Hari Pendidikan Pasundan

Iip D Yahya | Penulis dan Peneliti

“Pikeun urang Tasik anu sakitu ajol-ajolana hayang onderwis teh, wanina lain dina omong wungkul, tapi wani jeung sokna, nyaeta geus wani hiji murid mayar 100 rupia, asal ngadeg bae sakola, asal abus bae barudakna ka HIS.”

Hari ini, 18 Juni 1922, atau 97 tahun yang lalu, menjadi awal berdirinya sekolah Pasundan di Tasikmalaya. Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Jalan Gunungsabeulah ini menjadi sekolah pertama yang dikelola oleh Paguyuban Pasundan.

Informasi mengenai pendirian sekolah ini dikabarkan oleh Sekretaris Pasundan Cabang Tasikmalaya Atmawinata dalam surat kabar Siliwangi pada 27 Juni dan 4 Juli 1922.

Siliwangi adalah surat kabar milik Pasundan Cabang Bandung yang terbit dua kali seminggu. Surat kabar ini bisa disebut sebagai pengganti orgaan Pasoendan yang berhenti terbit. Berita pendirian HIS Pasundan ini dimuat lebih awal dalam surat kabar Kaoem Moeda, 20 Juni 1922, dengan judul Pembukaan Sekolah di Tasikmalaya.

Sekolah impian ini terwujud dalam kepemimpinan dua ketua cabang, yaitu E Kartaadiwidjaja dan Sastraprawira. Setahun sebelumnya telah didirikan sekolah rakyat yang lebih menyerupai lembaga kursus.

Tetapi masyarakat Tasikmalaya menginginkan lebih dari sekedar kursus. Saat itu sudah ada dua buah HIS yang dikelola oleh pemerinta Hindia Belanda, hanya bisa menampung 70 siswa dalam tahun ajaran baru, sementara tercatat sudah ada 410 calon siswa yang mendaftarkan diri.

Pada 16 Mei 1922, Pasundan Tasikmalaya mengadakan pertemuan bersama calon orang tua murid di Gedung Kaweningan Mitra. Pertemuan itu dihadiri Bupati dan Patih Tasikmalaya. 86 calon siswa sudah siap mendaftar jika HIS Pasundan kelak resmi dibuka.

Kedua pejabat penting itu ikut membantu agar sekolah baru tersebut mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Dari rencana semula dibuka pada 2 Juni (6 Syawwal 1340 H), HIS Pasundan secara resmi dibuka pada hari Minggu, 18 Juni 1922 (22 Syawwal 1340 H).

Maka hari pembukaan itu pun menjadi pesta rakyat. Keriaan itu dihadiri 10 pejabat Belanda termasuk Asisten Residen Hansen, pengurus serta anggota Pasundan, dan ratusan warga yang terdiri dari para calon murid dan orang tua mereka serta penduduk Tasikmalaya.

Bupati dan Patih serta para pejabat lokal lainnya ikut hadir, merayakan sekolah baru itu. Tidak sedikit dari mereka yang pakaulan ngibing sebagai tanda bersyukur.

Sekolah ini dibuka resmi pada hari Minggu sebab pada keesekoan harinya, Senin, 19 Juni, akan dimulai pelajaran hari pertama untuk kelas satu yang berjumlah tiga kelas.

Para guru dan para siswa tak mau membuang waktu, mereka sangat senang memiliki sekolah sendiri dengan standard yang sama dengan sekolah pemerintah.

Dari kutipan di awal tulisan ini terlihat bahwa antusiasme masyarkat Tasikmalaya ikut mendorong terwujudnya HIS Pasundan. Mereka tidak hanya banyak cakap belaka tetapi siap berkorban dengan menyiapkan dana sebesar 100 gulden per siswa. Ketika sekolah itu memulai pengajarannya pada 19 Juni 1922, Gedung dan bangku yang digunakan oleh para siswa, sudah sesuai dengan standard yang disyaratkan.

Begitu juga gaji untuk para guru, beberapa terdiri dari orang Belanda, dianggap memenuhi syarat. Dengan gotong royong, sekolah pribumi itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan republik, mendidik para calon pemimpin, baik yang kelak aktif sebagai pemimpin sipil maupun militer.

Hari Pendidikan
Peresmian HIS Pasundan Tasikmalaya, menjadi babak baru peningkatan layanan Paguyuban Pasundan kepada masyarakat Sunda. Hal ini merupakan perwujudan butir kedua dari tujuan Pasundan yang tercantum dalam statutanya, yakni mengikuti cara pemerintah dalam memajukan pengetahuan dan kehidupan masyarakat dan memperbaiki tingkah lakunya melalui pendidikan.

Diperlukan waktu 9 tahun untuk mewujudkan tujuan tersebut. Sekolah ini tidak didirikan oleh Pengurus Besar melainkan oleh Pengurus cabang Tasikmalaya.

Hal ini menunjukkan pola desentralisasi Pasundan dalam mengelola organisasinya. Sesuai situasi kaum pribumi saat itu yang tidak menentu, maka cabang yang lebih mapan melaksanakan program yang terhambat diwujudkan oleh Pengurus Besar.

HIS Pasundan Tasikmalaya memang bukan lembaga pendidikan pertama di lingkungan Pasundan. Beberapa tahun sebelumnya Pasundan Betawi sudah punya lembaga kursus yang membantu para siswa untuk menguasai bahasa Belanda sebagai persyaratan melamar pekerjaan.

Namun, untuk sekolah yang resmi dengan standard yang sama dengan sekolah pemerintah, HIS Pasundan Tasikmalaya adalah yang pertama. Dari Tasikmalaya kemudian berkembang ke cabang-cabang lain bahkan di daerah pelosok seperti Jampang Kulon Sukabumi, berdiri HIS Pasundan.

Enam tahun berselang, pada 1928, Cabang Tasikmalaya juga merintis berdirinya MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Pasundan. Sampai tahun 1940, Paguyuban Pasundan memiliki 52 sekolah terdiri dari HIS dan MULO.

Kelahiran Paguyuban Pasundan pada 20 Juli 1913 merupakan panggilan nasionalisme para nonoman Sunda, membentuk organisasi ke-Sunda-an pertama, untuk ikut bergerak menyongsong kemajuan zaman. Paguyuban Pasundan didasarkan pada hasrat menyatukan potensi para nonoman Sunda, di atas fondasi semangat nasionalisme yang digaungkan oleh Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 dan pengaruh pergerakan nasional yang berkembang pada saat itu.

Lembaga Pendidikan Pasundan telah berhasil menanamkan benih-benih nasionalisme untuk menyongsong Indonesia merdeka, menyumbangkan tokoh-tokoh terbaik untuk ikut mengelola negara setelah proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, juga terlibat aktif memelihara dan mengembangkan kebudayaan Sunda.

Setelah memasuki 106 tahun, lembaga pendidikan itulah yang tetap bertahan dengan baik dan terus berkembang, menjaga nama harum Paguyuban Pasundan. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika pendirian HIS Pasundan 18 Juni 1922 di Tasikmalaya, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Pasundan.

Dirgahayu 97 Tahun Pendidikan Pasundan!

Diskusikan di Facebook