BUDAYA  

Disparbud Jabar Gelar FGD Bahas Aksara Sunda

FGD pembahasan aksara Sunda di Bandung, Kamis (10/11/2022).

KAPOL.ID – Akademisi, Undang Ahmad Darsa mengapresiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat yang terus konsisten mengontrol identitas kesundaan.

Dikatakan, identitas kesundaan bukan hanya masalah etniknya secara umum, namun juga terkait bahasa dan aksara Sunda.

Saat ini pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat tengah melakukan upaya pelestarian aksara Sunda dan mendorong untuk masuk ke platform internasional.

“Tidak semua bangsa menciptakan aksaranya. Identitas kesundaan ada karena memiliki bahasa dan sunda ada karena memiliki aksara,” ucapnya disela FGD pembahasan aksara Sunda di Bandung, Kamis (10/11/2022).

Jadi, ini penting kembali di kontrol di cek sejauhmana, karena aksara juga pada prinsipnya sebagai alat rekam sistem tata bunyi.

“Bahasa Sunda harus di rekam apabila bahasa itu memang berkembang terus,” tambah dia.

Ia pun berharap Disparbud Jawa Barat dapat terus konsisten mengawal aksara ataupun bahasa Sunda.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disparbud Jawa Barat Febiyani mengatakan, pembahasan yang digelar pihaknya tersebut merupakan salah satu upaya untuk melindungi aksara Sunda.

Mengingat aksara merupakan salah satu bagian dari bahasa yang merupakan objek kemajuan kebudayaan.

“Kita biar tahu aksara yang ada di daerah Jawa Barat itu apa saja. Kemudian juga aksara Sunda itu yang mana?. Ini penting karena harus ada kepastian untuk diangkat ke platform digital internasional. Nah itu harus ditetapkan dulu yang mana itu aksara Sunda,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, dengan pahamnya serta mengerti aksara Sunda tanpa campuran atau serapan dari bahasa lain, Jawa Barat dapat segera menaikan ke platform digital internasional.

Hal itu merupakan bagian dari pelindungan terhadap objek pemajuan kebudayaan Jawa Barat.

“Dan nanti kedepannya, pewarisan atau internalisasi nilai yang kita lakukan itu bisa diteruskan ke generasi muda. Kalau sekarang misalnya guru pengajar mau mengajar bahasa Sunda mau nulisnya, susahkan. Kalau nanti sudah ada dalam jenis huruf, itukan lebih mudah,” ucap Febiyani.

Febiyani juga menilai, saat ini di kalangan generasi muda pemahaman aksara Sunda sudah berkurang. Kondisi itu menurutnya menjadi pekerjaan rumah, baik bagi pengajar di sekolah ataupun lainnya.

Dengan adanya pembahasan aksara Sunda, dikatakan Febiyani, dapat menguatkan sekaligus memperkenalkan kembali serta menggali potensi aksara Sunda.***