oleh

(Tetap) Berharap pada CPNS Baru

Syarif Thoyibi, S,Sos.,M.T.
Widyaiswara Muda BKPSDM Kabupaten Ciamis

Pengumuman hasil akhir seleksi penerimaan CPNS untuk berbagai Kementerian /Lembaga/Daerah secara serentak telah diumumkan. Perjuangan peserta seleksi ada yang berakhir bahagia dan ada pula yang kecewa. Ada yang lulus dan pasti ada yang tidak lulus. Dunia birokrasi seolah riang gembira akan kedatangan calon aparatur yang baru. Aparatur baru bisa diartikan pula semangat baru.

Birokrasi memang perlu banyak hal baru. Tata kelola SDM yang senantiasa adaptif terhadap perubahan baru. Perlu juga sumber daya manusia baru. Darah baru, pengungkit baru. Dinamika perubahan dalam berbagai bidang menuntut adanya aparatur yang cergas, cerdas dan gegas. Hal ini diperlukan agar proses bisnis birokrasi tidak terengah-engah di tengah gelombang disrupsi yang menghantam berbagai tugas dan fungsi kepemerintahan. Kolaborasi dan sinerja antara pengalaman dan kompetensi PNS eksisting dengan potensi, energi/semangat dan talenta PNS baru diharapkan bermuara pada birokrasi yang adaptif dan agile.

Tidak semua tugas dan fungsi pelayanan publik dapat dijawab sempurna oleh kehadiran teknologi informasi dan komunikasi ataupun implementasi konsep multi talent. Tetap banyak fungsi dan tugas yang memerlukan kehadiran banyak sumber daya manusia. Ketidakseimbangan antara jumlah PNS yang pensiun dengan jumlah CPNS yang diangkat di lingkup tenaga kependidikan dan kesehatan kalau tidak segera diatasi akan menjadi masalah serius pada beberapa tahun ke depan. Untuk itu ditengah kondisi keuangan negara yang kurang ideal, seleksi CPNS tetap dilakukan.

Profesi CPNS tetap menjadi idaman banyak orang. Apalagi di saat-saat seperti sekarang. Profesi ini konon menawarkan kepastian penghasilan dan jenjang karir. Adanya berbagai tunjangan termasuk pensiun dan kesehatan serta prestise tertentu membuat profesi ini semakin menarik minat bagi angkatan kerja. Tak mengherankan setiap ada rekrutmen CPNS akhir-akhir ini, total peserta selalu menyentuh angka jutaan. Data dari SSCASN BKN menunjukkan untuk Seleksi CPNS Tahun 2020 secara nasional sejumlah 4.197.218 calon peserta telah melakukan pendaftaran, dan sebanyak 3.364.897 telah lolos verifikasi administrasi.

Beberapa tahun terakhir mekanisme seleksi CPNS memakai sistem CAT (Computer Assisted Test). CAT adalah metode tes dalam seleksi CPNS dengan berbasis komputer dimana nilai yang diperoleh peserta dapat dimonitor langsung oleh pemangku kepentingan secara real time yaitu saat peserta mengerjakan soal dan usai tes. Dengan hadirnya CAT ini, diharapkan birokrasi akan mendapatkan sumber daya manusia yang profesional. Implementasi CAT adalah untuk mendapatkan standar minimal kompetensi dasar yang digunakan dalam seleksi CPNS. Melalui standar ini diharapkan dapat diperoleh PNS yang profesional, memiliki nilai dasar, dan etika profesi dalam melaksanakan tugas pelayanan publik, tugas pemerintahan, dan tugas pembangunan.

Sejatinya dengan metode CAT, probabilitas birokrasi untuk memperoleh input SDM yang berkualitas semakin besar. Pun sejatinya tanpa memakai CAT pun ketika seleksi CPNS prosesnya memenuhi kaidah dan nilai-nilai integritas, SDM unggul tetap akan terjaring. Ini penting dipahami agar tidak memandang PNS eksisting itu inferior dan PNS baru itu superior.

Nyatanya banyak PNS eksisting yang berdedikasi tinggi, disiplin yang mumpuni, dan berkinerja baik malah bisa dikatakan luar biasa. Kita boleh mengandalkan CAT, tapi sebagai produk manusia: ia bukan piranti yang tanpa cela. Banyak hal yang tidak dapat dipotret melalui CAT dari profil paripurna seorang manusia. CAT memang dapat menghitung tingkat wawasan kebangsaan, intelegensi umum, memetakan karakteristik pribadi dan mengukur kompensi bidang.

Tapi ia tidak bisa menilai mental spiritual, apalagi menjamin hasil dalam sebuah realita.
Namun harus diakui bahwa CAT adalah iktiar maksimal, terobosan yang berani dalam merekrut calon pelayan masyarakat untuk dunia birokrasi yang dinamik.

Bagaimanapun kita harus tetap berharap pada para CPNS baru dan para CPNS baru pun harus berusaha menjawab harapan itu. Setidaknya CPNS baru mempunyai modal dasar yang lebih dari cukup. Namun juga tidak boleh jumawa karena produk CAT, sebab dunia birokrasi itu bukan ruang vakum. Birokrasi memiliki kompleksitas, entitas-entitas stakeholder, sistem, budaya dan kekhasan tersendiri. Terakhir jangan sampai lagi ada atasan CPNS baru yang berujar,” Waktu ujian masuk nilainya tinggi-tinggi tapi ketika sudah bekerja biasa-biasa saja!”. ***

Komentar