Dalam artian, berita yang dibingkai hanya sebagai upaya untuk diketahui saja. Terlebih di bidang kesehatan, pemberitaan seringkali tumpang tindih dengan kemampuan pemerintah dalam menanganinya. Padahal, di Tasikmalaya cukup banyak kampus-kampus kesehatan yang hasil risetnya bisa dijadikan rujukan solusi.
Kemudian pemberitaan tentang penyandang disabilitas. Pemberitaan ini sangat jarang di angkat dan dibingkai oleh media-media lokal. Jikapun ada, pemberitaan penyandang disabilitas seringkali dibingkai untuk mendulang iba dan belas kasihan. Padahal, sangat banyak penyandang disabilitas yang berprestasi namun luput dari pemberitaan.
Media terkesan tidak menyediakan ruang positif bagi para penyandang disabilitas. Bahkan sangat jarang media lokal yang secara khusus menyediakan ruang di media bagi penyandang disabilitas.
Jika ditelusuri, pemberitaan-pemberitaan di atas, sudah banyak dibangun dan dibingkai oleh berbagai media lokal. Namun sampai saat ini, media lokal hanya memproduksi berita berdasarkan apa yang diinginkan pasar, bukan apa yang dibutuhkan publik. Maka tidak heran, jika masyarakat menjadi suatu entitas yang seolah-olah tidak dikenal.
Terlebih bagi media online lokal, pemberitaan-pemberitaan di atas, tentu akan menghasilkan curious to click didukung dengan judul serta foto yang menarik.
Hingga pada akhirnya, berita hanyalah berita yang dibaca dan diketahui begitu saja. Tidak ada ikatan yang dibangun dalam upaya mengembangkan suatu daerah melalui pemberitaan.
Bahkan sangat mungkin media lokal tidak lepas dari berbagai bias, entah itu ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Padahal idealnya, media lokal menjadi watchdog, yang mampu mengkritik dan memberikan solusi yang berkeadilan (win–win solution).
Tantangan Industri Media Lokal di Era Digital
Di tengah era digital, membingkai berita bukan satu-satunya cara yang harus dilakukan upaya menyampaikan berita yang kredibel. Akan tetapi, terdapat sejumlah tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi. Tantangan-tantangan tersebut pula, jika tidak dicermati dengan baik, akan menggeser peran media sebagai rujukan informasi yang valid.
Pertama, media sosial. Media baru yang semua orang bisa akses ini, menyimpan fitur posting yang bisa digunakan kapan saja, tanpa mengenal biaya produksi dan redaktur. Hanya tinggal klik copy paste, berita bisa disebarluaskan ke berbagai media sosial dengan sumber ‘copast tetangga sebelah’.
Ironinya, cukup banyak orang yang percaya berita dari media sosial hingga membentuk pola pikir masing-masing. Kedua, akun-akun repost. Khususnya di Instagram, akun-akun seperti ini tugasnya hanya mengambil dan menyebarluaskan informasi yang sedang hangat tanpa melihat sumber yang diambilnya itu kredibel atau tidak.
Dari tantangan-tantangan di atas, industri media lokal harus bekerja ekstra upaya mengembalikan peran media sesungguhnya. Tidak mudah, memang. Namun, yang terpenting, mempertahankan kredibilitas serta kualitas berita menjadi yang paling utama. Jangan sampai, media ikut serta ke dalam hal tersebut hingga mengesampingkan kode etik jurnalistik.
Terkhusus dalam membangun suatu daerah, media salah satunya bisa membangun dan menggandeng kampus-kampus, dalam mencari solusi permasalahan daerah dari hasil riset-riset yang sudah dilakukan.
Menurut penulis, kajian riset kampus, menjadi salah satu solusi cermat yang ditawarkan kepada pemerintah melalui media. Sehingga, media tidak hanya membangun opini dari kutipan narasumber atau data di lapangan, akan tetapi membangun pula dari hasil riset-riset kampus yang sudah dilakukan berdasarkan metodologi serta kajian mendalam.
—- Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment —-
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web: https://kapol.tv
Twiter : https://twitter.com/kapoltv
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Instagram : https://www.instagram.com/kapol_id
Portal Inside : https://kapol.id/












