Makna Gotong Royong dan Roh Sumpah Pemuda dalam Persamuhan Nasional

  • Bagikan
Kepala BPIP RI, Prof. Dr. Hariyono M.Pd didampingi Direktur Pembudayaan BPIP RI, Irene Camelyn Sinaga, M.Pd saat membuka Persamuhan Nasional di Anyer, Banten, Minggu (27/10/2019) | foto: @ianrakhmadi

ANYER, (KAPOL) – Pembukaan Persamuhan Nasional Pembakti Kampung diwarnai monolog aktor teater, Wawan Sofwan, merekontruksi Pidato 1 Juni Presiden Soekarno, Minggu (27/10/2019), di Marbella, Anyer Banten. Penampilan itu diapresiasi para peserta persamuhan dengan khidmat. Tanpa terkecuali, Kepala Badan Pembinaan Idelogi Pancasila (BPIP), Prof. Dr. Hariyono M.Pd.

“Pidato 1 Juni bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi merupakan transformasi sejarah. Sebelumnya belum menjadi satu bangsa. Tetapi masih merupakan suku-suku bangsa. Kini menjadi satu bangsa,” katanya.

Prof. Dr. Haryono memandang, Pidato 1 Juni itu dalam konteks transformasi nilai. Selama ini diakuinya, rakyatt jarang diajak untuk melihat Pidato 1 Juni ini sebagai sebuah transformasi dari masyarakat yang terpecah menjadi masyarakat yang satu. Dari masyarakat yang satu, menjadi masyarakat yang ingin maju.

“Jadi Pancasila tidak hanya sebagai media statis, pancasila alat pemersatu juga pancasila sebagai sebagai restart dinamis, bintang penuntun yang memberikan harapan agar kita menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur,” ujarnya.

BPIP, kata Prof. Hariyono mengucapkan terimakasih kepada pegiat-pegiat kampung, karena telah menjadi inspirasi, bagaimana mengamalkan Pancasila secara kontekstual. Tampak hadir dalam pembukaan Persamuhan Nasional itu Kepala Dinas Provinsi Banten, Neneng Nurcahyati. Sebelumnya, ditampilkan rampak bedug pimpinan seniman Banten, Rohendi.

Persamuhan Nasional pertama yang digelar di Anyer, Provinsi Banten, dihadiri delegasi 34 provinsi se-Indonesia. Ajang itu digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI sejak Sabtu (26/10/2019) sampai Rabu (30/10/2019).

Direktur Pembudayaan BPIP RI, Irene Camelyn Sinaga, mengajak agar para pembakti yang sudah melakukan kegiatan baik di seluruh pelosok tanah air membangun simpul jejaring. Persamuhan ini menurutnya mesi menjadi berkat bagi semua pembakti kampung.

“Menjadi berguna bagi diri kita. Bisa memahami kekurangan orang lain, bisa memberikan apresiasi terhadap kelebihan orang lain. Bisa saling melengkapi satu sama lain,” katanya seraya berterimakasih kepada seluruh peserta yang hadir, bisa menyempatkan waktu.

“Kami berterimakasih kepada Bapak dan Ibu. Menyempatkan hadir, memenuhi undangan kami. Walau pun dalam situasi yang sangat sempit, tetapi masih berkenan hadir. Meninggalkan segala pekerjaan, keluarga dan sebagainya, dengan satu niat yang tulus, demi mengingat berapa puluh tahun yang lalu, 28 Oktober 1928. Ada ikrar pemuda-pemuda Indonesia,” katanya.

Irene berharap, pada Persamuhan Nasional pertama ini kembali menyatukan ikrar mengikat rasa, mengikat batin menjadi satu. orang-orang yang mengerti makna dan roh gotong royong.

  • Bagikan