KAPOL.ID – Transformasi radio di era digital mulai menarik perhatian industri advertising nasional. Hal itu terlihat saat Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Daerah Jawa Barat melakukan presentasi strategis di hadapan manajemen PT. Data Art Experience (DAX Indonesia), perusahaan data driven marketing yang bergerak di bidang teknologi audience dan digital advertising, Rabu (6/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, PRSSNI Jawa Barat memaparkan perubahan besar radio yang kini tidak lagi hanya dipandang sebagai media siaran konvensional, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem audience berbasis komunitas yang mampu mengintegrasikan kekuatan reach, engagement, data analytics, hingga distribusi multiplatform secara terukur.
Dalam pemaparannya, PRSSNI Jawa Barat menjelaskan bahwa kekuatan radio saat ini bertumpu pada tiga entitas utama yang saling terhubung. Pertama, siaran terestrial yang tetap memiliki kekuatan menjangkau massa secara cepat dan efektif di tingkat lokal.
Kedua, platform digital seperti streaming dan visual radio yang memungkinkan interaksi audience berlangsung secara real-time. Ketiga, media sosial yang memperluas distribusi konten radio melalui short video, live interaction, reels, hingga viral conversation.
Model tersebut dinilai menjadi jawaban atas perubahan perilaku audience di tengah era algoritma digital yang semakin kompetitif.
Presentasi itu mendapat perhatian serius dari jajaran DAX Indonesia, termasuk Managing Director PT Data Art Experience, Diena Prastiwi, yang mengaku optimistis terhadap masa depan radio setelah melihat transformasi yang kini dilakukan industri radio di Indonesia.
“Saya adalah bagian dari generasi yang besar bersama radio. Radio itu media yang menemani saya sejak remaja sampai sekarang. Memang kalau melihat tren, radio hari ini tidak seperti yang saya alami dulu. Tapi setelah berdiskusi dengan teman-teman PRSSNI Jawa Barat, saya melihat ada fondasi besar untuk membangun kembali radio menjadi lebih kuat lagi,” kata Diena.
“Yang saya diskusikan dengan PRSSNI hari ini adalah sesuatu yang dibutuhkan industri advertising saat ini. Radio sekarang sudah berevolusi. Tidak hanya bisa didengar, tapi juga bisa dilihat, ditonton, dan dinikmati dalam berbagai platform. Itu membuat kami di dunia advertising merasa sangat terbantu untuk menjangkau target audience yang lebih luas,” katanya lagi.
Menurut Diena, selama ini radio kerap dipersepsikan sebagai media lama yang mulai kehilangan relevansi. Namun transformasi digital yang kini dilakukan radio justru membuka optimisme baru bagi dunia usaha dan pemasaran nasional.
“Radio itu tidak hilang. Saya yakin radio tidak hilang, tapi berevolusi dan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih besar lagi,” tegasnya.
Ia menilai kekuatan utama radio justru terletak pada hubungan emosional dengan pendengar yang hingga kini masih bertahan, bahkan di kalangan generasi muda.
Diena mengungkapkan dirinya sempat menemukan fenomena menarik ketika bertemu sejumlah anak muda di Yogyakarta yang mendengarkan rekaman siaran radio melalui platform streaming musik digital.
“Mereka streaming Spotify, tapi yang didengarkan ternyata rekaman radio. Artinya koneksi emosional dengan radio itu masih ada. Saya kemudian berpikir, kalau rekaman saja masih dicari, bagaimana kalau itu live? Nah, hari ini saya merasa jawabannya mulai terlihat lewat transformasi radio yang dipaparkan PRSSNI Jabar,” ungkapnya.
PRSSNI Jawa Barat sendiri saat ini terus mendorong digitalisasi radio melalui penguatan streaming, visual radio, media sosial, hingga pengembangan dashboard analytics audience. Langkah tersebut dinilai penting agar radio mampu tetap relevan di tengah perubahan teknologi dan pola konsumsi media masyarakat.
Diena pun meyakini radio masih memiliki peluang besar menjadi mitra strategis dunia usaha dan industri pemasaran nasional, selama konsisten melakukan transformasi mengikuti perkembangan teknologi.
“Kalau perubahan ini dilakukan secara konsisten, bukan hanya di Jawa Barat tapi nasional, saya yakin banyak industri marketing akan kembali melihat radio sebagai potensi besar seperti dulu,” pungkasnya.***








