Ali Rasyid Kecewa Pembangunan Gedung Pusat Kebudayaan Dibangun Asal-asalan

  • Bagikan

 

KAPOL. ID- Anggota DPRD Jawa Barat, Ali Rasyid kecewa melihat hasil pembangunan gedung pusat kebudayaan di Sumedang dan Subang dengan nilai  miliaran dibangun asal-asalan.

Anggaran dari dana Provinsi Jawa Barat tahun 2020 melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar untuk pembangunan gedung kebudayaan di Sumedang itu dibangun asal-asalan.

Juga anggaran tahun 2019 senilai Rp 6,2 miliar dari ajuan anggaran sebesar Rp 33 Miliar untuk gedung Kebudayaan di Subang terbengkalai dan tidak memberi manfaat bagi masyarakat. Gedung tersebut dibuant seperti kandang burung merpati dan jadi polemik di masyarakat Subang.

“Kami Komisi V baru tahu beberapa hari lalu makan nya kami tinjau ke lokasi pembangunan itu, tentu kita sangat prihatin melihat kondisinya dan akan kami tindaklanjuti,” kata Ali Rasyid

Ali Rasyid yang merupakan anggota komisi V DPRD Jabar itu meninju langsung kedua lokasi itu pada Selasa (26/1/2021).

Setelah melihat kedua bangunan tersebut, Ali Rasyid mengaku kecewa karena anggaran puluhan miliar tidak memberi dampak manfaat bagi masyarakat.

“Bangunan gedung Kebudayaan di Sumedang belum juga diresmikan sudah ambruk. Dan ternyata di Subang juga mengalami persoalan yang sama,” katanya.

Gedung Kebudayaan milik provinsi Jawa Barat yang ada di kawasan Hutan Kota Ranggawulung, Kabupaten Subang itu sempat menjadi perhatian para budayawan Subang.

Pembangunan gedung tersebut banyak menuai kritik dari para budayawan dan aktivis mahasiswa di Jawa Barat. Karena pembangunan gedung tersebut dibuat dari bambu dan seperti kandang burung merpati.

Diakui Ali Rasyid, banyak hal yang dipertanyakan pihak komisi V, baik dari awal desain kontruksi, penganggaran hingga pembangunan. Hingga akhirnya bisa menjadi gedung seperti sekarang ini.

“Yang saya tahu alokasi anggaran dari APBD mencapai Rp 33 Miliar. Sekarang dengan kondisi seperti ini baru terpakai Rp 6 Miliar. Dan parahnya gedung ini masih belum bisa difungsikan,” kata Ali.

Sedangkan luas lahan yang digunakan untuk gedung Kebudayaan tersebut mencapai empat hektare dan itu milik pemerintah. Namun hasilnya sangat tidak memuaskan malah kata warga seperti sarang burung merpati dan kerap dijadikan tempat mesum.

Harus Libatkan Seniman

Ali Rasyid menyarankan perencanaan pembangunan Kebudayaan harusnya melibatkan para seniman dan budayawan di daerah. Itu penting agar bangunan Kebudayaan bisa sesuai dengan keinginan masyarakat setempat dalam hal ini Seniman dan budayawan.

Jangan sampai bangunan yang dibiayai oleh pemerintah provinsi dengan nilai puluhan miliar sama sekali tidak memberi manfaat bagi masyarakat dan malah mangkrak tidak berfungsi.

“Mestinya para Seniman dan budayawan di daerah dilibatkan dalam proses perencanaan dan pembangunan gedung. Jadi ketika selesai dibangun bisa dimanfaatkan, ” Katanya.

Ali Rasyid mengaku akan memanggil dinas terkait dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat untuk membahas persoalan tersebut. Ini penting agar ke depan proses pembangunan itu bisa melibatkan para seniman dan budayawan.

 

  • Bagikan