OPINI

Bergeraklah Terus Srikandi Sungai Indonesia (SSI) Tasikmalaya

×

Bergeraklah Terus Srikandi Sungai Indonesia (SSI) Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini

Oleh Erwin Hilman
Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Siliwangi

 

Setiap daerah memiliki pontesi yang berbeda-beda, semuanya telah diatur sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup bukan berdasarkan keinginannya.

Secara umum sumberdaya dapat diklasifikasikan menjadi dua klasifikasi yaitu biotik (makhluk hidup) dan abiotik (air, udara tanah).

Tetapi sebenarnya sumberdaya itu tidak dapat dipisahkan semuanya itu saling berhubungan dan ketergantungan dalam keseimbangan.

Apabila tidak dalam suatu keseimbangan dapat menimbulkan suatu bencana. Sudut padang manusia memaknai bencana dapat diartikan sebagai ujian atau azab, hal ini kembali lagi kepada diri manusia, hanya saja bencana yang bersifat merugikan merupakan faktor manusia dan bencana yang diakibatkan oleh faktor alam bersifat penyeimbang.

Berdasarkan kajian-kajian para ahli kebumian terhadap batuan dan evolusi makhluk hidup yang ada di bumi usia bumi lebih kurang 4,5 miliyar tahun.

Awalnya yang merajai bumi adalah hewan, setelah bumi dalam keadaan seimbang dan segala kebutuhan manusia sudah terpenuhi barulah adanya kehidupan manusia di bumi atau sekitar 1,7 juta tahun yang lalu, istilah lain dalam bahasa Ilmu Geologi (Zaman Kuarter) dan yang merajai (khalifah) bumi sekarang ini adalah manusia.

Manusia tidak dapat berenang jauh seperti ikan yang ada di laut, manusia tidak bisa terbang seperti burung, manusia tidak bisa lari cepat dan jauh seperti Cheetah. Bukan berarti manusia disama-samakan dengan hewan ini hanya perumpamaan saja.

Alquran Surat At-Tin ayat 4 yang artinya sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Manusia memiliki kelebihan dibandingkan makhluk hidup yang lainnya selain fisik namun juga psikis memiliki akal, fikiran dan hawa nafsu.

Melalui akalnya manusia dapat membedakan salah dan benar. Melalui akal dan pikirannnya juga, manusia dapat mengalahkan makhluk hidup yang ada di bumi dengan menciptakan suatu teknologi.

Sebab itulah kerusakan di yang terjadi di bumi sudah jelas diakibatkan oleh manusia hasil interpretasi akal dan pikiran yang menimbulkan nafsu yang tidak terkendalikan, hanya keserakahan atau mementingkan dirinya sendiri.

Alquran surat Al-Imron Ayat 190 artinya “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

Penjabaran dari ayat tersebut manusia dituntut melalui akal dan pikirannya untuk membaca (iqro) fenomena alam yang terjadi dilingkungan terutama lingkungan yang ada disekitarnya untuk mentapakuri, mensyukuri dengan mengelola dan memanfaatkan lingkungan secara lestari, dengan kata lain secara seimbang serta berkesinambungan.

Mungkin yang menjadi kendala bagi bagi masyarat awam membaca fenomena alam tidak semudah membacara buku yang sudah jelas secara tersurat, membaca fenomena alam dibutuhkan pengetahuan yang luas karena secara tersirat, membaca fenoman alam pada sisi yang berbeda akan menghasilkan tafsiran yang berbeda pula.

Melalui akal dan pikiran masyarakat Sunda zaman dahulu dalam membaca fenomena alam menghasilkan warisan nilai-nilai lingkungan yang perlu diimplementasikan dan masih relevan sekarang ini, nilai-nilai tersebut yaitu “gunung kaian, gawir awian, cinyusu rumatan, pasir talunan, lebak caian, sampalan kebonan, walungan rawatan, legok balongan, daratan sawahan, situ pulasaraeun, lembur uruseun, basisir jagaeun”.

Nilai-nilai ini merupakan bentuk pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan yang mengendapankan keseimbangan, bukan mengedepakan hawa nafsu belaka. Salah satu contoh keseimbangan air baik dari segi kualitas mapun kuantitasnya; terlalu banyak air akan banjir, terlalu sedikit air kekeringan, air terlalu kotor penyakit. Oleh karena itu tugas manusia sebagai khalifah bagaimana mengelola dan menfaatkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara seimbang.

Pontensi sumberdaya dan fenomena alam yang terjadi dalam lingkungan itu berdasarkan kodrat Allah, manusia tidak boleh menentangnya. Hanya saja bagaimana manusia mengelola dan memanfaatkan sebaik-baiknya dengan mengendepankan azas keseimbangan tehadap potensi sumberdaya alam yang telah dikaruniakan oleh-Nya.

Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pada wilayah Utara Kabupaten Tasikmalaya membentuk suatu organisasi dengan nama Srikandi Sungai Indonensia (SSI) Tasikmalaya yang diinisiatori oleh Prof. Dr. Suratman Woro, M.Sc., bahkan di dalam organisasi tersebut terdapat organisasi atau forum lain seperti pencita alam, penggiat lingkungan dan perguruan tinggi yang ikut terlibat di dalamnya sebagai bentuk dukungan terhadap kepedulian lingkungan.

Pandangan yang dirasakan penulis sendiri terhadap organisasi tersebut memiliki nilai-nilai yang sangat krusial terhadap kondisi lingkungan dari waktu kewaktu mengalami degradasi terutama dalam hal kualitasnya.

Adapun nilai-nilai sangat krusial tersebut yaitu: 1) Berdasarkan catatan sejarah peradaban tinggi manusia berawal dari wilayah sungai, 2) Sungai sebagai sumber kehidupan bukan hanya manusia bahkan makhluk hidup ciptaan Tuhan di bumi, 3) Air merupakan simbol kelestarian lingkungan, 4) Air merupakan urutan pertama kebutuhan dasar kehidupan manusia, 5) Air bersifat sakral dan religius, 6) Salah satu sifat yang dianugrahkan kepada perempuan yaitu memiliki kelembutan yang dapat dijadikan sebagai “power” untuk melestarikan lingkungan.

Ketidakseimbangan ini bisa saja diakibatkan oleh dua faktor, pertama kerena ketidaktahuan manusia dan kedua tahu tetapi mengedapankan hawa nafsu yang tidak terkendalikan (pura-pura tidak tahu) dalam pengelolaan dan pemanfaatkan potensi sumberdaya alam.

Menyadarkan manusia dari ketidak tahuan atau dari keserakahan hawa nafsu manusia tidaklah mudah, melalui pendidikan baik formal atau non formal meskipun hal ini memerlukan waktu yang tidak sebentar, tetapi apabila dilakukan secara terus menerus (konsisten) akan memberikan berdampak secara luas pada sendi-sendi kehidupan manusia.

Harapannya dalam Hari Ulang Tahun Srikandi Indonesia Tasikmalaya yang pertama ini, terus berkarya dengan memberikan suri tauladan bagi khalayak umat dalam mengelola dan menfaatkan lingkungan tanpa merusakan atau menurukan kualitas lingkungan.

Teruslah bergerak seperti air yang mengalir, karena air yang tidak mengalir yang pada awalnya kotor dan tidak suci, dengan mengalir air tersebut bisa suci dan mensucikan. Mentapakuri air saja dapat memberikan arti yang sangat mendalam dalam kehidupan.

Selain itu masih mentapakuri dari air sungai yang mengalir menurun mengikuti lembah, meskipun harus berkelok-kelok sambil mengikis batuan yang menghalanginya bahkan selama perjalannya akan menemukan tenaga yang lebih kuat yaitu bertemunya anak-anak sungai dengan induk sungai dan akan sampailah pada muara yaitu danau atau laut sebagai tujuan dari air sungai.

Dikaitkan dengan pergerakan Srikandi Sungai Indonesia Tasikmalaya, harus terus bergerak meskipun dalam perjalannya banyak tantangan-tantangan tetapi dengan adanya tantangan tetaplah bergerak walaupun harus berbelok terlebih dahulu.

Karena dengan bergerak dalam perjalanannya pasti menemukan tenaga yang tidak disangka-sangka seperti bertemunya anak sungai dengan induk sungainya sebagai tenaga yang lebih besar lagi, sehingga pada suatu saat akan bermuara dengan tenang pada kondisi lingkugan yang seimbang.

Masih bertepatan dengan hari ulang Srikandi Sungai Indonesia Tasikmalya diresmikan suatu program pendidikan untuk meningkatkan pemahaman lingkungan pada smasyarakat adapun program pendidikan tesebut yaitu: Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung sebagai bentuk integritas dan konsistensi dalam meningkatkan kualitas manusia mengelola lingkungan.

Sehingga akan menememukan sinergi antara moto dalam Srikandi Sungai Indonesia Tasikmalaya “mandiri berdikari, mengabdi dengan happy” dan masyarakat dengan pengetahua yang dimilikinya akan mengelola dan menfaatkan lingkungan sebagai potensi yang telah dikaruniakan oleh Sang Kholik apapun kondisinya, masyarakat tetap lebih mensyukuri dan menikmati hidup.