KAPOL.ID – Suasana di Rindam III/Siliwangi tampak berbeda dari biasanya. Selama tiga hari, sejak 17 hingga 19 April 2026, kawasan militer ini diserbu oleh seribu santri dari berbagai pondok pesantren di Jawa Barat dan Banten. Mereka hadir bukan untuk sekadar berkemah, melainkan mengikuti Kemah Bela Negara Kader Kadet Republik Indonesia (KKRI) Siliwangi Santri Camp (SSC)
Penutupan acara pada Minggu (19/4/2026) pun menyisakan haru sekaligus bangga. Para santri yang terbiasa dengan kitab kuning, kini tampak gagah dengan kedisiplinan ala militer, namun tetap tidak kehilangan jati dirinya sebagai penjaga gawang spiritual.
Kegiatan yang merupakan gagasan Pangdam III/Siliwangi bersama Ikatan Alumni Lemhannas PPRA Angkatan 62 ini, memang dirancang unik. Ada perpaduan apik antara penguatan mental ideologi negara dengan nafas keagamaan.
Sekretaris sekaligus Koordinator Humas SSC, Sulhan, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara tersebut. Menurutnya, antusiasme peserta sangat luar biasa dan semua materi tersampaikan dengan baik.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Keberhasilan ini tentu berkat dukungan semua pihak, termasuk para sponsor dan mitra yang telah membantu terselenggaranya acara ini,” ujar Sulhan usai upacara penutupan.
Tak sekadar latihan fisik, kepedulian sosial juga ditunjukkan dengan pembagian 1.500 paket bantuan bagi santri dan pendamping sebagai bentuk apresiasi dan kasih sayang kepada dunia pesantren.
Bu
SSC dipastikan tidak akan berhenti di titik seremonial saja. Ke depan, ada rencana besar untuk menggandeng Kementerian Pertanian dalam program ketahanan pangan berbasis pesantren. Harapannya, pesantren menjadi pilar mandiri dalam urusan pangan nasional.
Dukungan pun mengalir deras, salah satunya dari sektor perbankan. Kepala Cabang Induk Bank Artha Graha, Dewi Kasmara, yang hadir langsung di lokasi, mengaku terpukau dengan potensi para santri.
“Kami ingin hadir lebih dekat. Pembukaan 1.000 rekening santri ini baru langkah awal. Kedepan, kami akan jemput bola ke pesantren-pesantren untuk memberikan pendampingan sekaligus akses permodalan agar ekonomi pesantren semakin kuat,” tegas Dewi
Bagi para santri, tiga hari di Rindam adalah sekolah kehidupan. Mereka pulang membawa perspektif baru: bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman).
Di tengah gempuran zaman yang serba instan, Siliwangi Santri Camp menjadi oase bahwa membangun karakter bangsa memang butuh proses dan sentuhan empati. Santri tidak hanya dituntut cerdas mengaji, tapi juga harus tangguh menjaga kedaulatan NKRI. (Jae)












