BIROKRASI

Sektor Konstruksi Sumedang “Terhimpit” : Harga Material melambung tinggi

×

Sektor Konstruksi Sumedang “Terhimpit” : Harga Material melambung tinggi

Sebarkan artikel ini

SUMEDANG, KAPOL.ID – Eskalasi biaya operasional di sektor hulu pertambangan akhirnya mencapai titik didih. Salah satu perusahaan penyedia bahan material resmi mengumumkan penyesuaian tarif jual berbagai komoditas material bangunan, menyusul beban biaya produksi yang kian mencekik.

Kebijakan ini diambil sebagai respons atas melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar industri serta kenaikan harga suku cadang alat berat yang menjadi tulang punggung aktivitas penambangan.

Dalam keterangan resminya, manajemen menegaskan bahwa langkah ini bukan merupakan keputusan sepihak, melainkan tindak lanjut atas kesepakatan kolektif yang tertuang dalam Berita Acara Paguyuban Tambang Sumedang (PPTS). Fenomena ini menandakan adanya tekanan inflasi yang signifikan pada rantai pasok material konstruksi di wilayah Sumedang dan sekitarnya.

Lonjakan harga menyasar berbagai lini material unggulan. Berdasarkan daftar harga terbaru, Pasir Cor kini menyentuh angka Rp1.470.000 untuk armada Dump Truck, sementara pengiriman menggunakan Fuso Engkel dipatok sebesar Rp3.500.000. Komoditas lain seperti Split 2/3 dan Base Course A tercatat sebagai kategori dengan nilai tertinggi, yakni Rp1.570.000 per Dump Truck.

Ketimpangan harga ini merefleksikan tingginya biaya logistik dan ekstraksi yang harus ditanggung perusahaan demi menjaga keberlangsungan operasional di tengah ketidakpastian ekonomi sektor energi.

Namun, kebijakan ini bak simalakama bagi para pelaku usaha di tingkat hilir. Pantauan di lapangan menunjukkan keresahan mendalam di kalangan distributor dan pengecer. Salah satu pelaku usaha mengungkapkan kegundahannya mengenai sulitnya menjaga daya serap pasar, terutama bagi konsumen di sektor pertanian yang memiliki sensitivitas harga tinggi.

“Jika modal dari hulu sudah meroket, pada harga berapa kami harus menjual ke konsumen? Menjual ke kalangan petani saja sudah sangat menyulitkan,” keluh salah seorang distributor dalam sebuah pernyataan emosional yang beredar bersama pengumuman tersebut.

Kenaikan ini diprediksi akan memicu efek domino terhadap biaya pembangunan infrastruktur dan properti di daerah. Para pemangku kepentingan kini menanti kebijakan penyeimbang agar kenaikan harga material ini tidak melumpuhkan daya beli masyarakat dan menghambat target pembangunan di wilayah Sumedang. (Guh)***