KANAL

KPID Jabar Ungkap Fakta, 86,5 Persen Gen Z Masih Menonton Televisi

×

KPID Jabar Ungkap Fakta, 86,5 Persen Gen Z Masih Menonton Televisi

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Di tengah derasnya arus media sosial dan platform digital, televisi dan radio ternyata belum ditinggalkan Generasi Z. Justru, media penyiaran konvensional masih menjadi sumber informasi yang dipercaya kalangan muda, terutama ketika ingin memastikan kebenaran sebuah informasi.

Fakta tersebut terungkap dalam hasil riset Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat yang dipaparkan dalam kegiatan literasi media bertajuk Beyond Broadcasting: Gen Z Content Trends di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unjani Cimahi, Jumat (10/7/2026).

Penelitian yang dilakukan KPID Jawa Barat bersama KPI, ISKI, Diskominfo Jawa Barat, dan Universitas Padjadjaran terhadap 601 responden Generasi Z berusia 15 hingga 24 tahun menunjukkan hampir seluruh responden aktif menggunakan internet dan media sosial.

Meski demikian, sebanyak 86,5 persen masih menonton televisi, sementara sekitar 56 persen tetap mendengarkan radio.
Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengatakan hasil penelitian tersebut mematahkan anggapan bahwa generasi muda telah sepenuhnya meninggalkan media penyiaran.

“Gen Z tidak meninggalkan televisi dan radio. Sebanyak 86,5 persen masih menonton televisi dan sekitar 56 persen masih mendengarkan radio. Tetapi memang media berbasis internet sudah menjadi media utama yang mereka gunakan,” ujarnya.

Menurut Adiyana, tingginya penggunaan internet bukan sekadar menunjukkan perubahan pola konsumsi informasi, tetapi juga membawa dampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan generasi muda.

Ia menyebut penetrasi media digital kini memengaruhi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, hingga kondisi psikologis penggunanya.

“Yang paling mengkhawatirkan hari ini adalah ketika cara berpikir masyarakat lebih banyak dipengaruhi algoritma platform global dibandingkan regulasi negara. Karena itu kita harus semakin kritis dalam menggunakan media digital,” katanya.

Ia juga mengingatkan berbagai tantangan yang menyertai perkembangan teknologi digital, mulai dari masuknya ideologi asing, penyebaran hoaks, ancaman terhadap keamanan data pribadi, hingga persoalan kesehatan mental akibat fenomena fear of missing out (FOMO), social comparison, dan ketergantungan terhadap media sosial.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Bayu Rakhmana, mengakui pemerintah daerah memiliki keterbatasan kewenangan dalam menangani konten digital yang melanggar aturan.

Menurutnya, pemerintah provinsi hanya dapat melaporkan konten bermasalah kepada pemerintah pusat agar dilakukan pemblokiran.

“Kami memang memiliki keterbatasan kewenangan. Yang bisa dilakukan adalah melaporkan kepada pemerintah pusat untuk dilakukan pemblokiran. Karena itu kami lebih fokus meningkatkan literasi digital melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya Generasi Z,” ujarnya.

Sekretaris KPID Jawa Barat, Gilang Iskandar, menilai hasil penelitian tersebut sekaligus menegaskan bahwa media penyiaran masih menjadi rujukan utama masyarakat ketika membutuhkan informasi yang kredibel.

“Temuan ini membuktikan bahwa data selama ini memang benar. Anak muda masih menonton televisi dan ketika ingin memastikan sebuah informasi, mereka tetap merujuk ke media mainstream karena proses jurnalistiknya jelas dan diawasi regulasi,” katanya.

Menurut Gilang, tantangan industri penyiaran saat ini bukan hanya perubahan perilaku masyarakat, tetapi juga belum seimbangnya regulasi antara media penyiaran dengan platform digital.

“Media penyiaran diatur sangat ketat, sementara platform digital hampir tidak memiliki aturan yang setara. Karena itu diperlukan penyempurnaan regulasi agar mampu menjawab perkembangan era konvergensi digital,” ujarnya.

Apresiasi terhadap riset tersebut juga disampaikan Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Atwar Bajari. Menurutnya, penelitian KPID Jawa Barat memberikan gambaran ilmiah mengenai perilaku bermedia Generasi Z sekaligus menjadi pijakan penting bagi dunia akademik maupun industri media.

“Saya mengapresiasi upaya ilmiah yang dilakukan KPID. Hasil penelitian ini menunjukkan media mainstream masih digunakan oleh Gen Z. Tantangan berikutnya adalah bagaimana media bertransformasi agar tetap relevan dengan karakter generasi muda yang serba cepat, ringkas, tetapi tetap membutuhkan informasi yang kredibel,” katanya.

Melalui kegiatan literasi media tersebut, KPID Jawa Barat berharap lahir generasi muda yang tidak hanya aktif mengonsumsi konten digital, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, beretika dalam bermedia, serta mampu menjadi kreator konten yang bertanggung jawab di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. (JM)