oleh

Pengepul Bawang ala Timses

Oleh Nizar Machyuzaar

Selain sebagai bumbu, bawang dapat dijadikan obat herbal. Jenis umbi ini membuat mata berair ketika kita mengelupasnya per lapisan. Aroma khas ditimbulkan serat bawang. Menyengati indera penciuman. Ada yang senang ada pula yang merasa  terganggu. Bergantung bawah merah atau bawang putih yang diinderai.

Sebagai umbi yang menjadi kebutuhan primer perbumbuan, bawang menjadi komoditas impor. Mungkin, petani kita belum memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Untuk sampai di dapur, ada rantai distribusi. Di sini muncul istilah pengepul. Tidak jarang, pada waktu-waktu tertentu para pengepul bawang memainkan harga agar mendapat keuntungan yang tinggi.

Kita tahu. Setiap helai lapis bawang membumbui makanan. Menjadi penyedap rasa. Jika kita sampai pada lapis terakhir, kita menemukan kekosongan. Tak ada isi dalam umbi bernama bawang. Padahal, kita niscaya berharap itu. Isi dibalik bentuk umbi –bernama bawang.

Sebermula bawang. Kita sering menemukannya. Kita sering berurai air mata. Terendus aroma menusuk hidung. Bagaimana tidak. Ruang bagai makanan. Ruang dapat dibumbui sesuai tujuan pembuatnya. Ruang publik seperti jalan dibumbui baligo dan spanduk. Ruang virtual seperti internet dibumbui caption dan meme. Sampai-sampai, ruang privat kamar mandi, tempat kita bisa jujur dengan diri sendiri, pun ditempeli stiker.

Pelihatan, pendengaran, pencecapan, perabaan, dan perasaan kita menjadi sedemikian lumrah sehingga kita cukup berekpresi, “Oh, paling kayak gitu, lah!’ Hampir dapat dipastikan, alat peraga kampanye paslon Pilkada Kabupaten Tasikmalaya membumbui penginderaan kita. Suka tidak suka. Sengaja tidak sengaja. Sadar tidak sadar. Perhelatan pesta demokrasi ini akan membumbui pengideraan kita sampai minggu kedua Desember 2020. Dan, para pengepul terus menjual bawang-bawang tersebut. Berharap isi atas barang dagangannya.

Timses atau tim sukses. Bak pengepul bawang. Berlomba-lomba memproduksi alat peraga kampanye. Adu konsep visi. Adu kreativitas ruang kampanye di jagat nyata dan maya. Adu menarasikan paslon dengan ikonitas penampilan, seperti peci, sorban, dan berbagai gelar akademik dan keagamaan. Timses, seperti halnya mesin partai dan daya magis logistik finansial, bergerak menawarkan paslonnya untuk dipilih.

Sang pengepul sadar bahwa yang terpenting bawang mesti ditampilkan dalam keadaan segar. Yang diproduksi adalah aroma agar menjadi penyedap rasa. Lapisi dengan visi. Lapisi dengan desain peraga menarik. Lapisi dengan simbolitas emotif sesuai simpul generatif. Sebab, Sang Pengepul sangat sadar bahwa bawang bernilai karena lapis-lapisnya. Bukan isi.

Setelah usai pilkada, sebuah debat digagas oleh para pengepul. Pembicaranya Chairil dan Barthes.

Sebagai panitia sekaligus peserta, para pengepul bingung: mana yang mereka percayai. Pasalnya, Chairil menganggap bawang berisi dan memiliki makna, bahkan dapat dirontgen sampai ke tulang-tulangnya. Sementara Barthes, ia menganggap bawang takberisi, hanya lapis-lapis yang akhirnya, kosong.

12 Oktober 2020

Komentar

Jangan Lewatkan