Khittah Perjuangan Kartini

  • Bagikan

Oleh Ipa Zumrotul Falihah
Aktifis Perempuan, Direktur Yayasan Taman JINGGA

Manusia adalah salah satu makhluk terbaik ciptaan Allah (QS at-Tiin: 4). Manusia memiliki dua jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, perempuan memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Perempuan sudah seharusnya menjaga harkat dan martabatnya sebagai Muslimah. Apalagi, di tengah gelombang arus perubahan zaman seperti saat ini.

Kita bisa baca dan telaah banyaknya hadis dan ayat Alquran yang menjelaskan tentang keistimewaan perempuan. Bahkan, dalam Alquran diabadikan dalam surah keempat, an-Nisa (perempuan) dan disebut sebanyak 59 kali dalamnya. Sungguh, hal ini membuktikan bahwa perempuan memang sangat terhormat kedudukannya.

Apalagi, saat ini diperkuat dengan fakta, banyak perempuan yang menduduki jabatan penting dan beraktualisasi diri di ruang publik untuk memberi manfaat kepada masyarakat, serta turut andil dalam memajukan bangsa dan negara.

Meski masih ada kesenjangan antara laki-laki dan perempuan, tetapi sejauh ini sudah ada perkembangan yang luar biasa untuk kemajuan perempuan, dan hal tersebut tidak lepas dari perjuangan para aktifis perempuan pada masanya.

Perjuangan yang paling bersejarah serta melegenda adalah perjuangan oleh Raden Ajeng Kartini yang populer dengan sebutan ibu Kartini. Seperti lagunya yang juga melegenda dengan ibu kita kartini. Bahkan atas jasanya kartini dinobatkan sebagai salah satu pahlawan Nasional, karena pemikiran pemikiran dan gebrakannya menjadi tonggak awal kemajuan perempuan di Indonesia.

Kartini memang tidak pernah mengangkat senjata dalam berpereng melawan penjajah, tapi dia tetap menjadi sosok pahlawan bagi Indonesia. Melalui pemikirannya, dia mampu mengangkat derajat perempuan agar bisa setara dengan kaum laki laki. Kartini berpereng melawan kebodohan dan ketidakadilan.

Kasta sosial waktu itu menunjukkan bahwa perempuan harus berada di bawah laki-laki. Selain itu, perempuan juga tidak memiliki hak untuk berpendapat, mendapatkan kebebasan dalam hal pendidikan bahkan untuk memilih pasangan hidupnya pun tidak dapat memilih. Seolah-olah semua perilaku perempuan sudah diatur sedemikian rupa oleh adat istiadat turun temurun yang tidak boleh dilanggar.

Namun, Kartini memiliki pemikiran yang berbeda. Dia merasa bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Itulah yang mendasari keinginan Kartini untuk memajukan perempuan Indonesia saat itu.

Kondisi tersebut akhirnya membuat Kartini bertekad untuk memajukan perempuan Indonesia. Beliau mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk perempuan di Jepara. Sekolah itu dinamakan sekolah Gadis. Di Sekolah tersebut diajarkan cara menjahit, menyulam, memasak dan keahlian lainnya.

Kisah hidup Kartini cukup singkat. Ia wafat pada tahun 1904 dalam usia 25 tahun, empat hari setelah ia melahirkan cukup menyedihkan memang meninggal diusia muda dalam keadaan mengejar mimpi-mimpinya. Tapi setahun sebelum meninggal, Kartini telah berhasil membuka Sekolah Gadis. Walau kartini tidak sempat berbuat banyak untuk kemajuan bangsa dan negeri ini, Kartini berhasil mengemukakan ide-ide pembaharuan masyarakat yang melampaui zamannya melalui surat-surat yang ia tulis yang sangat bersejarah.

Cita-cita kartini yang tinggi dituangkan dalam surat-suratnya kepada kenalan dan sahabatnya orang Belanda di luar negeri, yaitu Tuan EC Abendanon, Ny MCE Ovink-Soer, Zeehandelaar, Prof Dr GK Anton dan Ny Tuan HH von Kol, dan Ny HG de Booij-Boissevain.

Surat-surat Kartini tersebut diterbitkan di negeri Belanda pada 1911 oleh Mr JH Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh sastrawan pujangga baru Armjn Pane pada 1922 dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam tulisan kartini selain berbicara masalah cita-cita untuk kemajuan kaum perempuan/emansipasi wanita, Kartini juga menulis tentang makna ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan, perikemanusiaan juga nasionalisme.

Pemikiran-pemikiran Kartini itu mengenai emansipasi wanita atau persamaan hak wanita pribumi dianggap sebagai hal baru yang bisa merubah pandangan masyarakat di Zaman itu yang masih kolot dan terkungkung adat.

