Connect with us

SOSIAL

Sisa PSBB; Warga Cimahi Terdampar di Bantarkalong

|

Abdurazak (kiri), Ketua Lazis Muhammadiyah Kabupaten Tasikmalaya, meninjau kediaman sementara Kamal.

KAPOL.ID—Di Jawa Barat, cerita PSBB sudah berlalu sejak sepekan lalu. Tepatnya Jumat (26/6/2020). Tapi sisa-sisa dampaknya masih terasa bagi sebagian warga.

Salah satunya Kamal Darmawan. Pria kelahiran Bandung, 11 September 1986, ini terdampar di Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya.

Sejatinya, sebagaimana tercatat dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya, Kamal adalah warga Kp. Melong Nyontrol, Desa Melong, Kecamatan Cimahi Selatan.

Bersama keluarga, Kamal merantau ke Salaman, Magelang. Hampir empat tahun di Salaman, Kamal usaha kreditan. Sementara istrinya, Yuhana, sempat bekerja di warung nasi, sebagai pelayan.

Pandemi Covid-19 mewabah. Sektor perekonomian setengah lumpuh. Tak terkecuali bidang usaha yang Kamal jalani.

Kamal sekeluarga memutuskan untuk pulang. Bukan hanya karena usahanya yang lesu, tetapi juga untuk tujuan memperpanjang masa berlaku kartu identitas.

“Kami pulang dari Magelang ke Cimahi rombongan, sewa pick up,” terang Kamal.

Sialnya, Kamal memutuskan pulang saat PSBB tengah ketat-ketatnya. Sepanjang Megelang—Ciamis nyaris tanpa hambatan. Kendalaraan bisa tetap melanjutkan perjalanan.

Tiba di perbatasan Ciamis—Ciawi, petugas yang tergabung dalam Gugus Tugas Covid-19 memaksa rombongan untuk berputar arah. Kamal dan kawan-kawan harus kembali ke Magelang.

“Tapi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi dengan cara menyusuri jalur pantai selatan Jawa Barat,” lanjut Kamal.

Di perjalanan, rombongan beristirahat di Simpang, Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya. Yuhana teringat akan kakeknya, yang seingatnya, tinggal di Kp. Kebonkai, Parakanhonje, Bantarkalong.

Berbekal memori lawas Yuhana, serta pertimbangan besar kemungkinan tidak bisa sampai ke Cimahi, Kamal sekeluarga memutuskan untuk turun di Simpang.

Tanpa punya hand phone, Kamal beserta istri dan seorang anak belianya menyusuri jejak-jejak saudara di Kebonkai. Ternyata sang kakek sudah lama tiada. Bibi dan uwaknya juga entah di mana.

Tapi masih ada kerabat-kerabat kakeknya Yuhana. Mereka cukup humanis. Berlapang tangan menyambut mereka, hingga menyediakan tempat tinggal untuk sementara.

“Kami ngontrak. Tapi alakadarnya saja. Kalau kami punya uang, ya, bayar. Kalau enggak, yang punya tidak menekan. Karena masih kerabat,” aku Kamal lagi.

Lokasi kontrakan Kamal sekeluarga di depan kantor Koramil Karangnunggal. Sudah lebih-kurang dua bulan mereka di sana.

Kini PSBB telah usai. Aktivitas perekonomian masyarakat berangsur normal. Kamal sudah tak terpikirkan kembali ke Cimahi. Takut malah membebani keluarga.

Dalam upaya mencari solusi atas kehidupan keluarganya, Kamal mendatangi kantor Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah (Lazis) Muhammadiyah Kota Tasikmalaya.

Kamal tinggal di wilayah yang secara administratif tercatat di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. LazisMu Kota kemudian menyambungkannya ke LazisMu Kabupaten Tasikmalaya.

Ke Lazis, Kamal bukan untuk meminta. Melainkan menawarkan kerja sama pemberdayaan ekonomi umat. Sistemnya bagi hasil laba usaha. Ia punya pengalaman.

Lazis Muhammadiyah Kabupaten Tasikmalaya merespon dengan positif. Bantuan permodalan kemudian disiapkan.

“Semula kami mendorong usaha nasi uduk dan nasi kuning. Tapi, setelah meninjau ulang, jadinya usaha bakso bakar dan cilok goang,” terang Mamat Kohimat dari Lazis Muhammadiyah.

Abdurazak, Ketua Lazis Muhammadiyah Kabupaten Tasikmalaya telah meninjau kediaman sementara Kamal. Sekalibug menyalurkan bantuan peralatan masak.

Sementara itu, Kamal melakukan survai tempat usaha. Diputuskanlah, bahwa ia akan mulai usaha di halaman Alfamart Simpang, Bantarkalong.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *