Connect with us

OPINI

“Pemanasan” Menjelang Pilkada 2020 Kabupaten Tasikmalaya

|

Nandang Suherman | Analis Kebijakan Publik

Waspadai Sponsor Terselubung

Sekitar lima bulan lagi menjelang hari H pemungutan suara (Desember 2020) Pilkada Kabuparen Tasik, geliat politik sudah semakin kelihatan. Ditandai dengan pergerakan para aktor politik melakukan “lobi dan silaturahmi” tanpa terhalang oleh PSBB karena Covid.

Munculnya figur Balon Bupati di Blbaligo, ppanduk dan banner sudah menjadi hiasan biasa. Namun sudah kelihatan Balon yang masih bertahan dan serius menjadi balon -yang tadinya cukup banyak bermunculan- semakin mengerucut ke beberapa nama saja.

Pengerucutan ini karena beberapa hal, ada yang keseriusan figurnya, ada karena sikap parpol, ada karena “sponsor” mendanainya. Dari ketiga “indikator” tadi itu nama-nama figur yang masih bisa bertahan dengan berbagai aktivitas politiknya sampai saat ini.

Figur, parpol dan sponsor itu yang akan menentukan kedepan, siapa saja yang akhirnya bisa mendaftarkan ke KPU. Dan bisa terus melenggang ikut perhelatan dengan berbagai sumberdaya (jaringan dan uang) yang bisa menentukan berhasil dan tidaknya menjadi orang Nomor 1 di Kabupaten Tasik.

Kalau soal pendamping atau wakil, bisa penting atau berpengaruh, bisa juga tidak. Tergantung siapa figur yang menjadi pendampinya. Idealnya Pendamping (wakil) bisa menambah elektabilitas pasangan tersebut, apalagi bisa menambah “amunisi” modal uang dan jaringan yang benar-benar menjadi tenaga tambahan untuk memenangkan Pilkada.

Figur menjadi syarat utama ketertarikan pemilih -karena Pilkada langsung ini berdasarkan data-data- faktor figur menjadi kunci sukses meraih suara pemilih, dan dikonfirmasi oleh hasil survei yang biasa dilakukan menjelang hari H.

Ketertarikan terhadap figur bisa karena pribadi figurnya, termasuk tawaran gagasan yang ditawarkan. Sementara ada juga yang tertarik karena Parpol yang mengusungnya.

Biasanya pemilihseperti ini ada di sebagian kaum “dewasa/tua yang loyal terhadap parpol karena masih ada ikatan ekosional secara ideologi, dan di Tasik masih ada pemilih yang seperti itu.

Namun sebagian besar Pemilih tertarik karena “pribadi” figurnya. Maka hampir seluruh strategi pemenang ditumpahkan untuk “memoles” figur dengan beragam informasi yang “baik-baik” saja. Gambar pun dibuat semenarik mungkin, dan kadang bisa jauh dengan kenyataan kesehariannya.

Ketiga faktor penarik suara/pemilih, idealnya yang harus memenangkan pemilihan adalah yang punya “gagasan” rasional, terukur, bisa dilaksanakan. Karena gagasan ini yang bisa memberikan gambaran seperti apa Kab. Tasik mau diwujudkan kedepan.

Namun dalam kenyataan, sering pula kita temukan bahwa yang terpilih karena faktor kekuatan “uang-nya” dan itu yang mengkhawatirkan, karena kalau itu yang terjadi, maka perbaikan “kesejahteraan” warga akan tergadaikan lagi.

Dalam satu dua bulan ke depan kita akan melihat, pasangan mana saja yang “mulus” bisa mendaftar dan lolos di KPU. Sebab sehebat apapun figur, tanpa bisa di daftarkan oleh Parpol ke KPU, tetap tidak bisa menjadi Calon. Kecuali Independen yg sekarang sudah tutup dan tinggal menunggu pengumuman KPU saja, apakah lolos atau tidak.

Nah, yang menarik adalah “sponsor” di belakang masing-masing pasangan calon. Karena tidak bisa disangkal dan dinafikan bahwa peran sponsor pun cukup berpengaruh.

Sponsor menjadi krusial dan mestinya publik pun harus sudah mulai diberi informasi yg terang benderang terkait sponsor ini. Biasanya sopnsor itu yg nanti akan mempengaruhi terhadap jalannya roda pemerintahan, terutama terkait dengan anggaran dan program pembangunan” ke depan.

Sponsor akan berhitung, dana yang dikeluarkan dengan “keuntungan” yang harus didapat pada saat jagoannya itu menang.

Sementara partai politik, akan mengambil keuntungan politik pada saat berjalannya roda pemerintahan khususnya peluang pendanaan partai politik. Dana ini bisa dikumpulkan via aktor politik/kader yg duduk di DPRD atau yang punya usaha dengan mengandalkan proyek APBN/APBD.

Dua kekuatan ini yang akan mempengaruhi jalannya kebijakan pemerintahan paska Pilkada ini. Warga harus awas dan tetap mengawal serta kritis, apabila janji-janji politik yang telah disampaikan pada saat kampanye, ternyata dibelokkan untuk memenuhi keinginan sponsornya ini.

Kolaborasi warga kritis dengan media menjadi sangat penting, dalam memastikan jalannya pemerintahan di Kabupaten Tasik, agar tetap ajeg untuk kepentingan bersama.

Dan yang harus diwaspadai adalah sponsor “terselubung” yang tidak kelihatan di permukaan. Sebab biasanya dia bekerja di bawah “kegelapan” dan sulit dideteksi oleh kacamata biasa. Pada Pilkada Kabupaten Tasik 2020 ini, sponsor terselubung telah mulai bekerja. Wapadalah!

Nandang Suherman | Analis Kebijakan Publik

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *