OPINI

Di Balik Perkembangan AI, Ada Teguran Dari Allah Untuk Hambanya

×

Di Balik Perkembangan AI, Ada Teguran Dari Allah Untuk Hambanya

Sebarkan artikel ini

Oleh Ilham Abdul Jabar
Dewan Guru di Pesantren Al-Hikmah Mugarsari Kota Tasikmalaya
Kader Muda NU Kota Tasikmalaya

Belakangan ini, linimasa kita tidak pernah sepi dari obrolan tentang Artificial Intelligence (AI). ChatGPT, Gemini, Claude. Dan berbagai model kecerdasan buatan lainnya dipuja-puja seolah mereka adalah entitas tanpa cela. Sebentar lagi akan mengambil alih peran manusia.

Ada semacam ketakutan massal (AI anxiety) bahwa mesin-mesin ini akan segera memiliki kesadaran dan meruntuhkan superioritas manusia.

Namun, saya justru melihat hal yang sebaliknya. Tren AI hari ini tidak sedang membuat saya takut. AI justru menjadi tamparan keras dan teguran dari tuhan untuk hamba-Nya. Bagaimana bisa ? Siapkan kopi untuk membacanya ya.

Puluhan tahun lalu, tepatnya pada 1936 Alan Turing seorang matematikawan terkemuka pernah merumuskan konsep Halting Problem. Sebuah pembuktian matematis yang menyatakan bahwa ada batas logis yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh mesin.

Di titik tertentu, komputer akan mengalami looping atau error ketika dihadapkan pada masalah yang tidak memiliki algoritma rasional. Komputer baru bisa berjalan jika perintahnya logis, ada input, ada proses hitam-putih (1 dan 0), lalu ada output.

Sialnya, belakangan ini banyak dari kita yang tanpa sadar sedang menginstal “sistem operasi” komputer ini dalam beragama. Muncul sebuah arus pemikiran modern yang mendewakan rasionalitas. Sebuah gejala “Mu’tazilah modern” atau materialisme sekuler yang bersembunyi di balik slogan, “Beragama itu harus logis!”. Mereka menolak hal-hal yang tidak bisa dicerna oleh nalar empiris. Mereka skeptis pada hal gaib, merasa tabu dengan konsep takdir, dan mulai mengikis hal-hal yang sifatnya intuitif.

Jika tren beragama semacam ini terus dipelihara, kita sedang mendegradasi derajat kemanusiaan menjadi sekadar komputer biologis. Kita baru mau tunduk pada Tuhan kalau ajarannya masuk akal. Kalau sudah begitu, di mana letak keimanan?

Ta’abbudi

Di sinilah indahnya menjadi kader Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Tradisi keilmuan ushul fiqh kita sudah memetakan batasan ini dengan sangat rapi melalui konsep Ta’aqquli dan Ta’abbudi. Memang ada wilayah Ta’aqquli yaitu ranah hukum yang illat (alasan)-nya bisa dinalar oleh akal manusia. Karena berkaitan dengan kemaslahatan sosial. Misalnya agama melarang judi karena merusak ekonomi, atau melarang minum khamar karena merusak kesadaran. Di ranah inilah akal manusia bekerja, dan di ranah ini pula mungkin Artificual Intelegen (AI) bisa setara dengan manusia.

Namun, intisari dari sebuah penghambaan (ubudiyah) justru terletak pada wilayah Ta’abbudi. Ini adalah wilayah murni dogma, perintah langsung dari Allah yang melampaui batas logika biner manusia. Mengapa salat Subuh dua rakaat? Mengapa tawaf harus berputar tujuh kali berlawanan arah jarum jam? Mengapa kita mencium Hajar Aswad yang merupakan sebuah batu?

Bagi logika kaku AI, perintah-perintah ta’abbudi ini adalah sebuah keanehan yang tidak efisien dan tidak logis. Mesin akan mengalami crash di wilayah ini. Karena tidak ada variabel matematika yang bisa menghitung nilai pahala atau getaran spiritual.

Bagi manusia yang utuh, di situlah puncak keindahan iman. Kita menaatinya bukan karena masuk akal, tapi karena kita sadar bahwa kapasitas “prosesor” akal kita yang makhluk ini terlalu kerdil untuk menjangkau dimensi sang Khaliq. Kita taat karena kita punya iman.

Qalb

Allah SWT tidak hanya membekali manusia dengan otak biologis untuk berlogika. Tetapi juga menganugerahi kita Latifah Rabbaniyyah yaitu unsur ruhani, ruh, dan qalb (hati). Sebagaimana yang sering diingatkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin-nya.

Untuk analogi, komputer tercanggih di dunia bisa saja membaca, menghafal, bahkan membedah struktur keindahan sastra seluruh ayat Al-Qur’an hanya dalam hitungan milidetik. Ia jauh lebih cepat dari ingatan para hafiz Quran sekalipun. Tetapi sampai kiamat kurang dua hari, komputer tidak akan pernah bisa menangis saat mendengar ayat tentang siksa neraka. Dan tidak akan pernah merasakan ketenangan (tumaninah) saat melafalkan zikir. Mesin memproses data, sementara dalam diri manusia ada proses kelanjutannya yaitu rasa (dzauq).

Singkatnya, kehadiran AI di era modern ini seharusnya tidak membuat kita inferior. AI hadir sebagai pengingat dari Allah agar kita buru-buru pulang ke hakikat kemanusiaan kita. AI membuktikan jika manusia beragama hanya mengandalkan kemampuan logika, kita sudah kalah telak oleh mesin seharga belasan juta rupiah.

Kelebihan mutlak kita sebagai manusia bukanlah kecepatan berpikir biner melainkan kapasitas ruhani untuk mencintai, merasakan ketulusan. Dan merunduk sujud pada hal-hal ghaib yang melampaui batas rasio.

Gunakan akal untuk menaklukkan dunia dan teknologi, tetapi sisakan dada kita sebagai tempat bersemayamnya ruhani. Yang kaya akan iman, rasa, dan kepasrahan mutlak kepada Allah Swt. Karena pada akhirnya, komputer hanya diciptakan untuk menghitung. Sedangkan manusia diciptakan untuk memahami dan menghamba. Wallahu a’lam.***