Ironi di Kota Salatri

  • Bagikan

Kota Salatri. Kota hijau nan teduh, penuh bukit pendaur peluh. Gunung-gunung setia dan kokoh memagari. Pesawahan menghampar saling sambung tepi ke tepi. Jajaran pepohonan runduk rapi tanpa hirau sembarang tebang. Jernih sungai-sungai membatas lekukan kota dengan seksama. Indahnya Kota Salatri selalu sisakan senyum dibibir para penduduknya.

Kota Salatri dalam balutan waktu, selalu memuda tanpa menunda. Ibarat perjalanan, Kota Salatri tak terjebak dikotomi awal akhir, usaha dan hasil.

Keberangkatan adalah akhir dari penantian, sementara perjalanan dihayati sebagai proses rajutan kejadian dimana awal dan akhir, usaha dan hasil, hanyalah titik-titik sambung menjelma garis dan momentum.

Kehidupan penduduk di Kota Salatri tak berporos pada keinginan, melainkan kebutuhan. Warganya terbiasa menelaah diri sendiri, sehingga kebutuhan dan keinginan terpisah jelas dalam kamar-kamar hati.

Seluruh urusan hidup selalu dilihat berdasar perspektif butuh dan ingin, supaya tak tertukar mana yang diinginkan dan mana yang dibutuhkan.

Motif ekonomi dalam cakupan sandang, pangan dan papan,otomatis gerak dalam koridor “Tuhan pasti menjamin kebutuhan mahluknya”.

Raga manusia tentu harus ada yang ditutupi, maka selama auratnya tertutup selesailah urusan sandang. Manusia butuh makan untuk kelangsungan hidup, selama rasa lapar selalu ada pelipur maka selesailah urusan pangan.

Begitupun urusan tempat tinggal, selama masih terlindung dari panas dan dingin, terik dan hujan, selesailah urusan “papan”. Urusan mau pakai baju merk apa? Makannya apa? Rumah model bagaimana? Itu nyata-nyata dikelompokan dalam “keinginan” dan semua sadar itu tergantung dari ikhtiar.

Konsep adil sejak dalam pikiran diaplikasikan secara menyeluruh, sehingga tak tertukar dengan konsep adil sejak dalam pencernaan. Kebiasaan ini melahirkan kedaulatan diri terhadap keinginan yang tak terukur.

Hasilnya, tak ada penduduk Kota Salatri yang terjebak dalam kubangan kelam “Bank Emok”, “Bank Sila” ataupun “Bank Andeprok”.

Di Kota Salatri tentu terdapat lembaga finansial selayaknya di kota lain. Lembaga finansial ini berdiri menjadi solusi, bukan sebagai penghisap keuntungan dari kesulitan pribadi-pribadi.

Kota Salatri dipimpin oleh seorang walikota yang dipilih langsung oleh warganya tiap lima tahun sekali. Pemilihan langsung ini selalu menghasilkan pemimpin yang amanah dan cakap mengatasi segala permasalahan yang ada.

Semuanya buah dari petuah para tetua tentang “konsep pemimpin” yang semayam di tiap sanubari warga. Kesadaran pribadi ini menciptakan kesadaran komunal yang terus bertransformasi menjadi kesadaran umum bagi warga.

Pemimpin di Kota Salatri tak hanya diberi tanggungjawab untuk memimpin manusia. Seluruh mahluk yang berdiam di Kota Salatri mutlak menjadi tanggungan pemimpin. Tumbuhan, hewan, tanah, air, udara, bahkan mahluk-mahluk tak terlihat pun selama mereka berada di area Kota Salatri harus dijadikan bahan pemikiran, pelaksanaan dan evaluasi kinerja pemimpin.

Hasilnya tak ada gunung, bukit atau apapun yang dikorbankan untuk pemuasan hasrat serakah manusia.

Gunung-gunung bebas dari eksploitasi, tak seorang pun berani menyulap bukit untuk jadi perumahan atau mall, aliran sungai dijaga kemurniannya sehingga tak sebata pun yang nongkrong di atasnya.

Hasilnya kota bebas dari banjir, serapan air maksimal, genangan pun hanya sebatas genangan kenangan indah bukan genangan cileuncang maksimal.

Begitupun ketika kamarau tiba, tak nampak antrian warga demi air jernih. Tanah selalu sukacita memberikan persediaan airnya bagi warga Kota Salatri.

Kehidupan sosial di Kota Salatri mengutamakan guyub sauyunan tanpa paksaan. Antar warga terbiasa saling menjaga lahir maupun batin. Adab dan tata krama presisi penempatannya.

Pemuka agama di Kota Salatri benar-benar mampu mengejawantahkan kemuliaan ajaran dan kitab suci dalam kehidupan sehari-hari.

Berbuat baik sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pencitraan demi dapat meningkatkan harkat dalam pandangan masyarakat. Pengendalian syahwat, baik syahwat perut maupun syahwat bawah perut berlangsung secara paripurna.

Jangankan begal payudara ataupun pelempar sperma, sekejap saja pikiran “mesum” melintas di benak langsung dinetralisir akal.

Begitupun urusan syahwat perut, penduduk Kota Salatri telah terbebas dari salatri. Rasa lapar kelewat batas yang mana makanan bukan lagi penawarnya.

Syahwat perut yang berakibat memabukkan dan hilang orientasi. Berawal dari lapar dan khawatir terhadap rasa lapar yang berlebihan, melahirkan manusia-manusia serakah dan hilang akal. Mereka teramat lelah menjalani hidup, sehingga mencari pelampiasan semu dan penghilangan kedirian.

Penduduk Kota Salatri terjaga dan jauh dari fenomena ini. Jangankan pabrik narkoba skala internasional, penjual arak kacangan pun tak ada di Kota Salatri.

Sungguh indah kehidupan di Kota Salatri. Konon katanya, Kota Salatri ini dulu bernama Kota Santri.

  • Bagikan