KANAL

Tak Mau Mati Tergerus Zaman, PRSSNI Jabar Tabuh Genderang Transformasi Digital dari Priangan

×

Tak Mau Mati Tergerus Zaman, PRSSNI Jabar Tabuh Genderang Transformasi Digital dari Priangan

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Industri penyiaran radio kini sedang berada di persimpangan jalan. Kepungan platform digital yang kian masif tak pelak memaksa para punggawa radio untuk memutar otak. Pilihannya hanya dua: bertransformasi atau mati tergerus zaman.

​Menyikapi hal itu, Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat langsung mengambil langkah agresif. Mereka menggelar roadshow dan rapat koordinasi (rakor) wilayah sebagai bentuk konsolidasi sekaligus sinyal bahwa radio harus “siap tempur”

​Eksaminasi kesiapan anggota ini dimulai dari Wilayah Priangan yang meliputi Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran, Ciamis, dan Garut, bertempat di RM Nini Anteh, Kota Tasikmalaya, Rabu (15/4/2026).

​Ketua PRSSNI Jawa Barat, Joesoef Siregar menegaskan, pola siaran konvensional atau terestrial murni sudah tidak lagi sakti untuk menjawab tantangan zaman. Digitalisasi bukan lagi sekadar wacana di atas meja, melainkan napas baru yang harus dihirup setiap pengelola radio.

​“PRSSNI tidak bisa lagi hanya mengandalkan siaran terestrial seperti biasa. Kita harus berubah, mengikuti gerak teknologi yang berlari sangat cepat,” tegas Joesoef usai kegiatan.

​Ia mengaku semringah melihat respons para anggota di wilayah Priangan. Antusiasme yang muncul menjadi modal berharga bagi organisasi untuk melangkah ke arah digital secara kolektif.

​“Sinyalnya positif. Teman-teman siap melangkah bersama. Kita punya SDM yang mumpuni, dan saya optimistis langkah dari Jawa Barat ini akan menjadi kiblat nasional,” tambahnya

​Senada dengan Joesoef, Tim Research and Development PRSSNI Jabar, Suseno Brotokusumo menyebutkan bahwa ancaman platform digital adalah realitas yang harus dihadapi dengan strategi, bukan ketakutan.

​Menurutnya, integrasi radio ke dalam ekosistem streaming justru membuka pintu jangkauan yang tanpa batas. Radio yang tadinya hanya terdengar di frekuensi lokal, kini bisa menembus batas negara.

​“Kekuatan baru kita ada di sana. Dengan sistem digital, semuanya terukur. Jumlah pendengar hingga durasi mereka mendengarkan bisa dipantau secara akurat. Data ini yang akan kita tawarkan kepada pengiklan sebagai bukti bahwa radio tetap eksis dan kompetitif,” terang Suseno.

​Menanti Role Model dan Tantangan Modal
​Namun, jalan menuju digitalisasi bukan tanpa kerikil. Di lapangan, para pengelola radio daerah masih dihantui persoalan klasik: investasi dan model bisnis.

​Direktur Radio Sukapura FM Karangnunggal, Supratman, secara blak-blakan menyebut bahwa mengubah radio agar “bisa ditonton” memerlukan modal yang tidak sedikit. Mulai dari penyediaan kamera, renovasi studio, hingga penambahan SDM kreatif.

​“Kami di daerah butuh role model. Contoh nyata radio yang sudah sukses secara finansial setelah beralih ke digital. Tanpa model bisnis yang jelas, kami khawatir digitalisasi justru menjadi beban baru,” cetus Supratman.

​Kendati demikian, PRSSNI Jabar tetap mematok tahun 2026 sebagai tahun kebangkitan. Setelah Priangan, estafet roadshow akan berlanjut ke Cirebon (16 April), Sukabumi (22 April), dan berakhir di Karawang (23 April).

​Harapannya besar, seluruh anggota bisa terintegrasi dalam satu platform bersama sebagai pusat data dan kanal distribusi konten.

“Jika rencana ini berjalan mulus, radio di Jawa Barat diyakini akan menemukan kembali masa kejayaannya, namun dengan wajah yang lebih modern dan dinamis.” pungkasnya. (Jae)