oleh

Menguatkan Jangkar Sumpah Pemuda dengan “Gadag” dan “Gidig”

KAPOL.ID – “Sumpah Kembali” menjadi tajuk utama refleksi HUT ke-92 Sumpah Pemuda yang digelar di Leuwi Cihanjuang, Pagerageung, Rabu (28/10/2020). Disandingkan dengan gerakan wisata yang diusung berbagai komunitas dengan mengedepankan gerakan “Tasik Ngajomantara”.

“Ajang ini dirangkaikan dengan agenda peringatan sejak pagi. Diawali dengan upacara, pengibaran bendera Merah Putih di udara oleh pilot paralayang, dan pertunjukan kesenian lokal,” ujar penggerak wisata, Abah Abuy.

Sawala budaya menghadirkan sastrawan Acep Zamzam Noor, esais Asep Salahudin, pegiat media Duddy RS, dipandu pengamat sosial politik, Asep Chahyanto. Suasana dirancang natural di sebuah saung.

Acep Zamzam Noor, memandang perbincangan di tengah sawah di objek wisata Leuwi Cihanjuang tentang bangsa dan negara sangat menarik.

“Di tengah sawah berbicara. Sangat imajinatif. Sumpah pemuda sesuatu yang sangat penting,” katanya.

Anak-anak muda ketika itu beberapa di antaranya penyair. Sebut saja Muh Yamin dan Sanusi Pane. Mereka mempunyai imajinasi. Sumpah Pemuda ditulis dalam bentuk sastra.

“Sumpah pemuda adalah puisi.
Mematangkan imajinasi tersebut menjadi sebuah negara bernama Indonesia,” katanya.

Bahasa Melayu disepakati sebagai bahasa pemersatu, karena menurut Acep, ketika itu sebagai lingua franca, bahasa perdagangan.

“Bergerak dari pulau ke pulau. Pengambilan bahasa Melayu itu melalui proses imajinasi yang luar biasa,” katanya seraya menandaskan para penyair turut berjuang dengan sastra.

“Saat ini para pemuda di tengah sawah menggelar sawala. Artinya mengingatkan pemuda sekarang jangan kehilangan imajinasi. Perjuangan ini belum selesai,” katanya.

Ditegaskan Asep Salahudin, saat ini kemurnian Sumpah Pemuda harus dikembalikan. Lantaran, dalam perkembangannya acap kali dimanfaatkan rezim untuk melegitimasi kepentingannya.

“Kita sepakat Sumpah Pemuda adalah jangkar yang meneguhkan nasionalisme kita,” katanya. Para pemuda mempercepat rute menuju nasionalisme dengan imajinatif.

Menurutnya, saat ini perbedaan kembali diungkit-ungkit. Jika tidak disikapi bisa mengancam persatuan yang telah dibangun. Lem perekat itu, kata Asep adalah bahasa dan Pancasila.

“Menguatkan jangkar persatuan,” katanya.

Sedangkan Duddy RS, memotret suasana sawala yang digelar sekelompok anak muda itu bisa menepis kekhawatiran. Ruang kreatif akan mempersatukan para pemuda.

“Abah Abuy, secara gamblang telah menafsirkan kembali Sumpah Pemuda dalam langkah nyata. Ruang kreatif yang mendorong pemuda menjadi ‘aya gadad’. Tentunya dibarengi dengan ‘gidig’,” katanya.

Komentar