Kopiah H. Iming Apa Kabarnya Kini?

  • Bagikan
Karyawan pembuat kopiah Mang Iming saat ini sudah generasi kelima sama dengan penerus perusahaan yang juga generasi kelima.

Peci, songkok, atau kopiah H. Iming sudah jadi jenama atau branding yang kuat sejak diproduksi tahun 1918 silam. Pernah diproduksi di kawasan Cibungkul, Indihiang Kota Tasikmalaya. Kemudian berjaya di Bandung. Lalu dikembangkan juga di Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya.

Apa kabarnya hari ini? Apakah produksi kopiah tersohor itu masih berlanjut? Ataukah layu tergerus zaman?

Ternyata masih berdenyut. Penerusnya, Muhammad Rienat Pradila (33), generasi kelima, malah tertarik membangun Kampung Kopiah di Pagerageung Kulon, memberdayakan masyarakat khususnya kaum muda.

“Kami ingin para pemuda desa itu berdaya secara ekonomi dan melalui Kampung Kopiah ini masyarakat bisa memiliki penghasilan. Di samping juga bisa dikembangkan menjadi desa wisata,” katanya.

Harus Punya Wudu
Proses pembuatan kopiah H. Iming bisa menjadi edukasi. Ada proses yang religius. Memproduksi Kopiah M. Iming tidak asal-asalan. Standar operasional tetap yang dijaga sampai sekarang, para pekerja. Semua pegawai diwajibkan berwudu sebelum bekerja.

“Mang Iming dulu mewajibkan setiap mau membuat kopiah pekerja itu harus wudu dulu dan ketika batal pun harus kembali wudu. Jadi harus selalu dalam keadaan suci,” katanya.

Sejauh ini kopiah H. Iming sudah terkenal di berbagai kalangan. Banyak pejabat di Indonesia yang memakai Kopiah H. Iming termasuk para menteri, gubernur bupati dan juga masyarakat biasa. Nama Aang Kunaefi, Ali Sadikin pelanggan tetap M. Iming.

Saat ini, H. Iming memiliki tujuh tenaga ahli yang sudah 20 tahun bekerja membuat kopiah. Masing-masing tenaga ahli hanya mampu memproduksi 30 biji dalam seminggu . Dengan demikian produksi H. Iming dalam seminggu hanya 210 unit saja.

“Makanya harga jual kopiah H. Iming lumayan mahal. Karena produksinya terbatas dan mengutamakan kualitas produk,” ujarnya lagi.

Harga jual kopiah H. Iming saat ini dibanderol Rp 50.000 untuk yang paling murah dan Rp 400 ribu untuk yang paling mahal dengan seri kopiah R, S ,A , M, dan D. Dari sisi kualitas kopiah yang diproduksi secara turun temurun itu sangat dijaga.

Kualitas Racekan
Kelebihan lain dari kopiah M. Iming itu racekan di dalam kopiah. Dan ternya tidak mudah membuatnya. Dalam sehari para pekerja hanya bisa memproduksi sebanyak 20 lembar saja. Dan untuk bisa membuat racekan yang sesuai standar, itu butuh waktu satu tahun.

Ia menyebutkan kenapa ingin membangun Kampung Kopiah di Tasikmalaya, itu untuk mencoba mengejar ketertinggalan Jawa Barat di tingkat nasional. Karena saat ini pasar nasional kopiah atau singkok dikuasai oleh produk dari Kebumen, Gresik Jawa Tengah.

“Padahal produk kopiah dari Jawa Barat khususnya H. Iming sudah sangat terkenal dan pasarnya pun terbuka lebar di tingkat Nasional. Hanya saja terbatas dalam jumlah produksi,” katanya.

Turunan Temurun
Bukan hanya pemilik yang terus turunan temurun dari generasi ke generasi. Ternyata para pekerja termasuk penjaga toko H. Iming juga turun temurun dari keluarga ke keluarga.

Pekerjaan pembuat kopiah saja saat ini sudah ke generasi kelima sama persis dengan penerus perusahaan yang juga generasi kelima.

“Alhamdulillah semua yang terlibat dalam pembuatan kopiah Mang Iming ini sudah seperti satu keluarga. Kita tidak ada jarak dengan pekerja sudah seperti keluarga. Kita tidak berani merubah manajemen yang sudah diterapkan orang tua dulu,” katanya.

Penjaga tokonya saja kata dia sudah bekerja selama 60 tahun dan tenaga ahli yang membuat kopiah masa kerjanya sudah lebih dari 20 tahun itu semua merupakan keturunan dari pekerja sebelumnya.

Bukan hanya itu mesin yang digunakan juga masih menggunakan mesin lama dan belum ada yang diganti. Pelanggan H. Iming juga ternyata turun temurun dari generasi ke generasi sehingga pasarnya masih sangat luas.

Untuk bahan baku kata dia, pihaknya mendatangkan dari luar negri dengan kualitas bagus. Dulu bahan baku di datangkan dari Eropa, namun sekarang karena ada aturan bahan diimpor dari Asia, tetapi dengan kualitas bagus.

“Mang Iming dulu sudah terkenal dengan menggunakan bahan yang berkualitas dan tidak mau yang abal-abal. Jadi kualitas sampai saat ini tetap kami jaga,” katanya.

  • Bagikan