BUDAYA

Soulkhal Karya, Ketika Karya Berbicara Lewat Bibir Pertunjukan

×

Soulkhal Karya, Ketika Karya Berbicara Lewat Bibir Pertunjukan

Sebarkan artikel ini
Salah seorang narasumber memberikan pemaparan “Soulkhal Karya: Ketika Karya Berbicara Lewat Bibir Pertunjukan” di SMA Islam Cipasung, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, pada Minggu (14/6/2026).*

KAPOL.ID –
Semangat gotong royong dalam membangun ekosistem seni pertunjukan kembali nyaring. Melalui kegiatan “Soulkhal Karya: Ketika Karya Berbicara Lewat Bibir Pertunjukan” di SMA Islam Cipasung, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, pada Minggu (14/6/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sanggar Seni Gama SMA Islam Cipasung. Setidaknya sekitar 154 peserta dari berbagai sanggar seni sekolah hadir.

Beberapa narasumber diantaranya, Asep Muharam, S.Sn seorang seniman yang lahir dari Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian Eki Naufal Antonius Fauzi, seninan lukis, Zoel Fahmi seni tari dan Cahya Muhamad Nur seni musik.

“Betapa pentingnya miniatur-miniatur pertunjukan di Kabupaten Tasikmalaya. Agar ekosistem seni pertunjukan dapat hidup di berbagai tempat dan memberikan dampak yang lebih luas,” kata Asep Muharan, salah seorang narasumber.

Sementara itu, Eki Naufal Antonius Fauzi memberikan pengalaman mengenai pentingnya berkarya di manapun dan apapun bidangnya.

Menurutnya, merawat perasaan sedih, gembira, sekaligus kebencian sangatlah penting.

“Sebagai upaya untuk melihat kedalaman diri, sesuatu hal yang harus diindahkan untuk menahan tindakan yang tidak diinginkan. Dan itu sangat membantu,” ujarnya.

Ketua panitia acara, Dzaky Faiq Al-Fatih mengatakan, Soulkhal Karya merupakan wadah pembekalan dan sosialisasi. Untuk memberikan infak pengetahuan dan wawasan mengenai bidang seni pertunjukan, menginspirasi generasi muda.

Dalam mengolah kreativitas sekaligus memberi ruang terhadap karyanya agar dapat didengar dengan bijaksana. Melalui program ini, sanggar seni dari berbagai sekolah membangun harapannya untuk menjalani proses kreatif.

Mulai dari membangun kapasitas artistik, kecakapan dalam berdialektika, hingga sampai mempertemukan karya-karyanya dihadapan publik yang lebih luas.

“Peserta berasal dari sanggar seni sekolah seperti SMAN 1 Cisayong, SMAN 1 Cigalontang. SMAN 1 Singaparna hingga sampai SMAN 8 Kota Tasikmalaya,” katanya.(Wawan Kurniawan)***