KANAL

Aplikasi Baru ‘Error’ dan Skor Anjlok, Komisi V DPRD Jabar Soroti Karut-marut SPMB Sekolah Maung

×

Aplikasi Baru ‘Error’ dan Skor Anjlok, Komisi V DPRD Jabar Soroti Karut-marut SPMB Sekolah Maung

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) –
​Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 41 SMA/SMK Sekolah Maung (Manusia Unggul) serta Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) reguler di Jawa Barat tahun 2026, menuai sorotan tajam.

Langkah Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar yang nekat mengganti sistem aplikasi baru justru dituding menjadi hulu dari karut-marutnya proses pendaftaran di lapangan.

​Kondisi tersebut memantik reaksi keras dari Komisi V DPRD Jawa Barat. Mereka menilai, peluncuran program prestisius ini terkesan dipaksakan tanpa persiapan matang, hingga memicu kepanikan di kalangan operator sekolah dan orang tua siswa.

​Ketua Komisi V DPRD Jabar, H. Yomanius Untung, menegaskan bahwa program Sekolah Maung merupakan program berorientasi kualitas yang digagas Gubernur. Oleh karena itu, jajaran birokrasi di bawahnya dilarang keras bermain-main atau bekerja secara sembrono.

​“Apalagi sekarang kita bertambah misi dengan adanya program Sekolah Maung. Bagi saya, ini adalah program yang sangat penting bagi keberlangsungan pendidikan berorientasi kualitas, jadi tidak boleh main-main,” tegas Untung, didampingi anggota Komisi V Mulyana Yusuf, usai menggelar pertemuan tertutup dengan Kepala Disdik Jabar, Purwanto, di Ruang Kadisdik Jabar, Jumat (5/6/2026).

​Berdasarkan investigasi lapangan dan tumpukan aduan masyarakat yang masuk ke meja legislatif, sedikitnya ada tiga dosa krusial yang mengemuka dalam pelaksanaan SPMB dan PCMB tahun ini.

​Aplikasi Baru Kerap ‘Error’ dan Bikin Bingung
​Untung mengaku kaget saat mengetahui Disdik Jabar mendadak mengganti sistem aplikasi pendaftaran yang berbeda total dari tahun-tahun sebelumnya. Pergantian sepihak ini dinilai ceroboh karena aplikasi lama yang sudah familier justru dibuang.

​Imbasnya, alih-alih mempercepat proses, aplikasi baru ini kerap error. Akar masalahnya ditengarai bukan pada kapasitas server, melainkan pada sistem aplikasinya itu sendiri. Banyak operator sekolah gelagapan karena belum mendapatkan pelatihan maksimal. Masalah kian pelik lantaran keterbatasan kapasitas handphone pendaftar saat mengunggah dokumen.

​Polemik lain yang membuat publik meradang adalah anjloknya skor nilai pendaftar secara drastis dalam sistem. Usut punya usut, fenomena ini terjadi akibat data nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) dari Pusdatin tidak terintegrasi secara serempak ke sistem Disdik.

​”Salah satu di antaranya karena skor rapor itu belum digabungkan dengan skor TKA. Mengapa anjlok? Bisa terjadi karena nilai TKA-nya tidak sebagus nilai rapornya, sehingga mengurangi nilai akhir,” beber Untung menjelaskan kebingungan para orang tua murid.

​Kelemahan Scoring Jalur Khusus
​Sistem penilaian (scoring) untuk jalur kepemimpinan dan prestasi non-akademik juga tak luput dari rapor merah. Jalur kepemimpinan dinilai kurang mendapatkan proteksi regulasi yang utuh, sehingga kerap tersingkir oleh jalur prestasi akademik.

​Lebih parah lagi, sempat terjadi malafungsi sistem pada aplikasi yang salah menarik data pada jalur kepemimpinan, sehingga nilai siswa otomatis tersunat hingga 50 poin.

Sementara untuk jalur prestasi non-akademik, sekolah dan Disdik dinilai masih lemah dan baru sebatas mendokumentasikan sertifikat tanpa verifikasi kualitas yang rigid.

​Menyikapi kekisruhan yang mulai menggelinding liar, Politisi Golkar ini meniup peluit peringatan keras kepada seluruh jajaran Disdik, Kantor Cabang Dinas (KCD), kepala sekolah, hingga dewan guru agar menjaga integritas.

​“Jangan sampai Disdik, KCD, kepala sekolah, dewan guru kemudian bocor dan menerima titipan. Jangan sampai! Ini pertaruhan program unggulan Pak Gubernur,” cetus Untung

​Ia juga meminta Disdik bertindak tegas memburu dokumen palsu sejak dini. Jangan sampai pembatalan atau diskualifikasi baru dilakukan saat siswa sudah telanjur diterima, karena hal itu akan memukul psikologis anak. Di sisi lain, para orang tua juga diimbau tidak menghalalkan segala cara demi ambisi memasukkan anak ke sekolah favorit

​Menutup keterangannya, Komisi V mengingatkan Disdik Jabar untuk bersiap menghadapi potensi lonjakan trafik yang diprediksi bakal membuat sistem hang (macet total) menjelang penutupan pendaftaran Sekolah Maung dan pengalihan ke sekolah reguler pada 8 Juni mendatang.

​Saat disinggung apakah sudah ada aroma “siswa titipan” yang terendus dewan hingga hari ini, Untung menjawabnya dengan diplomatis.

​“Saya belum mendapatkan informasi itu. Kalau titipannya terbuka, mungkin ketahuan,” pungkasnya. (Jae)