KANAL

Harga Plastik di Pasar Singaparna “Melejit”, Pedagang Tahu Tempe Mulai Menjerit

×

Harga Plastik di Pasar Singaparna “Melejit”, Pedagang Tahu Tempe Mulai Menjerit

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Hampir satu bulan terakhir, para pedagang makanan di Pasar Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, mulai dibuat pusing. Pasalnya, harga plastik pembungkus makanan merangkak naik cukup signifikan. Kondisi ini praktis dikeluhkan para pelaku usaha kecil yang setiap harinya bergantung pada kemasan plastik.

​Pantauan di lapangan, kenaikan harga terjadi pada hampir semua ukuran plastik per paknya. Kenaikan ini bervariasi, namun cukup terasa memberatkan kantong para pedagang kecil.

​”Dulu harga per paknya Rp 3.500 sekarang jadi Rp 5.000. Ada juga yang dari Rp 4.500 jadi Rp 7.500, terus yang Rp 5.000 naik ke Rp 8.000,” ujar Ajat, salah seorang pedagang tahu dan tempe di Pasar Singaparna, Sabtu (2/5/2026).

​Menurut Ajat, kenaikan yang paling mencolok terjadi pada jenis plastik kiloan yang biasa digunakan untuk membungkus tempe.

​”Paling tinggi naiknya itu plastik kiloan buat tempe. Asalnya Rp 16.000 per kilo, sekarang sudah tembus Rp 26.000 per kilonya,” imbuhnya.

​Saat disinggung apakah kenaikan harga plastik ini merupakan imbas dari berkecamuknya perang Iran, Ajat mengaku tidak tahu pasti. Namun, selentingan kabar mengenai hal itu memang sudah sampai ke telinganya.

​”Wah, kalau masalah itu mah saya tidak tahu pasti, Pak. Tapi kalau denger-denger mah memang katanya gara-gara perang Iran,” cetusnya

​Meski harga plastik melonjak tajam, Ajat menyebut hingga saat ini harga jual tahu dan tempe di pasar masih tergolong normal. Belum ada kenaikan harga jual kepada konsumen karena para pedagang masih terikat aturan organisasi.

​”Kalau harga (tahu tempe) masih normal, belum ada kenaikan. Biasanya harus mengikuti arahan dari asosiasi, karena untuk produk tahu dan tempe ada asosiasi yang menaungi,” jelas Ajat.

​Kendati belum ada instruksi kenaikan, Ajat berharap minimal segera ada penyesuaian harga. Sejauh ini, kenaikan harga plastik memang belum sampai membuat pedagang rugi bandar, namun jelas memangkas margin keuntungan.

​”Sebenarnya tidak sampai bikin rugi, cuma ya mengurangi pendapatan dari hasil penjualan. Beda lagi kalau yang naiknya kedelai, itu mah sangat berpengaruh sekali,” tuturnya.

​Di sisi lain, kekhawatiran mulai dirasakan para pemilik warung nasi dan konsumen rumah tangga. Maemunah (50), warga Salawu yang rutin belanja di Pasar Singaparna, berharap harga tahu dan tempe tidak ikut-ikutan naik.

​”Ya jangan naik atuh. Nanti kalau harga tempe tahu naik, pasti jualnya agak susah. Biasanya kalau ada kenaikan harga sedikit saja, warga yang mau beli suka langsung komplain,” keluh Maemunah.

​Hingga kini, para pedagang hanya bisa pasrah sambil berharap harga material pendukung seperti plastik bisa kembali stabil, agar roda ekonomi di pasar tradisional tetap berputar normal. (Adji Shg)