Kekacauan Penamaan dan Akar Identitas

  • Bagikan

Oleh Nizar Machyuzaar

Hari ini, Rabu 24 Maret 2021, sebuah pesan melalui aplikasi berbagi pesan Whatsapp masuk ke nomor pribadi saya. Dalam pesan berinti undangan untuk menyaksikan pengukuhan komite, suatu kelompok yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas tertentu oleh kelompok yang lebih besar, biasanya orang-orang tersebut berasal dari kelompak itu sendiri (KBBI daring), terbaca Tau gak sih di Kota Tasik udah ada yang namanya TCIC (TASIK CREATIVE &INNOVATION COMMITTEE) sebuah organisasi yang menaungi para pelaku Ekonomi Kreatif .

Acara tersebut digagas oleh masyarakat yang bergerak dan peduli atas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan mengedepankan semangat kreativitas dan inovasi. Pengukuhan diselenggarakan di Kampung Hawu dan dapat ditonton melalui kanal aplikasi Youtube yang dibuat panitia. Namun, ada hal yang menarik yang membuat saya akhirnya membuat tulisan ini, yakni penamaan sebuah kelompok TCIC (TASIK CREATIVE & INNOVATION COMMITTEE). Diksi yang digunakan untuk melabeli nama kelompok tersebut memakai frasa dalam bahasa Inggris.

Tidak hanya itu, ada peristiwa lain yang juga sudah lama saya renungkan. Di setiap bulan Oktober, Kota Tasikmalaya membuat perayaan dengan dana besar, yakni TOF (Tasik October Festival) yang memang melibatkan instansi Disbudpar Kota Tasikmalaya. Saya pun menjadi teringat pada sebuah papan penyedia informasi milik pemerintah Kota Tasikmalaya, tepatnya di pintu masuk Kompleks Olahraga Dadaha dan di Jalan BKR, di sana tertera sambutan Selamat Datang,Komplek Olahraga Dadaha Kota Tasikmalaya. Belum lagi, penamaan-penamaan hotel, kafe, dan UMKM yang terbaca di jalan-jalan utama Kota Tasikmalaya dapat menguatkan asumsi bahwa kita sebagai masyarakat memiliki cita rasa berbahasa keinggris-inggrisan.

Cita rasa dalam berbahasa dapat terbaca dari produksi penamaan. Selain itu, jika penamaan menandai kesalahann dalam ketatabahasaan, dapat diasumsikan bahwa hal ini juga menandai kesalahan pikiran. Sebagai contoh, dalam frasa TASIK CREATIVE & INNOVATION COMMITTEE terdapat kesalahan menyejajarkan kata dalam bahasa Inggris, yakni creative dan inovation. Dua kata tersebut seharusnya ditulis dalam jenis kata yang sama, bisa dalam kata sifat creative dan innovative atau dalam kata benda creation dan innovation. Mengapa tidak panitia membuatnya dalam frasa bahasa Indonesia? Frasa Inggris tersebut dapat dapat dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Komite Kreatif dan Inovatif Tasikmalaya.

Hal ini pun terjadi dalam penamaan Komplek Olahraga Dadaha Kota Tasikmalaya. Kata complex dalam bahasa Inggris diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadai kompleks. Saya menyayangkan, produksi bahasa Pemerintah Kota Tasikmalaya telah memberi contoh yang tidak baik terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dan bahasa Nasional. Sementara itu, untuk penamaan Tasikmalaya October Festival dapat dialihbahasakan menjadi Festival Oktober Tasikmalaya.

Hal ini menjadi teristimewa karena diksi dan cita rasa berbahasa dapat menandai kekacauan dalam berpikir. Hal yang tentu dihindari kita semua. Selain itu, dalam globalisasi informasi, kata, frasa, klausa, dan kalimat dalam bahasa Inggris memang akrab dengan keberaksaraan kita. Lebih jauhnya, kita dapat membayangkan bahasa ibu seperti bahasa Sunda dan bahasa Nasional seperti bahasa Indonesia akan kacau pemakaiannya karena alih kode bahasa yang kacau. Lalu, boleh jadi suatu saat bahasa ibu dan bahasa nasional hilang yang menandai hilangnya kekayaan pengetahuan dan kearifan suatu masyarakat.

Mungkin, satu contoh yang menandai bahwa masyarakat kita menyelami dan menghargai kelokalan sebagai identitas adalah penamaan pesantren, seperti Pesantern Cipasung, Pesantren Haur Kuning, Pesantren Cilendek, dst. Mengapa para ajengan terdahulu tidak memilih dalam diksi dalam bahasa Arab? Boleh jadi, mereka menghargai identitas yang dikukuhkan melalui penamaan yang kian hari kian tercerabut akarnya.

  • Bagikan