Pertamakali Pentas, Asal Bisa Makan Kru Sinar Remaja Sudah Senang

  • Bagikan
Istimewa

SINAR itu cuma berkelap-kelip. Pendarannya baru mencapai radius lokal saja. Orkes Melayu Sinar Harapan (SH), memang, belum melangkah jauh. Manajemen belum digarap serius. Bermain di saat-saat senggang, sebagai pengusir rasa penat. Tak ada pikiran, untuk mendapatkan bayaran yang setimpal.

Saat itu Waskon dan kawan-kawan hanya berpikir bagaimana bisa bernyanyi dan dinikmati banyak orang. Sekitar tahun 1955, di Tasikmalaya kelompok orkes Melayu sangat jarang. Tentu saja kehadiran SH mendapat respon yang segar dari masyarakat.

Kalau ada keluarga yang mengadakan perhelatan nikah, mulai melirik Orkes Melayu Sinar Harapan. Tapi ya itulah. Waskon belum berani mematok harga. Seringkali si empunya hajat tak usah merogoh kocek terlalu dalam. Lantaran, para pengusung Sinar Harapan tidak menuntut banyak.

“Pendek kata asal dikasih makan, waktu itu sudah cukup,” kata Iwa menirukan ucapan Ayahnya ketika itu.

Kesederhanaan Waskon Waskendar yang memegang akordeon, didukung pula oleh kawan-kawannya yang lain — yakni Slamet pemegang bas betot, Dodo (tamborin), Hikmat Apeng (kendang), Saman (gitar copong), Onyon (suling), dan Anung (piul).

Baca Juga: Grup Dangdut dari Pabrik Sandal 

Rupanya, menghibur keluarga yang berpesta dan para tamu, dijadikan ajang untuk refreshing belaka. Kalau pertunjukan mereka mendapat sambutan yang hangat, Waskon sudah merasa cukup puas.

Mungkin, dengan begitu, secara tidak langsung promosi buat produk sandalnya. Karena, dalam pertunjukan itu akhirnya banyak yang tahu, para pemusik yang mereka tonton, umumnya para perajin sandal.

***

SAMPAI tahun 1957, penampilan Sinar Harapan masih sederhana. Perangkat musik yang digunakan belum menggunakan teknologi elektrik. Selama itu, mereka bermain dengan unpluged saja. Namun, tidak sampai mengurangi kualitas bermusik. Justru dengan kebersahajaan itu para penggemar diam-diam sudah mulai terbangun.

Malah, Sinar Harapan tidak terpaku pada personil tetapnya. Seringpula mengajak penonton ikut nabeuh, memainkan alat musik bersama mereka. “Kalau kebetulan ada personil yang berhalangan, tidak bisa ikut main,” ujar Iwa.

***

JIKA terpaku pada soal materi, menurut Iwa, tidak berimbang. Bisa dibayangkan, mau menuju lokasi hajat, sering ditempuh dengan jalan kaki. Mending, kalau tempatnya di sekitar rumah. Tapi kalau sudah lintas Kecamatan, jaraknya bisa belasan bahkan puluhan kilo.

Terpaksa, para personil, harus memanggul peralatannya sendiri-sendiri. “Kalau mau main, memang seperti itu. Alat-alat digembol masing-masing. Seperti orang yang mau ngungsi,” katanya.

Perjalanan itu cukup melelahkan. Selain tenaga tersita mengangkut barang bolak-balik, juga kadang-kadang terlibat membereskan panggung. “Namun saat itu sangat dinikmati, karena jadi banyak Saudara,” kata Iwa yang sering diajak Waskon dari panggung ke panggung.

“Saya pun merasakan kenikmatan itu. Pokona mah asal dibere dahar sudah senang,” katanya menandaskan.

  • Bagikan