Perjuangan Kartini adalah perjuangan emansipasi wanita waktu itu. Perkataan `emansipasi` berasal dari bahasa Latin, emancipatio, artinya pembebasan dari suatu kungkungan atau ikatan. Walau demikian, cita-cita emansipasi Kartini bukanlah westernisasi` atau meniru begitu saja kebudayaan Barat.

Kartini berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat. Kartini seorang wanita muslim yang menghendaki bangsanya maju, sebagaimana agama Islam mewajibkan umatnya untuk bisa membaca dan menulis. Kartini telah menggagas budaya literasi jauh hari sebelum kata literasi itu populer di negri ini. selain itu kartini ingin para perempuan beramal kebaikan untuk memberi kemanfaatan kepada manusia lainnya tanpa batasan gender.

Prof Dr HAMKA sebagaimana dikutip Solichin Salam pada bukunya, Kartini Dalam Sejarah Nasional Indonesia (1983), mengemukakan beberapa pandangan, ”Saya melihat dalam salah satu suratnya Kartini, dia mengatakan tetap senang dengan Islam, dan tidak akan pindah memeluk agama lain. Jadi, meskipun di situ dalam karangannya jelas beliau itu tidak penuh pengetahuannya tentang Islam, tetapi menunjukkan bahwa beliau cinta kepada Islam”.

Lanjut Hamka, “Saya menulis dalam Pedoman Masyarakat, kalau Kartini masih hidup sekarang dan melihat perempuan sekarang yang ke-Barat-baratan dengan pakaian-pakaiannya, dan hanya memakai kebaya setahun sekali waktu perayaan Hari Kartini saja. Apakah itu yang dikehendaki Kartini? Bukankah malah kartini akan mengumpat?”

Padahal Kartini justru menganjurkan agar wanita Indonesia memiliki kepribadian sendiri, kepribadian yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia juga ajaran agamanya.

Kepribadian perempuan Indonesia dimata dunia adalah ramah,sopan,lemah lembut, cantik, bangga dengan budaya bangsa serta memiliki prinsip kuat terhadap agamanya. Tetapi nilai budaya dan karakter perempuan asli Indonesia saat ini hampir tergilas oleh pengaruh global. Hal ini sangat disayangkan perempuan sekarang ini nampaknya ada yang larut dalam gempita dunia maya yang terkadang kurang memperhatikan tentang baik dan buruknya karakter.

Sering kita temukan sebagian perempuan memposting foto-foto yang kurang sopan, berkata-kata yang kurang pantas, hujatan dan ujaran kebencian sampai berpakaian minim tentunya itu tidak mencerminkan karakter asli bangsa Indonesia yang lemah lembut, sopan, luwes, handap asor dan kental dengan rasa malu.

Tentunya malu ketika berperilaku yang kurang sopan, baik di media sosial maupun dalam kehidupan nyata ketika berinteraksi dengan masyarakat. Karena sejatinya kehidupan di dunia maya juga di dunia nyata sama sama harus memegang prinsip kesopanan etika yang beradab.

Selanjutnya dari hari ke hari pada sebagian masyarakat kita merasakan sesuatu yang hilang dari kehidupan, yaitu keteladanan dan kehangatan cinta perempuan dalam sosok seorang ibu. Padahal, peranan ibu dalam membangun keluarga dan kehidupan masyarakat sangat penting, tidak saja pada masa lalu dan masa kini, tapi juga untuk masa mendatang.

Ibu merupakan saka guru peradaban sehingga Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Wanita ialah tiang negara. Bila wanitanya baik, baiklah negara dan bila wanitanya buruk, rusaklah negara.”. Semoga peringatan Hari Kartini menyadarkan kaum perempuan yaitu para ibu pada tuntutan menyiapkan generasi penerus bangsa yang lebih baik, generasi bangsa yang unggul dan juga berkarakter yang siap membangun peradaban. Surat Kartini kepada Ny Abendanon 21 Januari 1902 menyatakan, ”Perempuan itu jadi saka guru peradaban. Dalam sekali makna kartini memposisikan kaum perempuan.

Dari perempuanlah pertama-tama manusia menerima didikan. Ibu dikenal sebagai madrasah pertama bagi anaknya, ditangan ibu anak itu belajar merasa dan berpikir, berkata-kata, dan makin lama makin tahulah bahwa didikan yang mula-mula itu besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian hari.

Dan betapakah ibu bumiputra akan sanggup mendidik anaknya bila mereka sendiri tiada berpendidikan?” Pertanyaan Kartini itu telah terjawab dengan kemajuan dunia pendidikan sekarang ini. Namun, di balik itu patut direnungkan, pendidikan dan kemajuan yang harus dicapai perempuan tidak boleh hanya karena semangat bersaing, ingin sejajar dengan atau tidak ingin ketinggalan dari laki-laki saja.

