KANAL

Bedah Buku Surga Titipan Warnai Festival Literasi Dispusipda Jabar

×

Bedah Buku Surga Titipan Warnai Festival Literasi Dispusipda Jabar

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat menggelar Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan dalam rangka Bulan Gemar Membaca Tahun 2026, (15 – 17/9/2026).

​Mengusung tema “Mengenal Masa Lalu, Membangun Masa Depan”, perhelatan hari kedua tersebut diisi dengan agenda bedah buku Surga Titipan karya Novi Setia Nurviat, dengan menghadirkan Ateng Kusnandar sebagai penanggap serta penulisnya sendiri sebagai narasumber.

​Dalam pemaparannya, Novi menceritakan perjalanan panjang dunia kepenulisannya. Ia mengungkapkan, sekitar 15 tahun silam saat masih berstatus mahasiswa dengan latar belakang teknologi informasi, dirinya lebih dominan menulis buku-buku bertema teknis.

​Seiring berjalan waktu, arah kepenulisannya berkembang. Pada Juni 2025, ia melahirkan karya berjudul Surga Titipan yang membedah dinamika kehidupan manusia, terkhusus relasi keluarga serta cara pandang seseorang dalam memaknai setiap peristiwa yang hadir dalam hidupnya.

​“Ini bukan tentang kehidupan orang lain, apalagi menghibahi orang lain. Ini tentang keluarga. Esensinya bukan hanya keluarga kecil, tetapi bagaimana setiap kita bisa menyelami Surga Titipan,” ujar Novi di hadapan para peserta. Rabu (16/9/2026)

​Ia menyebutkan, buku yang diterbitkannya tahun lalu itu kini telah didistribusikan dan dibahas ke berbagai penjuru daerah di Indonesia. Jangkauannya bahkan telah membentang dari Sabang hingga Merauke, serta mulai dikenal oleh masyarakat tanah air di luar negeri.

​Sebagai bentuk apresiasi terhadap dunia literasi, Novi menyampaikan bahwa versi elektronik (e-book) Surga Titipan dapat diakses secara gratis. Dirinya berharap gagasan di dalam buku tersebut bisa dibaca oleh lebih banyak kalangan dan membawa manfaat luas bagi masyarakat.

​Memaknai Segala Sesuatu sebagai Titipan
​Gagasan utama yang diusung dalam Surga Titipan mengajak para pembaca untuk memandang segala hal yang dimiliki di dunia ini sekadar sebagai titipan, bukan hak kepemilikan mutlak.

​Novi mengilustrasikannya melalui analogi seorang tukang parkir. Seorang tukang parkir tentu tidak akan merasa kehilangan manakala kendaraan mewah yang dititipkan kepadanya diambil kembali oleh pemilik aslinya.

​Perspektif serupa, kata dia, selayaknya diterapkan dalam keseharian. Mulai dari anak, keluarga, pekerjaan, harta benda, hingga pencapaian hidup pada hakikatnya merupakan amanah yang dipercayakan untuk dijaga sebaik-baiknya.

​“Kita harus belajar bahwa semua yang Allah titipkan pada kita, yang hari ini kita pegang dan bersama kita, adalah titipan. Sehingga ketika titipan itu Allah ambil kembali, tidak akan ada rasa sakit hati kita,” tuturnya.

​Ia juga mengingatkan agar setiap insan tidak lekas jumawa atau menganggap seluruh pencapaian semata-mata hasil kerja keras pribadi. Menurutnya, keberhasilan seseorang kerap kali turut dibentuk oleh kekuatan doa dari orang lain.

​Novi merangkum hakikat hidup manusia dalam tiga pilar utama: hidup dengan berdoa, hidup mendoakan sesama, serta hidup karena didoakan oleh orang lain.

​Lebih lanjut, Novi menerangkan bahwa frasa Surga Titipan bukan sekadar judul, melainkan sebuah filosofi pandangan hidup.
​Setiap manusia yang hadir dalam lintasan hidup seseorang membawa peran yang berbeda-beda. Ada yang hadir untuk mengajarkan kesabaran, menempa diri melalui pengalaman kehilangan, atau menumbuhkan cinta kasih karena Sang Pencipta.

​“Setiap titipan itu bisa menjadi jalan menuju surga. Seorang anak bisa jadi jalan menuju surganya orang tua. Orang tua bisa menjadi jalan menuju surga bagi anaknya,” ucapnya.

​Ia menambahkan, ragam kesulitan yang mendera kehidupan hendaknya dipandang sebagai bagian dari skenario titipan kehidupan. Yang terpenting, manusia dituntut untuk senantiasa belajar menerima dan menyikapi setiap keadaan dengan lapang dada.

​“Allah tidak pernah salah menempatkan takdir-Nya. Takdir Allah tidak pernah buruk. Yang buruk adalah penyikapan kita dalam menerima takdir,” pungkasnya.

​Melalui perhelatan Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan ini, kehadiran buku Surga Titipan diharapkan tidak sekadar memperkaya khazanah literasi daerah, melainkan menjadi momentum reflektif bagi masyarakat dalam merajut kembali keharmonisan hubungan keluarga, menyikapi pencapaian, serta mengelola setiap perjalanan takdir kehidupan. (AM)