Kota Tasikmalaya Darurat COVID-19

  • Bagikan
Pasien tertahan di IGD RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya saat PPKM Darurat.*

Oleh Dadan Yogaswara, S.KM.,M.KM.
Ari Kusmara, S.KM.
Penulis adalah Ahli Kesehatan Masyarakat

Semakin hari kasus positif Covid-19 semakin meningkat, kondisi ini mengakibatkan masalah semakin dalam dan kelam.

Mungkin saat ini adalah puncak kegelapan pandemik covid-19 karena banyak keluarga, saudara, tetangga, dan masyarakat di sekeiling kita mengalami sakit tersebut bahkan sampai harus kehilangan nyawa.

Selain menimbulkan korban jiwa, covid-19 juga berdampak terhadap kerugian secara ekonomi (economic loss) karena biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan dalam upaya mempertahankan hidup sangat besar.

Dampak lain adalah banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena di PHK, bisnis gagal yang akhirnya gulung tikar.

Sampai pada tanggal 15 Juli 2021, kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) covid-19 sangat tinggi.

Di Indonesia tercatat sebanyak 2.670.046 dengan kematian 69.210 (2,59%), di Jawa Barat sebanyak 488.686 dengan kematian 7.028 (1,44%).

Kasus di Kota Tasikmalaya sebanyak 10.533 dengan jumlah kematian 346 orang ( 3,16%), angka kematian ini jauh melebihi angka nasional dan Jawa Barat, dengan peningkatan kasus yang tinggi ini maka sudah dalam keadaan sangat darurat.

Sehingga pemerintah dan masyarakat harus menyelesaikannya secara bersama-sama dan serius.

Kematian pasien covid-19 terus meningkat sampai tanggal 15 Juli sebanyak 346 orang, dengan distribusi kematian pasieen covid-19 ini masih didomunasi oleh kelompok usia lanjut.

Kematian usia > 60 tahun ada 172 orang (49,71%), 50-59 tahun 87 orang (25,14%), 40-49 tahun 52 orang (15,03%), 30-39 tahun 16 orang (4,62%), 20-29 tahun 14 (4,05%), <10 tahun 5 orang (1,45%).

Semenjak diberlakukan PPKM yang dimulai pada tanggal 3 Juli 2021 tercatat kematian sebanyak 100 orang.

Sebanyak 13 diantaranya meninggal di rumah, yang diduga karena penderita memeriksakan sendiri, dan ketika terkonfirmasi positif covid-19 kemudian mengisolasi diri dan mengobati sendiri di rumah dan akhirnya meninggal.

Perilaku ini terjadi karena disebabkan penderita mengalami ketakutan dengan stigma, dan mencari info sendiri, bahkan ada beberapa kasus yang beli antigen sendiri namun tidak melaporkan dan akhirnya meninggal di rumah.

Untuk menghindari kasus kematian di rumah, maka sebaikanya yang merasa terpapar covid-19 tetap melaporkan diri ke puskesmas setempat, ke RT atau RW, dan bisa langsung telepon ke 119 untuk pelaporan kasus.

Kondisi pandemi covid-19 di Kota Tasikmalaya yang semakin hari terus meningkat ini sudah sangat mengkhawatirkan bahkan sudah menimbulkan kecemasan bagi pemerintah dan masyarakat.

Fasiitas kesehatan juga sudah sangat kewalahan baik dari ketersediaan tempat perawatan maupun tenaga kesehatannya, penderita kesulitan untuk mendapatkan ruang perawatan, tidak tersedianya perawatan untuk pasien ICU karena penuh dan terbatas, oksigen mengalami kekurangan.

Karena jumlah kasus tidak sebanding dengan kapsistas rumah sakit dengan tingkat keterisian lebih dari 90%.

Kemungkinan kasus covid-19 seperti fenomena gunung es yang artinya bahwa ada ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang tidak terdeteksi dan teridentifikasi padahal sangat berpotensi menyebarkan atau menularkan dengan tanpa bisa terkendali.

Salah satu penyebab kondisi ini karena tracing (pelacakan) tidak bisa dilakukan secara maksimal. Kota Tasikamalaya menargetkan pelacakan sebanyak mungkin namun saat ini baru terelisasi 1:2 artinya bahwa dari satu orang terkonfirmasi positif, hanya 2 kontak eratnya yang bisa dilacak, jauh di bawah rasio tracing yang diharapkan yaitu 1:15.

Penyebab lain penularan akan terus bertambah karena karakteristik orang yang terkena covid-19 sebagian besar tidak bergejala sementara penularan sangat tinggi yang terjadi pada saat sebelum muncul gejala.

Permasalah yang ditemukan di lapangan terkait dengan tracing yaitu; petugas tracing yang kewalahan dengan kasus yang banyak, petugas banyak yang positif covid, keterlibatan tracer lintas sektor masih kurang, banyak kasus yang menutup diri, Alat Pelindung Diri (APD) kurang.

Faktor ketidakjujuran, ketakutan karena stigma, tidak mau melaporkan, ketidakmauan diperiksa juga menjadi kendala dalam upaya pelacakan.

Tahap awal pelacakan kasus ini sangat penting karena bisa segera mengidentifikasi kontak seseorang yang terkonfirmasi telah terinfeksi. Sehingga bisa ditelusuri perihal aktivitas yang telah dilakukannya dan dengan siapa saja kontak eratnya, apakah dari keluarga, teman kantor, teman kumpul dan lainnya.

Data kontak erat yang tercatat perlu dilakukan pemeriksaan karena berpotensi untuk menularkan. Maka diperlukan kesadaran bagi siapa saja untuk jujur agar bisa menyelamatkan diri sendiri, melindungi keluarga, sahabat dan yang lainnya.

Dalam perspeketif kesehatan masayarakat pelacakan kasus Covid-19 merupakan upaya untuk mencegah terjadinya penambahan kasus dan mengurangi dampak kasus baik kematian maupun beban kerugian sosial dan ekonomi akibat penyakit covid-19 (burden of deseases).

Upaya Pencegahan masalah kesehatan masyarakat ini dikenal sebagai early diagnosis and prompt treatment yaitu penemuan kasus sesegera mungkin agar bisa diberikan pengobatan sesegera mungkin.

Pemerintah Kota Tasikmalaya terus meningkatkan kapasitas test harian untk covid-19, menyiapkan test antigen dalam jumlah yang banyak bagi yang kontak erat dan bergejala.

Ketika hasil tracking ditemukan sebanyak 10 orang yang kontak erat dan dari 10 orang tersebut mengalami gejala 6 orang maka 6 orang yang bergejala tersebut harus diperiksa antigen.

Tujuan dari pemeriksaan antigen yang bergejala ini adalah untuk bisa menyegerakan diagnosa agar bisa langsung diberikan pengobatan (treatment) segera.

Tujuannya untuk mengurangi terjadinya gejala berat yang bisa menimbulkan kompliasi dan kematian. Antigen ini sangat efektif digunakan untuk kontak erat yang bergejala pada hari ke 3 sampai hari ke 5.

Pemerintah juga menyediakan pelayanan PCR untuk kontak erat yang tidak bergejala.

Mari kita lawan Covid-19 dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dengan tetap menerapkan 5 M, patuhi juga Perberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kesehatan bukan hanya tanggungjawab pemerintah, namun menjadi tanggungjawab bersama. Wujudkan sehat mulai dari individu anggota keluarga, keluarga, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, dan Kota Tasikmalaya.

“Mari kita senantiasa panjatkan do’a, semoga Alloh SWT segera mencbut wabah ini, salam semangat dan sehat untuk kita semua”.***

  • Bagikan