KANAL  

Covid-19 di Pesantren Al-Furqon; Dua Kali Swab, 55 Orang Positif

Mudir (kepala) Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon, Uum Syarif Usman (kedua dari kanan) saat mengikuti rapat pengarahan dan peninjauan dengan tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: dok. Pesantren Al-Furqon)

KAPOL.ID—Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon mengonfirmasi kronologis puluhan santrinya terpapar Covid-19, Jumat (26/2/2021).

Wakil Mudir (Kepala) Pesantren Al-Furqon, Ali Ahmad Fauzi mengaku bahwa sekitar pekan pertama Februari 2021 pihaknya mendapati beberapa santri dengan keluhan hilang penciuman, demam, plu, dan pusing.

“Kami setiap hari melakukan pemeriksaan kesehatan. Misalnya pagi, sebelum masuk kelas, para santri ditanya merasakan sakit apa, gejalanya apa, dan sebagainya. Kami punya datanya, lengkap,” ujar Ali.

Pihak pesantren memeriksakan santrinya ke Puskesmas Tinewati. Pihak puskesmas menganjurkan untuk swab. Hasilnya, beberapa orang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Swab pertama tanggal 9 Feb 2021, sebanyak 16 orang. Santri putra empat orang, santri putri 10 orang, dan ustad dua orang. Yang positif 14 orang,” lanjutnya.

Pada Senin (15/2/2021) pihak pesantren menggelar rapat pengarahan dan peninjauan dengan tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya, di Puskesmas Tinewati.

Mudir Pesantren Al-Furqon, Uum Syarif Usman pada waktu melaporkan kejadian di pesantren. Termasuk penanganan terhadap mereka yang positif Covid-19.

“Dari yang 16 orang itu hanya satu orang santri menjalani isolasi di pesantren. Sisanya menjalani isolasi mandiri di tempat masing-masing. Santri dijemput pulang oleh keluarganya,” terang Uum.

Tim Gugus Tugas juga meminta pihak pesantren memberikan data dan nomor kontak orang-orang yang menjalani isolasi mandiri. Untuk kepentingan memudahkan koordinasi dan pemantauan.

Pada rapat itu pula, terang Uum lebih lanjut, pihak pesantren menerima beberapa arahan. Antara lain agar memilah santri menjadi tiga kategori: terkonfirmasi positif Covid-19, bergejala, dan tidak bergejala.

Selang tiga hari pascarapat, Kamis (18/2/2021), sebanyak 107 orang (pembina, karyawan, dan santri) menjalani swab. Hasilnya, sebanyak puluhan orang di antaranya terkonfirmasi positif.

“Jadi, total yang positif sebanyak 55 orang; terdiri dari 32 santri putra, 12 santri putri, empat ustadzah, dan dua karyawan,” lanjutnya.

Menimbang sikap pihak pesantren yang terbuka dan kooperatif terhadap tim Gugus Tugas, pesantren tidak diliburkan atau ditutup sementara. Tentu dengan berbagai penyesuaian kegiatan.

“Kami terus melaporkan informasi terbaru secara berkala terkait perkembangan Covid-19 kepada tim Gugus Tugas. Cara penanganan dan isolasi sudah mematuhi petunjuk resmi,” lanjutnya.

Selama beraktivitas, pesantren melakukan pengecekan kondisi kesehatan santri sebanyak dua kali sehari. Pagi dan sore. Yang merasakan gejala-gejala mengarah ke Covid-19, langsung dipindahkan ke zona bergejala.

Santri tanpa gejala beraktivitas seperti biasa di luar zona isolasi. Yang diisolasi mendapat pelayanan khusus. Seperti pemeriksaan serta mengobati gejalanya oleh dokter, pelayanan konsumsi, tambah nutrisi, dan keperluan lainnya.

“Pesantren juga mendapat dukungan pengawasan dan pemeriksaan dari dokter yang juga alumni pesantren. Sehingga pemantauan dokter lebih intensif,” lanjutnya.

Penerapan protokol kesehatan diperketat. Selain 5M, juga membatasi interaksi dengan lingkungan luar. Tidak boleh ada kunjungan orang tua, begitupun kedatangan pihak-pihak yang tidak berkepentingan mendesak.