap rantai pasok di Jawa Barat bergantung pada sebaran asap, kondisi cuaca, jalur transportasi, serta keterkaitan perdagangan antar daerah.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dapat menghasilkan asap yang mencemari udara dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan produksi, transportasi, dan perdagangan.

Apabila asap meluas ke wilayah lain atau kebakaran mengganggu jalur logistik dan pusat produksi, dampaknya dapat merambat ke rantai pasok pertanian antardaerah, termasuk Jawa Barat.

Karhutla di Kalimantan Barat adalah kegagalan pasar sekaligus kegagalan kebijakan. Selama membakar lebih murah daripada membuka lahan tanpa api dan lahan bekas terbakar masih bisa dijadikan kebun, insentif untuk membakar akan terus ada.

Maka dari itu menurut saya langkah penting yang harus dilakukan adalalah memutus insentif membakar, yaitu lahan bekas terbakar tidak boleh ditanamu, dan sanksi perlu menjangkau korporasi serta pemilik lahan dengan tegas, bukan hanya pelaku di lapangan.

Lalu yang kedua adalah memulihkan lahan gambut, yaitu pembahasan kembali (rewetting) dan restorasi gambut Ketapang dan Kubu Raya, serta anggaran pencegahan di tingkat desa. Lalu yang ketiga adalah melindungi petani dan rantai pasok, yaitu peringatan dini, asuransi pertanian, dan dukungan pembukaan lahan tanpa bakar petani kecil.

Kasus karhutla di Kalimantan Barat ini memperlihatkan bahwa rantai pasok pertanian bergantung pada kesehatan ekosistem di hulunya. Membakar lahan demi menghemat biaya berarti menukar keuntungan jangka pendek dengan risiko jangka panjang bagi petani, industri, dan perekonomian daerah.

Dampak terhadap pelaku pertanian, bagi: petani, pengepul, distributor, industri pengolahan, pedagang pasar (ritel),  hingga konsumen. Bagi petani, dapat mengakibatkan gangguan aktivitas kerja dan potensi penurunan produktivitas jika terpapar asap. Bagi pengepul dapat mengakibatkan keterlambatan pengumpulan hasil panen dan perubahan jadwal pengiriman.

Bagi distributor, dapat mengakibatkan gangguan transportasi dan peningkatan biaya operasional. Pada pelaku sektor industry, dapat mengakibatkan kekurangan bahan baku jika pemasok terdampak. Bagi pedagang pasar (ritel), dapat mengakibatkan pasokan tidak stabil dan potensi perubahan harga jual.

Terakhir dapat berdampak pada konsumen, yaitu: meningkatkan risiko kenaikan harga dan berkurangnya ketersediaan komoditas tertentu.

Hal yang lebih dikhawatirkan jika gangguan pasokan berlangsung cukup lama, beberapa dampak ekonomi yang dapat muncul adalah:
Harga pangan: harga komoditas tertentu berpotensi meningkat apabila pasokan menurun sementara permintaan tetap.

Pendapatan petani: petani dapat mengalami kerugian apabila hasil panen terlambat dipasarkan atau kualitas produk menurun.

Biaya distribusi: penggunaan jalur alternatif dan tambahan penyimpanan dapat meningkatkan biaya pemasaran.

Ketahanan pangan: daerah yang bergantung pada pemasok luar wilayah berisiko mengalami gangguan pasokan lebih besar.

Efisiensi agribisnis: ketidakpastian pengiriman dapat mengganggu kontrak penjualan, jadwal produksi, dan kegiatan industri pangan.

Strategi untuk mencegah terputusnya rantai pasok:
Memperkuat produksi pangan lokal di Jawa Barat.

Mengembangkan koperasi dan kemitraan langsung antara petani, pedagang, dan industri pengolahan.

Menyediakan gudang, fasilitas penyimpanan, dan rantai dingin bagi komoditas yang mudah rusak.
Mendiversifikasi pemasok dan jalur distribusi antardaerah.

Memantau stok, harga, kualitas udara, serta kondisi transportasi secara berkala.

Memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui koordinasi pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Sumber:
Akibat karhutla, 7 individu orangutan Kalimantan diselamatkan di Ketapang. (2026, 3 September).
Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/

Duh! Lahan bekas karhutla 2.400 hektare di Kalbar mulai ditanami sawit. (2026, 9 September). iNews.id. https://www.rctiplus.com/news/detail/berita-utama/5469181/duh–lahan-bekas-karhutla-2-400-hektare-di-kalbar-mulai-ditanami-sawit

Karhutla 2026 naik 366, kerugian ekonomi tembus Rp123 T. (2026, 2 September).

KabarBursa.com. https://www.kabarbursa.com/ekonomi-hijau/karhutla-2026-naik-366-kerugian-ekonomi-tembus-rp123-t

Kebakaran gambut Kalbar tak kunjung padam. (2026, 31 Agustus). Mongabay Indonesia.

https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/
Ketika kebakaran hutan dan lahan menggila di Kalimantan. (2026, 6 Agustus). Mongabay Indonesia.

https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/ ***