Program inklusi sendiri hanya akan merambah lima isu. Antara lain penurunan stunting, mencegah perkawinan anak, pemenuhan hak kesehatan seksual reproduksi, pemberdayaan ekonomi dan penguatan kepemimpinan perempuan. Isu-isu tersebut akan digarap menggunakan pendekatan gender, disabilitas dan inklusi sosial.
Dari sekian luas wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Aisyiyah hanya akan bergerak di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Singaparna, Cigalontang dan Sariwangi. Namun dorongannya akan sampai ke level desa.
Misalnya, Aisyiyah akan mendorong pemerintah desa supaya bisa melibatkan kaum disabilitas dalam pengambilan kebijakan. Atau, contoh lainnya, Puskesmas menyediakan layanan kesehatan ramah disabilitas sekaligus pendidikan kesehatan reproduksinya.
“Karena kadang pendidikan kesehatan reproduksi itu dianggap tabu. Tapi ternyata penting, karena jangan-jangan kaum disabilitas ini rawan mengalami kekerasan,” Hajar menandaskan.
Apresiasi Pemkab Tasikmalaya
Di pihak lain, Wakil Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin mengaku sangat mengapresiasi langkah Aisyiyah. Katanya, Aisyiyah telah menjadi jembatan untuk membangun masyarakat inklusif; terutama kali dalam menyentuh kaum difabel.
“Hari ini saya mendapat kalimat yang bagus dari Aisyiyah, ‘no one left behind, tidak boleh ada satu pun yang tertinggal’. Karena memang benar, seluruh rakyat Indonesia wajib mendapatkan haknya sebagai manusia. Mau yang miskin, difabel atau yang keterbelakangan mental,” ujar Cecep.