Tingkat pendidikan perempuan yang semakin tinggi dan karier yang cemerlang haruslah berbanding lurus dengan kualitas perempuan itu sendiri, kualitas keluarganya, kualitas juga kepribadian anak-anak yang dilahirkannya.

Pendidikan bagi perempuan haruslah berangkat dari filosofi dasar bahwa ”Mendidik seorang perempuan berarti mendidik satu keluarga, dan mendidik satu keluarga sama dengan membina satu generasi”. Barangkali di situlah kemuliaan perjuangan Kartini bagi kemajuan negeri dan makna perjuangan Kartini sesungguhnya yakni menyiapkan generasi penerus bangsa.

Maka sehebat apapun karier seorang perempuan dan setinggi apapun jabatannya jangan sampai melupakan tugas utama dalam mendidik menyiapkan generasi bangsa ini dengan baik, butuh keseimbangan dan kesadaran penuh dari para perempuan selain tentu bekal ilmu dalam mengasuh, mendidik, membesarkan anak anaknya.

Nilai Khittoh perjuangan kartini sejatinya adalah khittoh perjuangan yang ingin mengangkat derajat kaum perempuan. Didalamnya ada beberapa harapan kartini yang ingin diwujudkan. Yaitu harapan ingin kaum perempuan jawa pada masa itu menjadi kaum cendekia yang sejajar dengan kaum laki-laki. Perempuan yang memiliki persamaan hak, bahwa pada intinya adalah hidup harus memiliki nilai manfaat bagi manusia lainnya. memiliki jiwa dan semangat membangun bangsanya dari ketertindasan bangsa lain.

Dan yang tak kalah penting adalah tetap menyempurnakan diri menjadi ibu rumah tangga yang cerdas, tanggap dan sigap serta memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak penerus bangsa nanti. Ini yang banyak terlupa sehingga menghilangkan esensi dari perjuangaan kartini itu sendiri. Jangan sampai karir tinggi anak dirumah gagal dididik oleh ibunya sehingga itu merupakan penghianatan atas perjuangan kartini.

Moment peringatan hari Kartini setiap tanggal 21 April yang merupakan tanggal lahir Raden Ajeng Kartini pada 1879 tentu tidak sekadar memperingati Kartini sebagai tokoh sejarah, tapi kita perlu mencermati ide-ide yang diperjuangkannya. Pemikiran pemikirannya yang visioner serta tindakannya yang nyata merealisasikan apa yang menjadi harapannya agar perempuan benar benar maju, cerdas dan bisa memberi manfaat bagi orang banyak namun tetap memegang prinsip kepribadian perempuan Indonesia yang sopan lembut serta memegang teguh ajaran agama.

Mengenang Kartini tidak hanya sebatas mengadakan perlombaan perlombaan, acara ceremoni tahunan, peragaan busana kebaya, memakai konde, ataupun mengadakan pawai. Yang harus kita lakukan adalah menjiwai pemikiran pemikiran kartini, mencontoh semangat dan kecerdasan Kartini untuk selalu memperjuangkan harkat dan martabat perempuan.

Ruh semangat kartini yang harus menjadi inspirasi dan melandasi setiap gerakan kaum perempuan dalam memajukan kaumnya juga turut andil dalam memajukan bangsa dan negara dengan benar benar mendidik anak anaknya dengan baik dan berkualitas beradab sebagai generasi penerus bangsa.

Sebagai perempuan Indonesia, Jiwa dan semangat Kartini juga banyak menginspirasi kaum perempuan yang sekarang senantiasa konsisten dalam pergerakan dalam memajukan kaumnya, mengangkat harkat derajatnya juga berkontribusi untuk negri dengan tetap menggenggam nilai luhur budaya bangsa dengan terus -menerus memperjuangkan emansipasi perempuan.

Nilai karakter dalam diri Kartini sejatinya adalah nilai karakter yang sungguh luar biasa, nilai karakter peduli akan pendidikan bagi kaum perempuan juga pendidikan untuk menyiapkan generasi bangsa sebagai saka guru peradaban.

Hal ini tentu menjadi karakter yang sebaiknya dilestarikan oleh kaum perempuan dimasa sekarang. karakter saling memberi manfaat, karakter saling memajukan, karakter saling memotivasi juga tentunya saling mengoreksi untuk sama sama maju dan sukses diantara sesama perempuan itu sendiri.

Ruh karakter ini sangat penting menjadi landasan pergerakan perempuan karena itulah Nilai Khittah dalam perjuangan kartini sesungguhnya. Maka sejatinya tidak ada lagi baperan (bawa perasaan) dalam kancah pergerekan perempuan kecuali baperan dalam arti bawa perubahan untuk kemajuan perempuan juga bangsa dan negara.***

  • Bagikan