Apa Kabar Pemuda?

  • Bagikan

Oleh Yasir Muharram Fauzi, S.HI., M.E.Sy
Dosen Ma’soem University
Pengurus Pemuda PUI Jawa Barat

Sumber daya manusia yang secara kemungkinan mempunyai siklus panjang rentang waktu hidup untuk masa depan dan menjadi penerus estafeta pengganti kepemimpinan sekarang.

Diantaranya diharapkan dari keterwakilan kader pemuda hari ini untuk menjadi calon pemimpin masa akan datang. Kalau kita menengok sejarah, sudah banyak tinta emas mencatat kesuksesan pemuda yang menjadi pemimpin dalam kancah organisasi dan peranannya masing-masing yang mumpuni dan membumi.

Sejarah mencatat dalam beberapa sambutan kongres-kongres Pemuda yang tergabung dalam Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) terjadi dinamika yang cukup positif dalam prosesnya. Diceritakan di berbagai sambutan dan uraian, Soegondo berharap dengan adanya kongres pemuda ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda.

Lalu ada uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Bidang pendidikan pun tak luput dari pembahasan di arena kongres tersebut.

Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada uraian berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal seperti ini yang dibutuhkan dalam perjuangan gerak langkah pemuda.

Hari sumpah pemuda merupakan hasil final dari serangkaian proses sekumpulan organisasi yang merumuskan konsep dalam sebuah kongres yang diselenggarakan dari tanggal 27-28 Oktober 1928. Wadah PPPI tersebut dihadiri oleh organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi.

Isi dari kongres tersebut menghasilkan tiga butir kesepakatan komitmen. Adapun ketiga butir tersebut berbunyi sebagai berikut:“Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra-Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.
Berbicara pemuda hari ini (dibaca; Pasca kemerdekaan dan kekinian), ada Komite Nasional Pemuda Indonesia atau disingkat KNPI yang merupakan wadah atau tempat berkumpulnya perwakilan-perwakilan kader pemuda Indonesia lintas organisasi.

Organisasi kepemudaan tersebut berangkat dari berbagai latarbelakang baik yang berlatarbelakang politik, suku, agama, ekonomi, kemahasiswaan, dan background-nya masing-masing bersatu dalam satu bingkaian dan wadah pemuda hari ini bernama Komite Nasional Pemuda Indonesia.

Lalu pertanyaan besarnya hari ini adalah bagaimana memaknai dan merefleksikan hari sumpah pemuda sebagai penerus peradaban agama dan bangsa?

Pertama, Pemuda sebagai pemimpin dimasa yang akan datang. Statement ini penting untuk dipegang dan dipikirkan bersama bahwa keberadaan pemuda hari ini agar tidak menjadi sampah masyarakat yang secara kuantitas banyak, tapi secara kualitas mempunyai peranan yang dangkal baik dari segi pemikiran, mengembangkan potensi diri dan keikutsertaan dalam membangun peradaban agama dan bangsa.

Tidak salah pepatah mengatakan “Syubbaanul Yaum, Rijaalul Ghaddi” yang artinya “pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa yang akan datang”. Tidak penting latar belakang keturunan, tidak penting latar belakang pendidikan, juga background yang lainnya.

Tapi yang terpenting adalah adanya pemahaman baik dalam diri maupun kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan yang akan datang akan diteruskan oleh estafeta pemuda hari ini dalam semua sendi kehidupan.

Kedua, menumbuhkan potensi diri sebagai agent of change/agen perubahan. Sejarah sudah membuktikan bahwa ditangan pemudalah peranan sebagai agen perubahan itu nampak pada gerak langkah yang masih kuat, daya pikir yang kritis, dan proses berpendidikan yang terus ditempuh, digali, dan diasah.

Dari kesemuanya itulah potensi diri akan muncul sehingga pemuda menjadi sumber daya manusia pendobrak perubahan dari sesuatu yang sifatnya statis kearah yang sifatnya dinamis.

Dalam konteks ke-lembaga-an ormas Islam, sudah banyak ormas Islam yang mempunyai organisasi kepemudaan masing-masing baik sudah menjadi badan otonom maupun masih badan semi otonom.

Di ormas Nahdlatul ‘Ulama yang lahir di Jawa Timur ada gerakan pemuda Ansor, lalu di Muhammadiyah yang lahir di Jawa Tengah ada Pemuda Muhammadiyah, di Persatuan Ummat Islam yang lahir di Jawa Barat ada Pemuda PUI, dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada ormas kepemudaan lainnya pun masih banyak.

