Saat ini, membaca pemberitaan Tasikmalaya di berbagai media lokal, terbilang cukup menarik namun mengundang tanya.
Menarik, karena media sudah mampu membaca keinginan pembaca dengan membingkai berbagai fenomena, terlepas dari dampak atau bahkan kode etik yang mungkin dikesampingkan demi deadline dan kepentingan.
Namun di sisi lain, menariknya tersebut beriringan dengan satu pertanyaan mendasar yaitu bagaimana dan mengapa media membingkai berita suatu daerah?
Jika dirincikan, sampai saat ini, bagaimana media lokal membingkai pemberitaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Cihideung yang hingga saat ini masih semrawut?; tata ruang kota yang seringkali menyisakan tanya karena pekerjaannya yang dikenal asal-asalan?; fasilitas dan pelayanan publik yang seringkali dikeluhkan di media sosial?; penyandang disabilitas yang kurang diperhatikan?; kasus kriminal yang saat ini sedang marak terjadi?; hingga kearifan lokal Tasikmalaya yang perlahan sudah mulai bias?
Tentang PKL Cihideung yang semrawut, belum ada win-win solution yang mampu mengurai kesemrawutan PKL Cihideung hingga saat ini. Pemberitaan masih berputar pada nada negatif bahwa pemerintah dinilai belum mampu mengatasi permasalahan PKL.












