Otonomi Pelajar Sebagai Substansi Kelajuan Generasi di Era Merdeka Belajar

  • Bagikan

Dian Sugiana,S.Pd.
Guru SMPN 1 Cibalong Kab. Tasikmalaya

Kita sadari bersama bahwa nampaknnya tidak terlalu sulit untuk dapat memastikan bahwa opini mengenai cepatnya perubahan peradaban manusia adakalanya melupakan kita terhadap hal yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa yaitu masalah moralitas.

Kita mengakui bahwa memang adakalanya bagi sebagian orang masalah moralitas adalah ranah pribadi yang tidak ada pihak manapun untuk bisa intervensi sehingga masalah ini dianggap sebagai masalah pribadi. Namun demikian pada dasarnya kewenangan masalah moral atas pribadi hendaknya dapat diarahkan agar dapat membawa kemaslahatan dan kemajuan bersama dan tidak menjadi pembenaran atas perilaku yang jelas-jelas merugikan pihak lain dan melanggar hukum.

Sehubungan dengan masalah moral maka pelajar di Indonesia pun tidak bisa lepas dari hal tersebut. Kita mengakui bahwa pada dasarnya seorang anak disekolahkan adalah salah satunya untuk memiliki moral yang baik atau akhlaK mulia, memiliki keterampilan serta berpengetahuan luas.

Seorang pelajar yang notabene sedang atau menuju masa remaja tentunya tidak bisa lepas dari ada kekurangan dan kelemahan termasuk dalam hal moralitas. Mungkin kita pernah memperhatikan bahwa di kalangan pelajar masalah moralitas merupakan topik utama dalam perbincangan antara lain : adanya pelajar yang malas dalam belajar, berkumpul tanpa tujuan, tawuran, pemalakan, terlibat kasus narkoba, kasus asusila, aksi curat-coret pakaian dan berkonvoi dengan kendaraan yang ugal-ugalan, berpenampilan acak-acakan dan kotor serta hal-hal lainnya.

Pada sisi lain, kita pun sepertinya dibuat supaya maklum bahwa sepertinya pelajar kita ini ingin dianggap unik namun berbeda dan tidak mau dibanding-bandingkan serta cenderung memberikan pembenaran atas tindakan salah dengan tindakan orang lain yang jelas salah dan melanggar pula.

Selain itu pun, ada kecenderungan remaja saat ini sangat didominasi oleh pikiran dan perilaku temannya. Dengan kata lain, pelajar saat ini sangat rentan terhadap hal-hal negatif yang dapat menjurus pada tindakan tercela dan melawan hukum dengan dalih hak azasi dan perasaan merdeka. Oleh karena itu sangat dibutuhkan solusi yang antara lain menanamkan otonomi moral yang memadai dan jelas.

Pelajar sebagai bagian dari komponen kemajuan bangsa perlu memiliki konsep otonomi moral sebagai manifestasi merdeka belajar dan juga bukti atas adanya otonomi moral yang terintegrasi dalam setiap perilaku keseharian baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Adapun otonomi yang dimaksud oleh penulis adalah pribadi yang bertanggung-jawab, sanggup berpikir sendiri, menentukan keputusan mandiri, rasional, dan etis berdasarkan nilai benar-salah berdasarkan nurani dan tidak membiarkan prinsip dan hidupnya dikendalikan oleh oleh orang lain (Michael S. Josephson, Van J. Peter, Tom Dowd, 2001).

Berkaitan dengan pentingnya konsep otonomi moral di atas maka kita perlu menyadari bahwa pelajar sebagai remaja dan individu tentunya segala permasalahan tidak lepas dari masalah dengan keluarga, sekolah dan dirinya sendiri. Adapun masalah remaja dengan keluarga meliputi hubungan dengan orang tua, saudara, penyesuaian norma dalam keluarga, konflik dengan tuntutan orang tua, dan sebagainya. Masalah dengan sekolah meliputi cara belajar, penyesuaian dengan pendidikan, penyesuaian dengan norma sekolah, pemilihan jurusan, pemilihan teman, hubungan dengan guru, dsb.

Masalah dengan dirinya sendiri meliputi kesehatan, agama dan pandangan hidup, penggunaan waktu, pertumbuhan jasmani, perkembangan seksual, keuangan, dan penyesuaian minat (Moh. Surya, 2003).

Sehubungan dengan persoalan di atas maka sudah selayaknya kita sebagai orang dewasa menjadi bagian dari solusi. Ingat, seorang pelajar tidak akan lepas dari lingkungan keluarga dan sekolah.

Oleh karena itu semua aspek penyelesaian ada pada dua komponen tadi. Solusi sebagai orang tua di lingkungan keluarga dapat dilakukan sebagai berikut bukalah komunikasi dengan anak secara intensif, berilah kebebasan mengambil keputusan dengan terlebih dahulu memberikan alternatif pemikiran, buatlah kegiatan yang dapat mengikutsertakan semua komponen keluarga, hindari sikap yang dapat melemahkan pendirian anak serta tetaplah memberikan keteladanan.

Berilah kesadaran kepada anak mengenai tanggung jawabnya sebagai pribadi dan bagian dari keluarga, buatlah semacam kebiasaan baik yang dapat mempertegas atas tugas dan tanggung jawab di rumah, berlakukan sanksi atas pelanggaran dan penghargaan atas prestasi anak, dsb.

Di lingkungan pendidikan / sekolah pun solusi dapat dilakukan oleh guru sebagai figur pendidik. Guru bertanggung-jawab untuk dapat berperan dalam memberikan pencerahan dan bimbingan betapa pentingnya memaksimalkan otonomi moral bagi seorang pelajar.

Diantara upaya yang dapat dilakukan oleh guru atau pendidik lainnya berkaitan dengan pentingnya otonomi moral bagi pelajar antara lain membantu pelajar dalam menjelaskan batasan dan arah serta konsekuansi atas pilihan dari keinginan pelajar, memperkukuh tanggung-jawab dan memperjuangkan atas pilihan hidupnya, tetap memberikan teladan kepada anak didik, terus – menerus menambah wawasan keilmuan dan membangun komunikasi efektif dengan anak didik, serta membangun kerjasama dan komunikasi dengan orang tua secara simultan.

Pada bagian akhir, penulis tentunya bisa menyimpulkan bahwa remaja yang berotonomi moral akan memiliki ciri yang berkecenderungan sebagai berikut : pola pikir dan perilakunya sangat didominasi oleh nilai-nilai positif, keyakinan, dan rasionalitas dalam mengambil keputusan, tidak mudah diintervensi dengan hal-hal yang sifatnya baru dugaan, selalu mengupayakan yang terbaik (win-win solution) dalam mencari pemecahan masalah atau menemui konflik, berfikir untuk kepentingan kemajuan bersama di masa depan, selalu mengupayakan untuk menjadi teladan dan bermanfaat bagi sesama, menjunjung tinggi semangat kebersamaan dalam keberagaman.

Kita berharap semoga pelajar kita mampu menjadi generasi muda yang dapat diandalkan dan dibanggakan demi kemajuan bersama apalagi di era merdeka belajar saat ini. Satu hal yang pasti sebagai jaminan atas pentingnya pelajar berotonomi moral adalah adanya karakter kuat untuk dapat menggunakan haknya secara bertanggung-jawab dan mengedepankan pemikiran berdasarkan akal sehat atas apa yang dikerjakan demi kemajuan bersama.

Apalagi dewasa ini bisa selaras dengan adanya tujuan merdeka belajar dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi kelajutan generasi kita. Semoga.***

  • Bagikan