oleh

Dari Pandemi Covid 19 ke Jalan Lain ke Kenormalan Baru

Oleh Nizar Machyuzaar

“Dulu kita masih remaja
Usia anak SMA
Di sekolah kita berjumpa
Pulang pasti kita bersama”

“Apa kabar Dilan dan Milea? Kalian tidak merasakan bagaimana hampir setengah tahun ini kami, peserta didik zaman now, tidak ke sekolah. Kalian tidak tahu jika kami rindu dengan keseriusan, canda, dan marah guru di kelas. Kami jenuh belajar di rumah. Bahkan, kami sudah bosan suara orang tua kami yang membimbing sampai memarahi kami karena malas belajar.”

Demikianlah hasil wawancara imajiner penulis dengan seorang murid yang juga imajiner. Murid tersebut menenteng sebuah novel berjudul Supernova karya Dewi Lestari. Judulnya mengingatkan penulis bukan pada teori supernova atau big bang tentang muasal alam raya, melainkan mengingatkan penulis pada supernova atau big bang tentang ihwal virus corona.

Layar Terkembang Bernama Kenormalah Baru
Sejak awal Januari 2020 penyakit yang disebabkan virus covid 19 merambah sampai ke Indonesia. Virus yang awalnya terdeteksi di Wuhan, China ini begitu mengerikan karena menyebar cepat sekali dan sampai sekarang belum ditemukan muasal dan antivirusnya.

Sedemikian cepat menyebar, virus ini menjadi pandemi di seluruh dunia. Korban yang terinfeksi mencapai jutaan jiwa dan korban yang meninggal di beberapa negara Eropa dan Amerika mencapai ratusan ribu.

Di Indonesia data per 9 September dari situs resmi pemerintah, jumlah orang yang terkonfirmasi virus ini mencapai 190 ribu jiwa dengan data sembuh lebih dari 142 ribu jiwa dan data meninggal lebih dari 8 ribu jiwa.

Untuk mengatasi pandemi ini, pemerintah membentuk Satgas Covid 19 dan Komite Penanganan Covid 19 yang lebih memfokuskan pada sektor kesehatan dan ekonomi yang sama-sama terdampak. Di dalam situs tersebut, data bersifat dinamis. Artinya, selalu ada penambahan data orang yang terjangkit (lagi) dan pengurangan data orang yang sembuh (lagi).

Belum lagi, kedinamisan data terinfeksi virus menjadi kompleks dengan kriteria (a) orang dalam pemantauan dan (b) orang tanpa gejala.

Bidang kesehatan bukan hanya menjadi leading sektor utama penanganan covid 19, melainkan juga bidang yang terdampak secara langsung. Selain itu, bidang ekonomi menyusul terdampak karena efek pembatasan sosial sebagai salah satu cara memutus rantai penyebaran pandemi. Jika bidang ekonomi terdampak, dengan semestinya bidang politik, ketahanan dan keamanan nasional, serta tata sosial dan budaya menjadi rentan.

Sebagai contoh, jika dicermati kedinamisan data di pusat informasi penanganan covid 19, kita semua akan sepakat bahwa grafiknya meningkat terus, apalagi jika di-scan dalam satuan minggu. Hari ini sebuah fortal berita digital melansir bahwa 50 negara melarang orang Indonesia masuk ke negaranya dengan alasan beragam.

Namun, hemat penulis, tentu alasan paling rasional adalah buruknya penanganan pandemi ini di Indonesia, terutama pascakenormalan baru, Layar terkembang sehingga Kita hidup berdampingan dan berdamai dengan covid 19.

Pendidikan sebagai Si Malin Kundang
Satu bidang yang takluput terdampak pandemi covid 19 adalah pendidikan. Kita semua sepakat bahwa cetak biru pembangunan nasional berpangkal dari pendidikan. Hal ini disadari oleh para pendiri bangsa ini. Hal ini jelas terpatri dalam Pembukaan UUD 1945, yakni “…. Ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.” Skala prioritas pembangunan berorientasi pada pembangunan pendidikan sebagai mesin pencetak sumber daya manusia unggul.

