KANAL

Dari Kobong ke Ruang Redaksi, Jejak Tangkas Asnur Memimpin Media Sumedang Ekspres

×

Dari Kobong ke Ruang Redaksi, Jejak Tangkas Asnur Memimpin Media Sumedang Ekspres

Sebarkan artikel ini
Asep Nurdin (Asnur), Pemimpin Redaksi Sumedang Ekspres (Group Jawa Pos)

KAPOL.ID — Di tengah arus digitalisasi dan lalu lintas informasi yang bergerak serba cepat, perjalanan karier Asep Nurdin, pria yang akrab disapa Asnur berdiri sebagai sebuah narasi ketekunan yang unik sekaligus menginspirasi.

Memulai petualangan karier dari dinginnya ubin kobong pesantren sebagai seorang santri, Asnur kini memegang komando tertinggi sebagai Pemimpin Redaksi Sumedang Ekspres, media cetak dan daring terkemuka di bawah naungan Jawa Pos Group.

Namun, di balik tampuk kepemimpinan redaksi yang anggun itu, terdapat sebongkah kisah jenaka nan bersahaja yang menjadi titik balik perjalanan jurnalistiknya.

Kisah Asnur lulusan UIN Sunan Gunung Jati itu, berawal pada tahun 2013 di Sekretariat Forum Komunikasi Wartawan Santri (Forkowas) Kabupaten Sumedang.

Saat itu, Asnur yang juga alumni Pondok Pesantren Manarul Huda Limbangan Garut itu masih aktif bergelut di dunia penyiaran bersama Radio Elshinta.

Obrolan Santai Awak Media

Dalam obrolan santai di Sekretariat Forkowas, Azis Abdullah sosok wartawan senior dari media Kabar Priangan (Grup Pkiran Rakyat) saat itu, menyuarakan gagasan untuk menyebarkan “sayap” insan pers pesantren ke berbagai media masa regional di Jawa Barat.

“Sok Asnur ngalamar ka Radar. Pan Toha di Sumeks, saya di Kabar Priangan. Jadi biar lengkap,” celetuk Sang Ketua Forkowas memecah suasana disaksikan beberapa jurnalis yang aktif liputan di Jatinangor.

Asnur yang saat itu belum terbiasa dengan gaya penulisan berita media cetak sempat ragu dan melontarkan kepolosannya. “Teu bisa nulisna…” (Tidak bisa menulisnya), aku Asnur jujur.

Sambil terkekeh, Sang Ketua langsung menimpali dengan kelakar khas santri yang melesat menjadi pelecut semangat: “Ah gampang, hese keneh diajar ngaji!” (Ah gampang, masih lebih susah belajar ngaji kitab!).

Gelak tawa dalam ruangan sederhana itu menjadi awal dari sejarah baru. Didorong penuh oleh pimpinan Forkowas yang telaten memberikan arahan serta dorongan moral, Asnur akhirnya memberanikan diri menyusun surat lamaran ke Radar Sumedang dan Sumedang Ekspres.

Suratan takdir kemudian membawanya diterima di Sumedang Ekspres langkah awal yang membuka gerbang karier profesionalnya di media cetak.

Menempa Kepekaan dari Akar Santri

Proses penempaan Asnur tidak terjadi dalam semalam. Pondasi kewartawanannya makin kokoh saat ia aktif menimba pengalaman dalam Forkowas.

Di wadah inilah, sensitivitas sosial khas insan pesantren berpadu selaras dengan disiplin kerja jurnalistik, menguji fakta dengan kehati-hatian (tabayyun), merawat objektivitas, serta mengasah ketajaman pena.

Pergulatan dari level tapak mulai dari mengejar berita di lapangan, berburu konfirmasi, hingga melahap jam kerja yang tak kenal waktu ia jalani dengan integritas dan etika profesi yang kukuh.

Dedikasi tersebut secara konsisten mengantarkannya merangkak naik di industri pers regional hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi puncak sebagai Pemimpin Redaksi.

Bagi Asnur, latar belakang pesantren bukanlah penghalang untuk bersaing di dunia modern, melainkan sebuah nilai tambah yang memberi warna pada produk jurnalistik yang ia hasilkan.

“Menjadi wartawan adalah panggilan untuk menjaga kebenaran, sementara latar belakang santri adalah kompas moralnya,” ujar Asnur wartawan kompeten asli Garut itu.

Azis Abdullah, mentor yang menyaksikan dari dekat tumbuh kembang Asnur dari seorang pewarta radio Elshinta yang “ragu” menulis hingga menjadi nakhoda redaksi media besar, mengapresiasi tinggi konsistensi Asnur tersebut.

Transformation Asnur membuktikan bahwa dari balik bilik santri dan kehangatan obrolan warung kopi, dapat lahir seorang pemimpin pers yang independen, berintegritas, dan disegani.

Kiprah Asep Nurdin kini bukan sekadar cerita tentang pencapaian personal, melainkan manifestasi nyata dari transformasi insan pesantren.

Ia menegaskan bahwa kualitas jurnalisme presisi dapat tumbuh subur dari akar tradisi literasi berbasis nilai-nilai spiritual.***