KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Kreativitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat seolah tidak pernah ada habisnya. Di tangan orang-orang kreatif, barang yang dianggap sampah dan tak bernilai ekonomis justru bisa disulap menjadi pundi-pundi rupiah.
Seperti yang dilakukan oleh Asep Sopandi, seorang perajin kreatif asal Bojonghuni, Kabupaten Ciamis. Lewat sentuhan magisnya dan bendera Revcycle Art, tumpukan koran bekas yang biasanya berakhir di tukang loak, kini menjelma menjadi aneka produk kerajinan bernilai seni tinggi dan sukses menembus pasar nasional.
Berkat ketekunan dan inovasi tiada henti, Asep berhasil melahirkan beragam produk kreatif. Mulai dari kotak tisu, tempat air mineral, jam dinding artistik, miniatur Rumah Gadang, hingga hiasan burung merak yang menawan.
Hebatnya lagi, karya-karya estetik ini kini nangkring rapi di Gerai UMKM Ciamis yang berlokasi di Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis. Gerai ini bukan sekadar ruang pamer, melainkan menjadi pusat promosi, wadah pendampingan usaha, sekaligus etalase hidup bagi potensi ekonomi kreatif masyarakat tatar galuh.
Selain kerajinan koran bekas, gerai ini juga menyuguhkan produk unggulan lokal lainnya. Mulai dari camilan khas, olahan batok kelapa, lukisan, hingga kriya kayu yang semuanya menunjukkan taji produk lokal Ciamis.
Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Kabupaten Ciamis, Wahyu Ghifary Setiawan menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen penuh memfasilitasi para pelaku usaha agar bisa naik kelas, terutama dalam memperluas jangkauan pasar.
“Gerai UMKM Ciamis ini kami harapkan menjadi etalase produk unggulan daerah. Tujuannya jelas, untuk mendongkrak daya saing dan memperluas jaringan pemasaran UMKM lokal,” ujar Wahyu, Sabtu (20/6/2026).
Upaya ini berbuah manis. Saat ini sudah ada puluhan produk lokal yang nampang di gerai tersebut, bahkan beberapa di antaranya sukses memikat hati konsumen dari berbagai pelosok negeri karena keunikan dan kualitasnya yang jempolan.
Ditemui terpisah, sang kreator Revcycle Art, Asep Sopandi membeberkan bahwa proses menyulap koran bekas menjadi barang estetik ini bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ketelitian ekstra dan kesabaran tingkat tinggi.
Prosesnya dimulai dari melinting koran menjadi gulungan-gulungan kecil, baru kemudian dirangkai sesuai bentuk yang diinginkan.
“Yang paling rumit itu bikin hiasan burung merak, proses pengerjaannya bisa memakan waktu sampai satu minggu,” aku Asep.
Asep menceritakan, ide ini muncul secara tidak sengaja saat ia melihat melimpahnya stok koran bekas di bank sampah.
“Kalau cuma dijual kiloan nilainya sangat kecil. Tapi setelah diolah jadi kerajinan begini, nilainya bisa berlipat-lipat gila-gilaan,” tambahnya
Tak berhenti di koran bekas, Asep juga mulai memanfaatkan galon plastik sekali pakai untuk diubah menjadi pot tanaman berkarakter hewan yang menggemaskan. Langkah ini tidak hanya mengurangi problem sampah visual di lingkungan, tapi juga menjadi ladang rezeki baru.
Kerennya lagi, usaha yang dirintis Asep ini juga membawa dampak sosial yang nyata. Ia sengaja melibatkan ibu-ibu rumah tangga (emak-emak) di sekitar tempat tinggalnya untuk membantu proses pelintingan koran.
Secara tidak langsung, gerakan ekonomi kreatif berbasis lingkungan ini berhasil memberikan penghasilan tambahan bagi warga sekitar
Lewat sinergi apik antara suntikan dukungan pemkab dan militansi inovasi dari para perajin, produk daur ulang dari Ciamis ini diharapkan bisa terus terbang tinggi mengepakkan sayapnya di pasar nasional, sekaligus menjadi bukti sahih bahwa sampah pun bisa jadi berkah jika dikelola dengan ide yang cerah. (AM)











