BIROKRASI

Ketegangan di Genereh: Warga dan Subkontraktor ” Sandera” Mobilisasi Alat Berat Proyek Jalan Rp 36 Miliar

×

Ketegangan di Genereh: Warga dan Subkontraktor ” Sandera” Mobilisasi Alat Berat Proyek Jalan Rp 36 Miliar

Sebarkan artikel ini

SUMEDANG, KAPOL.ID – Proyek strategis Inpres Jalan Daerah (IJD) ruas Burujul – Sanca senilai Rp 36 miliar kini terancam mangkrak.

Proyek yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi masyarakat ini justru berubah menjadi panggung konflik terbuka. Warga Desa Genereh bersama para subkontraktor melakukan aksi penghadangan terhadap alat berat milik kontraktor utama, PT LI JESIN.

Ketegangan bermula saat ada orang yang mengatasnamakan dari PT LI JESIN berupaya memobilisasi alat berat keluar dari lokasi proyek,Selasa (21/4) dengan alasan relokasi ke pekerjaan lain. Namun, langkah ini dinilai warga dan mitra kerja sebagai upaya “cuci tangan” di tengah progres fisik jalan yang jalan di tempat selama satu bulan terakhir.

Bagi para subkontraktor yang terhimpit tunggakan pembayaran, alat berat yang terparkir bukan lagi sekadar alat kerja, melainkan jaminan terakhir.

“Kami tidak berniat menghalangi pekerjaan, namun aturan main harus tegak. Ada hak-hak yang belum diselesaikan kontraktor utama kepada kami. Alat ini adalah daya tawar terakhir sebelum semuanya menguap,” tegas salah satu perwakilan subkontraktor.

Sentimen serupa disuarakan oleh Warga Desa Genereh. Mereka menyoroti minimnya transparansi pengelolaan anggaran negara yang fantastis namun minim realisasi. Warga khawatir jika alat berat dibawa pergi, proyek Burujul – Sanca hanya akan menyisakan kerusakan jalan tanpa penyelesaian permanen.

Eskalasi yang sempat memanas berhasil diredam berkat intervensi cepat unsur pimpinan kecamatan (Forkopimcam). Camat Buahdua, H. Kiki Hakiki, S.Ag., MM, turun langsung ke lokasi bersama personel Babinsa dan Bhabinkamtibmas dari Desa Genereh serta Ciawitali untuk memediasi kedua belah pihak.

Babinsa Desa Ciawitali mengonfirmasi bahwa kemarahan warga dan wakil subkon dipicu oleh upaya pemindahan alat secara sepihak.

Hasil Sementara: Pihak pengelola alat memahami situasi dan membatalkan rencana penarikan alat berat dari lokasi.

Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT LI JESIN belum memberikan pernyataan resmi maupun solusi konkret terkait mandeknya proyek ini. Deretan ekskavator dan mesin penggilas yang kini dijaga ketat oleh warga menjadi simbol runtuhnya profesionalisme kontraktor di mata publik.

Masyarakat kini mendesak instansi terkait untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap proyek ini. Tujuannya jelas: agar anggaran puluhan miliar tersebut tidak berakhir menjadi “monumen kegagalan” pembangunan di wilayah Buahdua.Sumedang.***