Demikian pula secara perseorangan, tidak sedikit tokoh-tokoh muda (bisa dikatakan pemuda) yang hari ini sudah kelihatan bentuk karya nyatanya dalam bentuk potensi diri yang dimiliki. Ada pemuda yang bernama Belva Devara yang menciptakan aplikasi Ruang Guru dalam membantu proses pembelajaran bagi anak-anak sekolahan, dalam bidang kesehatan, ada dr. Gamal Albinsaid dengan klinik asuransi sampah dan bank sampahnya dalam membaktikan diri kepada masyarakat untuk pengobatan yang serba murah meriah yang secara ekonomi masuk pada kategori kurang beruntung.

Ketiga, Pemuda berkarakter independen. Didalam agama Islam, Salah satu Khulafa al-Rasyidin (khalifah yang empat; penerus Rasulullah Muhammad SAW) yakni Imam Ali Bin Abi Thalib pernah menyatakan semasa hidupnya dalam ungkapan: “Laisal Fataa Man Yaquulu Kaana Abii, Wa laakinnal Fataa Haa Huwa Anaa Dzaa” yang artinya kurang lebih: “Pemuda itu bukanlah yang mengatakan inilah bapak aku, akan tetapi pemuda itu yang mengatakan inilah aku”.

Dari pernyatan tersebut secara tersurat dan tersirat dapat difahami bahwa eksistensi pemuda itu terletak pada keberadaannya dalam sendi-sendi kehidupan yang ditopang oleh kemampuan jatidiri yang mumpuni tanpa adanya embel-embel apapun dari keturunan orangtuanya yang menjadikan silau diri, pongah dan bercongkak kaki dibawah tameng nama besar orang tua.

Keempat, Berjiwa patriot. Sang proklamator yang juga Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke satu yakni Soekarno atau sebutan yang familiar di hati rakyat namanya “Bung Karno” pernah menyebutkan dalam sebuah orasinya yang lantang, mempunyai ciri khas pekikan suara, dan berkarakter penyemangat pun pernah berucap: “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”.

Nampaknya perkataan patriotik dari Bung Karno tersebut sangat kentara sekali pengharapan dan motivasi beliau akan pentingnya peran pemuda dalam proses keberlangsungan perubahan zaman dengan berbagai gerak langkah pemuda yang masih dalam usia produktif, imajinatif, dan kerja kolektif.

Kelima, Pemuda harus punya lifeskill bukan hanya lifestyle. Semakin berkembangnya perubahan zaman menuntut persaingan dalam segala hal. Dengan kemajuan era komputer dan internet digital atau yang lebih dikenal dengan kemajuan industri 4.0, maka pemuda perlu membekali diri dengan dengan menggali, memahami, mengasah, dan melatih diri untuk mempunyai kemampuan diri melebihi kemampuan orang lain.

Dunia luas dan lapangan kerja hari ini tidak hanya melihat pada administrasi ijazah lulusan sekolah atau kuliah saja, akan tetapi harus dibarengi dengan kelebihan diri melampaui kemampuan orang lain dalam memaksimalkan potensi dirinya.

Kaitannya dengan lifestyle tentunya pemuda menjadi barometer objek dunia luas dalam mengembangkan lifestyle seperti kebiasaan dan tontonan dunia luar yang lainnya. Tidak sedikit pemuda hari ini mempunyai gaya hidup mengikuti tontonan gaya hidup dunia luar yang belum tentu sesuai dengan ajaran agama dan falsafah kehidupan bangsa Indonesia.

Gaya hidup dari dunia luar perlu disaring antara yang positif untuk diikuti dan harus ditinggalkan ketika bernuansa negatif. Gaya hidup berlebih-lebihan dalam selfie, bermain game online, berselancar di media sosial yang cenderung lupa waktu perlu disadari merupakan penggiringan gaya hidup yang mengarah kepada gaya hidup yang negatif.

Tidak ada yang salah dengan gaya hidup, sepanjang gaya hidup tersebut dibekali dengan kelebihan potensi diri yang memacu pada keseimbangan yang hakiki pada diri pemuda. Atas dasar itulah keduanya akan menjadi pasangan yang seiring sejalan untuk jadi bekal kehidupan pemuda dimasa yang akan datang.***

  • Bagikan