oleh

Muhibah Budaya Sumedang ke Perancis, 30 Orang Seniman, Biaya 800 Juta

Pada 26 Juli 2019, Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir kedatangan Duta Besar Perancis untuk Indonesia Mr. Jean Charles Berthonet beserta Istri.

Pada saat kunjungan tersebut, Kedutaan Besar Perancis mengapresiasi pelaksanaan Konser Impressions Universelles pada tanggal 11 Mei 2019 di Aula Simfonia Jakarta, kerjasama Pemda Kabupaten Sumedang dengan Jakarta Simfonia Orchestra, Institut Perancis dan Kedutaan Besar Perancis.

Pada kesempatan tersebut, Duta Besar Perancis mengundang Seniman Sumedang untuk Konser Gamelan di Paris Perancis.

Selanjutnya, pada 11 Maret 2020, Bupati Sumedang kedatangan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Perancis, Prof. Dr. Warsito.

Maksud kunjungan tersebut adalah mengundang Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk melakukan Muhibah Budaya ke Paris Perancis dalam rangka memperingati Ulang Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Perancis Ke 70.

Muhibah budaya tersebut sedianya akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Namun pelaksanaannya dijadwal ulang ke tahun 2021 karena merebak pandemi Covid-19.

Untuk transfortasi Muhibah Budaya dimaksud dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang.

Sementara biaya akomodasi dan fasilitasi selama di Perancis sepenuhnya akan dibiayai oleh KBRI di Perancis.

“Kebutuhan pembiayaan untuk memberangkatkan 30 orang seniman dari Sumedang mencapai Rp 800 juta (bukan Rp 1,2 Miliar),” kata Kabag Humas dan Protokol Setda Pemkab Sumedang, Drs. H. Asep Taufiq, Jumat 20 November 2020.

Biaya tersebut mencakup untuk transportasi, penyediaan alat kesenian, serta proverti pendukung lainnya.

“Selain muhibah budaya, yakni memperkenalkan potensi seni budaya dan pariwisata Sumedang kepada masyarakat Perancis dan Eropa, pihak KBRI di Perancis akan memfasilitasi pertemuan bisnis dan penjajagan sister city  antara Kabupaten Sumedang dengan salah satu kota yang sepadan di Perancis,” ujarnya.

Manfaat yang didapatkan Insya Allah jauh lebih besar dari biaya yang akan dikeluarkan.

“Selain menjadi ajang promosi pariwisata, muhibah budaya tersebut juga potensial menarik investasi internasional ke Sumedang, serta akan mendorong kerjasama lintas bidang secara berkelanjutan melalui skema sister city,” kata dia.

Terkait relevansi dan pentingnya Muhibah Budaya, dapat diinformasikan bahwa Gamelan Sarioneng Parakansalak (koleksi Museum Prabu Geusan Ulun) pada tahun 1889 pernah tampil memukau saat peresmian menara Eiffel melalui ajang Exposition Universelle.

“Rencana muhibah tersebut sejatinya adalah mengingatkan dan menarik kembali simpati dan atensi masyarakat Perancis terhadap Sumedang dan kekayaan budayanya,” ucap Asep.

Harapannya, akan berdampak terhadap sektor pariwisata, perdagangan dan investasi.

“Di era digital dan seiring arus globalisasi saat ini, kita semua memasuki babak baru dalam tatanan kehidupan dan berpemerintahan,” tuturnya.

Dunia kini tanpa batas (borderless). Kunci keberhasilan otonomi daerah, selain tergantung pada kelincahan daerah dalam mendayagunaan potensi daerah, juga terletak pada kepiawaian dalam membangun jejaring dan hubungan relasional di kancah regional, nasional, bahkan global.

“Saatnya Sumedang membuka diri dan siap menjemput kolaborasi tanpa batas.
Dari budaya untuk ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Sumedang,” ujarnya. ***

Komentar