Miras dan Seks Bebas Kalangan Remaja di Kota Santri, Kok Bisa

  • Bagikan

Oleh Ipa Zumrotul Falihah
Pegiat Parenting, Direktur Yayasan Taman Jingga

Baru saja reda pemberitan penolakan PERPRES No 10 tahun 2021 tentang izin produksi minuman keras yang berakhir dengan pencabutan oleh Presiden Jokowi sebulan yang lalu.

Tapi sekarang ramai kembali berita maraknya remaja yang terjaring razia aparat sedang berpesta minuman keras di Kota Tasikmalaya yang konon dijuluki kota Santri.

Tak hanya minuman keras, di kalangan remaja ternyata berita seks bebas akibat pergaulan bebas membuatku terhentak kaget luar biasa.

Bayangkan saja, ada remaja di kota santri ini melakukan seks bebas dari mulai di hotel, kos-kosan sampai ada juga di jalanan di atas motor mengundang sejuta tanya di benak ini, kenapa bisa terjadi begini?

Dimanakah orang tua meraka? Kenapa sampai kecolongan dan hilang pengawasan? Lalu dimanakah peran pemerintah? juga apa kabarnya Perda Tata Nilai dan Perda Ketahanan keluarga? Sudah sejauh mana PERDA tersebut diimplementasikan dan disosialisaikan kepada masyarakat, kenapa remaja di kota Santri sampai ada yang begini.

Kemudian untuk apa banyaknya ormas ormas bertebaran di Kota Tasikmalaya bila tidak bisa bersinergi dengan pemerintah dalam mengantisipasi hal ini? Semoga kegiatan dan program kerjanya tidak hanya sebatas kegiatan seremoni sehingga lupa bagaimana menyiapkan generasi bangsa yang berahlak bermoral.

Tidak hanya menyiapkan kecerdasan akademis dan kreatifitasnya saja tapi bab moral terlupa karena Indonesia tetap memegang norma norma agama dan budaya serta adat ketimuran meskipun kecanggihan teknologi arus informasi dahsyat pesatnya di kalangan remaja kita.

Minuman keras penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika dan bahan berbahaya lainnya maraknya seks bebas dengan berbagai implikasi dan dampak negatifnya.

Merupakan suatu masalah global yang mengancam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara terutama menghancurkan generasi penerus bangsa ini memang banyak terjadi di banyak daerah bukan hanya di kota Tasikmalaya.

Namun bukan berarti kita bisa santai dan membiarkannya sebagai suatu kewajaran dampak dari kemajuan zaman tapi harus diantisipasi dicegah sinergitas semua pihak ambil bagian dalam pencegahannya.

Berdasarkan permasalahan tersebut sosialisasi Perda ketahanan keluarga yang sudah disahkan tahun 2019 yang lalu mesti direalisasikan serta diimplementasikan poin-poin pentingnya agar perda ini bisa difungsikan terutama untuk ketahanan keluarga di tiap keluarga yang memiliki anak-anak.

Generasi bangsa terutama anak remaja yang sedang mengalami masa transisi masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa sehingga besar kepenasaranan dan keingintahuannya dan mengalami krisis jati diri pada fase ini.

Maka sebelum terlambat perlu diantisipasi secepatnya dengan gerakan nyata bukan ceremonial belaka.

Lingkungan keluarga memiliki peran dalam memberikan pondasi yang kuat bagi para remaja agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, seks bebas, narkoba dan minuman keras juga penyakit moral lainnya.

Untuk itu, menjalin komunikasi dengan setiap anggota keluarga sangatlah penting dilakukan oleh para orang tua terlebih kepada anak yang masih remaja.

Rasa keingintahuan mereka sangat tinggi, sehingga butuh pendampingan dari orang tua dalam memberikan pemahaman menjadi sahabat dan teman bicara mengawasi pergaulannya sehingga tidak terjadi kekosongan ruang dalam diri anak remaja yang dimanfaatkan oleh salah pergaulan di luar sana.

Adapun peran serta pemerintah juga ormas-ormas bisa melakukan sosialisasi juga pembinaan hukum dan penyuluhan pendidikan kesehatan di kalangan remaja ini sangat perlu dilakukan agar mereka lebih mengerti dan memiliki daya tangkal terhadap pengaruh negatif serta memiliki prinsip supaya bisa memfilter hal-hal atas perkembangan zaman sehingga bisa memilih kegiatan positif dan menghindari hal negatif.

Kota Tasikmalaya merupakan salah satu kota berkembang di Jawa Barat. Banyak daerah wisata yang penduduknya kompleks, perkembangan positif dari sisi wisata, kuliner, kafe dan kedai kopi, mall juga tempat hiburan lainnya berimplikasi adanya kemajuan zaman dan perkembangan pergaulan bebas. Kondisi tersebut jelas dapat mengakibatkan pengaruh positif maupun negatif.

Untuk menghindari pengaruh negatif, harus ada benteng yang kuat dari para remaja dalam menangkal pengaruh-pengaruh negatif. Mulai dari rumahnya masing-masing, pengawasan oleh orang tuanya masing masing, pola asuh yang benar serta ketahanan keluarganya.

Penanaman prinsip kekuatan akidah, Pembinaan hukum maupun penyuluhan pendidikan kesehatan terhadap penyalahgunaan narkoba, bahaya miras di kalangan remaja perlu dilakukan oleh semua pihak bersinergi baik oleh pemerintah ormas juga lembaga lembaga lainnya dan ditingkatkan lebih intens mengkampanyekan hal tersebut.

Lalu menginformasikan dan menyebarluaskan bahaya dari minuman keras, pengaruh penggunaan narkotika, psikotropika dan bahaya seks bebas.

Semoga dengan pemahaman ini juga kekuatan prinsip penanaman akidah bisa mengurangi bahkan mencegah terjadinya dekadensi moral dikalangan remaja di kota Tasikmalaya.***

  • Bagikan