Masalahnya, selama pandemi covid 19 ini pendidikan diselenggarakan dalam kerangka penanganan pandemi. Proses atau kegiatan belajar-mengajar harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Konon, penyakit corona adalah penyakit kerumunan, kata seorang gubernur.

Sekolah adalah kerumunan. Sebuah sekolah yang memiliki 30 rombel bisa mencapai 1.000 orang. Jumlah ini belum termasuk tenaga pendidik dan nonpendidik yang ada di sekolah.

Sementara itu, bentuk keramaian lain seperti pasar tradisional atau modern, perkantoran, objek wisata, dan transportasi umum berjalan. Dengannya. roda ekonomi berputar dan diharapkan pulih. Mungkin akan lebih tergambar jika situs informasi penangan covid 19 juga menyertakan sebaran jumlah covid dalam satuan profesi, seperti, guru, pengemudi angkutan umum, pramusaji, dsb. Jadi, anasir pendidikan ditutup tidak hanya karena anak kecil rentan terinfeksi virus.

Syahdan, pendidikan berjalan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia. Literasi media menjadi prasyarat terselenggaranya pembelajaran, baik guru maupun murid. Guru tidak hanya menyiapkan administrasi pembelajaran, tetapi juga metode pembelajaran daring (online).

Murid tidak hanya pasif menerima materi belajar dari guru. Murid mencari dengan aktif sumber belajar yang melimpah, terutama dari internet dengan mesin pencari seperti google, mozila, dsb. berbagai aplikasi berkonten pembelajaran daring bermunculan.

PJJ bukan tanpa kendala. Pembelajaran tatap muka langsung tidak bisa digantikan PJJ sekalipun ada aplikasi tatap muka virtual. Di tingkat TK/PAUD dan SD, murid didampingi orang tua dalam proses belajar karena usia peserta didik notebene belum melek digital.

Takjarang, orang tua kewalahan karena ternyata mendampingi anak belajar tidak semudah yang dibayangkan. Hal ini tentu berbeda untuk tingkat SMP, SMA, PT. Peserta didik di tingkat ini sudah melek digital. Namun, sila pembaca coba bertanya kepada peserta didik, lebih baik belajar di rumah dengan daring atau belajar langsung tatap muka dengan guru. Hampir dapat dipastikan bahwa mereka rindu kelas dan suasana belajar tatap muka.

Ada hal menarik yang perlu dibahas dari PJJ masa pandemi ini. Prinsip pembelajaran mulai dari in put, proses, dan out put-nya. Secara serampangan, in put bisa dianggap modalitas pengetahuan yang dimiliki murid, proses dilakukan dengan PJJ, dan out put dilaksanakan dengan berbagai tes, ulangan, assessment, kuis, projek, portofolio, dsb.

Tentunya, guru pengampu mata pelajaran yang paling mengetahui tingkat ketercapaian atau ketuntasan materi ajar per individu. Sementara itu, untuk mengukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan, daerah, dan nasional perlu dilakukan.

Hemat penulis, pemerintah atau lembaga masyarakat yang berkepentingan dapat melakukan riset atasnya. Sebabnya, mengukur keberhasilan pendidikan menjadi penting karena pendidikan adalah pangkal pembangunan, selain memberadabkan manusia. Bila hasilnya ditemukan tidak efektif, beranikah kita semua mulai dari pemerintah, masyarakat, dan sektor pendidikan membuka kembali pembelajaran tatap muka?

Akhirnya, kita tidak ingin pendidikan bak Si Malin Kundang yang abai dengan adab dan mengkhianati induk semangnya, yakni masyarakat. Penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam berbangsa dan bernegara boleh dikatakan adalah produk pendidikan selama ini. Semua ini demi kenormalan baru generasi kita ke depan.
Mangkubumi, 9 September 2020

Nizar Machyuzaar
Sastra Indonesia Unpad
Mata Pelajar Indonesia, SST, Teter Ambang Wuruk, Gelanggang Sasindo Unpad
Menulis: Pikiran Rakyat. Kabar Priangan, dan beberapa fortal berita digital.
Karya: Buku Puisi Di Puncak Gunung Nun (2001)

Komentar