PKL pun terus-menerus dibingkai menjadi objek permasalahan. Pejalan kaki yang dirugikan, pedagang yang menempati rumah toko yang terhalang, misalnya, seringkali luput dari pemberitaan.
Pemberitaan ini seolah menjadi bola salju yang menggelinding. Berawal dari satu permasalahan PKL, kemudian penyalahgunaan fasilitas publik, hingga berujung kemacetan yang sangat membuat kesal bagi siapapun yang melihatnya.
Tidak ada bingkai sudut pandang lain yang digunakan upaya mencari dan menawarkan suatu solusi atas kesemrawutan tersebut.
Kemudian tentang tata ruang kota. Hal ini, cukup sering saya temui di berbagai grup media sosial. Masyarakat kecewa dengan kinerja pemerintah kemudian diungkapkan di media sosial lengkap beserta foto hasil kinerjanya.
Kekecewaan masyarakat tersebut, dibingkai oleh media hingga menjadi suatu opini publik yang dipahami bersama. Penulis belum menemukan, media yang membingkai pakar atau hasil kajian riset ilmiah seputar tata ruang kota, yang seyogyanya bisa menjadi solusi yang dibingkai media untuk pemerintah.
Selanjutnya tentang fasilitas dan pelayanan publik. Hal ini pula, sering saya temui di berbagai grup media sosial kekecewaan yang dialami masyarakat atas ketidakpuasaan pelayanan publik yang diberikan. Pemberitaan yang dibingkai pun, hanya berada pada permukaan.












