BIROKRASI

KAPITALISASI TRADISI: Manuver Sekda Tuti Ruswati Jadikan Kebudayaan Sumedang Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

×

KAPITALISASI TRADISI: Manuver Sekda Tuti Ruswati Jadikan Kebudayaan Sumedang Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumedang, Dr. Hj. Tuti Ruswati

KABAR PRIANGAN ONLINE — Di tengah pusaran modernisasi yang kerap mengikis akar sejarah, Kabupaten Sumedang justru mengambil langkah manuver yang berani: menjadikan kearifan lokal sebagai komoditas ekonomi bernilai tinggi.

Lewat panggung Culture Fest Sumedang 2026, pemerintah daerah tidak lagi menempatkan kebudayaan sekadar ritual seremoni atau seni pertunjukan pasif, melainkan sebagai hulu dari rantai pasok industri kreatif nasional.

Langkah strategis ini kian nyata saat Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang, Tuti Ruswati, menegaskan urgensi kolaborasi pusat-daerah kepada Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya. Sumedang membaca peluang global yang kini melirik kawasan-kawasan bermodal kultural kuat sebagaimana keberhasilan Amerika Serikat, Jepang, hingga Tiongkok mengomersialkan warisan sejarah mereka.

“Budaya harus ditempatkan sebagai hulu, yang kemudian dihilirkan melalui sentuhan inovasi, kreativitas, dan akselerasi teknologi,” pukas Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya saat meninjau kesiapan ekosistem kreatif Sumedang, Selasa (4/8).

Transformasi Ekosistem Kreatif

Visi menjadikan tradisi sebagai katalisator ekonomi diwujudkan melalui penguatan infrastruktur dan skema kolaborasi terukur:

Difungsikan sebagai hub inklusif bagi pelaku usaha dari 16 subsektor kreatif, mulai dari kriya, kuliner, seni pertunjukan, hingga sinematografi dan pengembangan konten digital.

pelatihan ekonomi digital disuntikkan secara masif untuk menaikkan kelas produk UMKM berbasis tradisi agar mampu menembus pasar modern.

Mengonsolidasikan dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat dalam skema pengembangan desa kreatif serta kemudahan akses pembiayaan.

Menjaga Akar di Era Digital

Rangkaian agenda penataan ekonomi ini ditutup dengan napak tilas historis ke makam Pahlawan Nasional Tjoet Nja Dhien di TPU Gunung Puyuh dan Museum Prabu Geusan Ulun.

Ziarah ini menegaskan pesan substantif: lompatan teknologi dan komersialisasi ekonomi modern tidak boleh mencabut Sumedang dari akar sejarahnya.

Bagi Sumedang, sejarah adalah modal inspirasi, budaya adalah pemantik kreativitas, dan industri kreatif adalah jalan menuju kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.***