CATATAN – Pernahkah Anda berniat mengambil suatu benda, tetapi tangan justru meraih hal yang sama sekali berbeda? Atau saat hendak menyampaikan sebuah kalimat, kata yang terucap malah tak selaras dengan apa yang ada di dalam batin? Tubuh mungkin tampak bergeming pasrah, tetapi pikiran terus berkelana liar tanpa jeda.
Situasi ini acap kali memuncak pada momen-momen paling sakral; saat beribadah, rasa khusyuk dan ketenangan jiwa seolah makin sulit diraih karena benak terdistraksi oleh riuh rendah ingatan.
Lantas, mengapa isi kepala seorang wanita kerap terasa begitu padat, riuh, dan sarat beban?
Secara alami, wanita berproses melalui kepekaan hati dan kedalaman perasaan. Ketika pandangan hidup dan keputusan harian bergerak berbasis rasa, dinamika emosi internal menjadi sangat sensitif.
Kondisi ini kian kompleks ketika berhadapan dengan era digital sebuah era yang terus-menerus memborbardir benak kita dengan arus informasi tanpa henti, standar hidup di media sosial, hingga tuntutan peran yang serba cepat.
Kombinasi antara sensitivitas perasaan dan akumulasi informasi ini dengan mudah menciptakan badai kecil di dalam pikiran.
Ketika benak sudah terlalu sarat, dampaknya tidak berhenti pada kelelahan mental semata, melainkan menjalar pada kestabilan emosi. Mood menjadi mudah terombang-ambing, rasa lelah tanpa alasan yang jelas kerap menyapa, dan kedamaian diri perlahan terkikis.
Menyadur pandangan pakar neurosains dr. Aisyah Dahlan, wanita memang memiliki kebutuhan biologis dan psikologis mendasar akan stress release.
Ia butuh media yang aman dan sehat untuk mengeluarkan, mengurai, serta mengalirkan setiap beban pikiran yang tersimpan.
Di sinilah aktivitas menulis mengambil peran yang sangat krusial. Menulis bukanlah sekadar merangkai aksara di atas kertas, melainkan sebuah proses katarsis sebuah ruang penyembuhan (self-healing) yang tenang.
Ketika seorang wanita bersedia menyisihkan waktu untuk berdiam diri, merenung, dan memindahkan muatan pikirannya ke dalam bentuk tulisan, ia sebenarnya sedang mengurai benang kusut dalam kepalanya.
Ide-ide yang tadinya tumpang tindih secara perlahan menemukan bentuknya yang jernih, dan jiwa yang lelah kembali menemukan poros keseimbangannya.
Kendati demikian, mengembalikan minat menulis di era media sosial hari ini menuntut kedewasaan dan kearifan tersendiri. Menulis di ruang publik bukan sekadar meluapkan emosi secara mentah.
Sebelum menekan tombol unggah, kita dituntut untuk lebih bijak: baca kembali, renungkan lagi, dan pastikan setiap baris kalimat yang kita bagikan sarat akan empati.
Jangan sampai gagasan yang lahir dari niat menenangkan diri justru menjadi narasi yang menyinggung, menyudutkan, atau melukai perasaan orang lain.
Menulis adalah seni menyembuhkan diri sekaligus menyebarkan kebaikan. Mari kembalikan budaya menulis pada diri wanita bukan untuk menumpuk keangkuhan kata, melainkan untuk merawat kejernihan pikiran dan kedamaian jiwa.
Penulis: Siti Amilah






